Cerita Dewasa Nikmatnya Ngentot Tante Binal

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Dewasa Nikmatnya Ngentot Tante Binal – Hari ini Wina menerima telepon dari suaminya yang baru saja kembali di Jakarta.

Dari airport suaminya langsung menuju ke kantor, dalam perjalanan menuju ke kantor, ia menelepon Wina memberitahukan bahwa ia sudah berada di Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya, ia menjelaskan kepada istrinya bahwa kepulangannya memang mendadak karena ada pertemuan dengan kliennya di Jakarta.

Wina pun hanya mengiyakan saja tanpa memberikan komentar apapun, batinnya berkata ada di Jakarta ataupun tidak ada di Jakarta tidak ada pengaruhnya untuk dia, karena selama ini suaminya tidak pernah memberikan nafkah bathin untuknya, ia selalu mendapatkan nafkah bathin dari orang lain, jadi kalau suaminya di Jakarta malah membuat sulit Wina untuk melakukan aktivitas seksnya.

Rencana Wina hari ini untuk menikmati batang kemaluan kenalan barunya menjadi batal karena telepon suaminya tadi, sementara ia merasakan lubang vaginanya sudah gatal ingin digaruk oleh penis lelaki lain, tapi apa daya suaminya ada di Jakarta, Wina takut saat dia melakukan persetubuhan dengan kenalan barunya dan saat itu juga suaminya menelpon atau suaminya pulang lebih awal, bisa kacau nanti semuanya.

Akhirnya Wina membatalkan rencananya untuk pergi keluar pada hari ini, hatinya berkata biarlah akan kutunggu sampai suaminya pergi keluar kota lagi, baru kupuaskan dahaga bathinku ini.

Nikmatnya Ngentot Tante BinalSiangnya Wina betul-betul gelisah, dia betul-betul ingin sekali merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, karena menahan desakan hasrat birahinya, kedua pipinya memerah.

Wina saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga menonton TV tanpa sadar tangannya mulai mengusap-usap bibir vaginanya dari balik CDnya, saat itu Wina mengenakan baju model baby doll, roknya sedikit terangkat sehingga CD putihnya terlihat dan pahanya yang putih mulus pun terlihat dengan jelas, Wina yang sedang asyik masyuk tidak menyadari hal itu, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah batang kemaluan lelaki yang tegang dan besar.

Usapan tangannya di kelentitnya membuat vaginanya mulai basah, Wina mulai mendesah perlahan, menikmati belaian lembut tangannya di kelentit dan dibibir vaginanya, tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH silih berganti diremas-remas oleh tangan kirinya, ia membayangkan selingkuhannya sedang meremas-remas kedua payudaranya silih berganti dan ia juga membayangkan saat itu juga sedang dijilati kelentit dan vaginanya, vaginanya semakin basah, hasrat birahinya semakin memuncak.

Ruangan keluarga itu letaknya cukup berjauhan dengan dapur dan ruang makan, jika sedang berada di dapur atau di ruang makan kegiatan apapun yang terjadi di ruang keluarga tidak akan terlihat dari dapur atau ruang makan, begitu pula sebaliknya, dan para pembantunya bila sudah selesai bebenah di ruangan keluarga atau di ruangan lainnya, mereka akan berkumpul di ruangan mereka.

Ruangan itu terletak dekat dengan kamar mereka yaitu dekat dengan garasi mobil, jadi kegiatan Wina saat ini tidak ada satu orang pun yang melihatnya.

Gejolak birahi Wina semakin meningkat, desahannya semakin sering terdengar, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH sudah tidak tertutup apa-apa lagi, kedua putingnya sudah mengeras dan mencuat keluar, CDnya sudah melorot sampai paha, dan terlihat jari tengah tangan kanannya sudah berada dalam jepitan vaginanya, dan terlihat jari tengahnya sedang keluar masuk di lubang vaginanya, terlihat pantatnya naik-turun dari kursinya seiring dengan keluar masuk jari tengahnya.

Wina yang sedang berusaha keras untuk mencapai puncak birahinya tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang menyaksikan aksinya.

Kedua bola mata yang menyaksikan tingkah Wina itu terbelalak, jantungnya berdegup kencang nafasnya memburu, pemandangan yang disaksikan oleh pemilik kedua bola mata itu, yang dalam mimpinyapun tidak pernah terbayangkan olehnya.

Kedua payudara Wina yang setengah terbuka dan kelihatan kedua putingnya dan sedang diremas-remas bergantian oleh tangan kirinya, kemudian di bawah ia melihat belahan bibir vagina Wina yang kadang terlihat dan kadang tidak terlihat karena jari tengah tangan kanan Wina sedang keluar masuk di lubang vaginanya itu, semua itu membuat si empunya mata tersebut berkali-kali menelan ludah, seumur hidupnya belum pernah ia menyaksikan pemandangan indah seperti ini.

