Sahabat Cantikku

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Sahabat Cantikku – Ia tahu parasnya cantik, ia sadar jarinya lentik, ia mengerti dirinya munafik.

Semua juga tahu ia cantik, tapi tidak seorang pun menyadari ia bukan perempuan.
Tidak seorang pun, kecuali dirinya dan… aku.

Bertahun-tahun di sisinya, menyaksikan perubahannya, aku takjub.
Betisnya dulu kekar, dipenuhi rambut kasar melingkar kesana kemari.
Pahanya dulu besar, bahkan dua lengan kurusku tidak ada apa-apanya.
Perutnya dulu bertahu, mulai dari sepasang, dua pasang, hingga tiga.
Dadanya dulu bidang, dengan mudah ototnya berdansa di kiri dan kanannya.
Lengannya dulu berisi, membuat sudut 90 derajat saja kesusahan.

Sekarang…?

Aku yang perempuan saja penasaran bagaimana ia bisa sesemampai itu.
Aku juga penasaran, kenapa aku mau-mau saja menunggunya mandi sampai selesai;
di dalam kamarnya, di atas kasurnya, ditemani beberapa mainan kesukaannya.
Karena inilah, ia munafik, masih munafik… atau mungkin takut?

Aku dan dia, pernah menjalin hubungan. Pikirmu bagaimana aku bisa tahu detail tubuhnya?
Hampir setiap hari dikunjunginya uterusku. Hingga suatu saat, ia menangis sejadi-jadinya
di hadapanku setelah sadar tidak lagi sanggup mengeraskan perangkatnya.
Memelukku erat, membasahi bahuku dengan air mata dan ingus, ia minta maaf; ia minta pengampunan
karena selama ini hanya memanfaatkanku untuk ‘menyembuhkan’ orientasinya yang orang bilang
menyimpang.

Iya, dia gay.

Bermaksud mempertahankan persahabatan, ia masih berada di orbitku.
Curhat, jalan berdua, makan siang bersama; semua normal, sampai hari ini.
Handphone-ku yang hampir seharian mogok bersuara itu, tiba-tiba berteriak minta dijamah.

  Menyetubuhi Tante Sendiri

“Halo?”
“Halo, makan siang yuk.” Ajaknya.
“Boleh, dimana?”
“Di resto T-back saja ya.”
“Oke.”

Sepuluh menit dengan secangkir kopi, mata ini hampir copot rasanya saat akhirnya menemukan
sosoknya di ambang pintu restoran. Lelaki itu cantik, super cantik, aku minder setengah mati dibuatnya.
Tidak ada sepasang mata pun yang tidak mengikuti pergerakannya menuju mejaku, semuanya terpana; aku juga.
Begitu ia mendudukkan diri di hadapanku, seluruh mata di restoran kembali ke tempatnya semula.

Ia tersenyum, manis.

Mau tak mau aku harus menunduk, pura-pura baca buku menu menyembunyikan merahnya pipi.
Sigap memesan orange juice, tak lama pula cairan oranye itu tandas sembari memperlihatkan
ekspresi gugup di baliknya. Bibirnya membuka dan menutup, belum bersuara. Pandangnya
bolak-balik ke arahku, ke meja, ke bartender dan kembali lagi padaku. Entah bagaimana
aku bisa tenang, menggapai tangannya, dan menularkan rasa itu padanya.

Ia bilang ingin tahu rasanya anal.
Ia bilang masih gugup menyerahkan diri pada laki-laki.
Ia bilang tidak ada orang lain lagi yang bisa membantunya.
Ia minta aku memperawaninya terlebih dulu.

“Kamu gila!?” Seruku tertahan.
“Please, please…” Pintanya berkaca-kaca.

Tidak ingin drama lebih lanjut, kubungkam mulutnya dengan ajakan diskusi di kamarnya saja.
Siapa tahu ia masih bisa berubah pikiran, siapa tahu ia bisa memberanikan diri, dan aku tidak
mau melihat make up-nya luntur di hadapan begitu banyak orang. Entah juga kalau ternyata
make up itu tahan air.artseks.com

And here I am, still ended up stuck with his toys.

Argumenku kalah dan aku harus menyerah, entah bagaimana nanti aku harus memainkan lubang pantatnya.
Apalagi selama ini ia yang justru bermain dalam uterusku. Demi setan, beri aku jalan.
Sayang doaku tak mempan, sosok telanjangnya sudah menapak mendekati kasur tempatku bertahan.
Ia membungkuk, digenggamnya kedua tanganku. Sambil tersenyum begitu tulus, ia berterima kasih padaku.

  Nikmatnya Partner Kerja

Astaga…

Aku merutuki nasib begitu ia berbaring, mengangkat kedua kakinya, dan memamerkan seluruh bagian vitalnya.
Dari semua lekuk tubuhnya, kukira cuma ini saja yang tidak banyak berubah. Tetap cokelat bak sawo,
tetap tercukur rapi, tetap lucu saat masih tertidur. Tanpa sadar aku terkikik, disusul sedikit erangan
protes darinya. Namun ia mengerti, dan ikut tertawa.

Kesadaranku akan tugasku kembali muncul saat diserahkannya sebatang tongkat bermotor, dengan kepala yang bisa bergetar hebat.
Bahkan aku tidak punya yang seperti ini. Perlahan menyusuri batang penisnya, naik turun;
menjelajahi testisnya kemudian, si lucu kini berubah gahar. Wajar bila jantungku sedikit berontak melihatnya.
Tak lama, aku diserahi dildo biasa yang sudah dilumuri pelumas olehnya. Canggung sekali.

Deg-degan tak karuan, tanganku pun gemetar berusaha memperawani lubang duburnya.
Menenangkan diri, mau tak mau aku harus membayangkan kalau itu lubangku sendiri; hanya lebih sempit,
tidak memproduksi pelumasnya sendiri, dan tidak bikin hamil. Lagipula posisi prostatnya juga mirip-mirip
G-spot.

Mendorong pelan, kudengar ia merintih, “You okay?” Cemasku.
“I’m fine… go on.” Pintanya.

Usahaku yang kedua kali berjalan cukup mulus, ujung kepala dildo warna hitam itu berhasil masuk tanpa rintih.
Kembali kudorong lembut hingga setengah jalan, entah syukur entah apa, suaranya terdengar nikmat sekarang.
Aku pun bernafas lega. Mengingat-ingat bagaimana ia dulu memperawaniku, kugerakkan dildo di tanganku
keluar masuk liang anusnya.

Perlahan, lembut, kemudian cepat, sedikit kasar sambil kuarahkan kepala dildo menuju prostatnya.


Di satu sisi, canggung memang. Namun, aku juga bangga, ternyata bisa juga menyenangkan pria seperti ini.
Melihat batang penisnya yang tak henti-henti berdenyut tiap kali pusat sensualnya terpijat.
Mendengar rintihnya bercampur erang kenikmatan, meliriknya menyentuh tubuhnya sendiri, menyaksikannya
menggenggam batangnya yang siap meledak. Nafasku memburu.

  Cerita Seks Rifah

“Ah!” Serunya singkat.

Ujung kepala penisnya meludahkan cairan putih yang entah sudah tersimpan berapa hari.
Sekali, dua kali, tiga kali, empat, lima, enam; ia tak lagi menyembur, hanya mengalir lemah.
Berbarengan menghembuskan nafas lega, ia berterima kasih padaku. Aku juga, dalam hati.
Lagi-lagi dengan senyum manisnya, ditariknya tanganku demi menandaskan sebuah kecup disana.
Aku pun membalas senyumnya, mengacak-acak rambut di kepalanya sambil berpikir untuk segera pulang
dan memuaskan diri secepat mungkin.

seksualitas

Komentar