Si empunya mata merasakan penisnya mulai mengeras melihat semua itu, hampir tanpa berkedip kedua matanya tertuju ketubuh Wina, nafasnya semakin memburu melihat ulah Wina, tubuh Wina terlihat olehnya meregang-regang, penisnya semakin mengeras, terlihat celana pendeknya menggelembung oleh desakan penisnya yang seolah ingin keluar dari sekapan celana pendeknya, pada saat kepala Wina mendongak ke belakang, kedua matanya yang setengah terpejam menangkap sesosok tubuh si empunya mata tadi.

Wina sungguh kaget sekali karena ada orang yang sedang menyaksikan ulah liarnya tersebut, aksi liar kedua tangannya berhenti seketika.

“Ehhh, Rendi… addaaaaa… apaaa… sedaang apa kamuuu…,” Wina berkata dengan terengah-engah, kaget dan jengkel karena puncak birahinya tidak terlampiaskan.

“Eeehhh… aaanuuuu….. aaanuuu…bu…,” Rendi kaget mendengar teguran Wina, karena saat itu dirinya sedang asyik melihat aksi nyonyanya tersebut.

Biarpun kaget tapi kedua mata Rendi tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Wina yang masih agak terbuka, hal ini tidak Wina sadari karena ia kaget dengan kehadiran Rendi di ruangan tersebut, yang hanya Wina ingat lakukan saat ia berdiri dari kursinya tadi adalah CDnya yang ia benahi, sehingga saat ia berdiri berhadapan dengan Rendi kedua payudaranya yang putih mulus itu masih terpampang dengan jelas di hadapan Rendi.

“Anu.. anu apa,” Wina berkata kepada Rendi dengan jengkel, karena malu dan karena gejolak birahinya tidak terlampiaskan.

“Eeehhh… ini.. ini.., Bu. Sayaa… mau minta uang untuk beli bahan pembersih kolam, yang kita punya sudah habis,” Rendi menjawab agak tergagap-gagap, dengan kedua matanya tetap tertuju ke arah payudara Wina yang seolah-olah menantang ingin diremas.

“Pon, apa yang kamu lihat tadi, jangan sampai ada orang lain yang tahu, kalau sampai ada yang tahu, kamu saya pecat,” ancam Wina, dan saat itu kedua mata Wina melirik ke arah selangkangan Rendi, dan ia melihat tonjolan di celana pendek Rendi.

Rendi betul-betul merasa ketakutan dan merasa bersalah dengan kelakuannya yang melihat tubuh Wina yang setengah telanjang, tapi kedua matanya tidak pernah beranjak dari payudara Wina yang menggantung dengan indahnya, payudara Wina yang putih mulus dihiasi oleh kedua putingnya yang merah muda dan sudah menyembul keluar dan mengeras itu.

Setelah menimbang-nimbang dengan segala kemungkinannya, Wina pun mengambil keputusan untuk melakukan “quickie sex” dengan Rendi, lalu iapun memerintahkan Rendi untuk duduk di sofa. Wina tahu bahwa penis Rendi sudah pasti sedang berdiri dengan gagahnya di balik celana pendeknya itu.

Hati Wina mulai ragu antara ingin menikmati sodokan batang kemaluan lelaki dengan takut akan suaminya pulang lebih awal, ia melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut, pukul 13.30 siang, hatinya membatin suaminya tidak mungkin pulang cepat, ia bisa melakukan “quickie sex” dengan Rendi untuk meraih puncak kenikmatannya yang terganggu.

Akhirnya nafsu birahinya mengalahkan akal sehatnya, Wina pun mengambil keputusan untuk merasakan batang kemaluan Rendi mengaduk-aduk lubang vaginanya.

“Iyyaaa…Bu..saya sumpah tidak akan cerita ke orang lain,” jawab Rendi ketakutan.

“Duduk, kamu,” perintah Wina. Rendi menuruti perintah Wina untuk duduk, iapun duduk di sofa yang ditunjuk oleh Wina, dengan hati penuh kebingungan dan dengan tatapan mata yang tidak pernah terlepas dari payudara Wina.

“Ingat kamu jangan cerita kepada siapapun, cukup hanya kita berdua yang tahu masalah ini, hhhmmm ..,” ancam Wina kembali sambil berjalan menghampiri yang sudah duduk di sofa, tanpa membuang waktu Winapun mulai menurunkan celana pendek Rendi sampai ke lutut.

Batang kemaluan Rendi yang sudah tegang terangguk-angguk saat celana pendeknya terlepas, ternyata Rendi pada saat itu tidak mengenakan CD, Wina kaget karena ia tidak menyangka bahwa Rendi tidak mengenakan CD, penisnya yang sudah sangat tegang sekali teracung-acung di hadapannya.

“Ingat, Pon, apapun yang terjadi kamu jangan cerita kepada siapapun,” kembali Wina berkata.

“Iyaah.. bu… saaayyyaaa…. jaanji…,” jawab Rendi gagap, karena ia kaget akan aksi nyonyanya ini yang membuka celana pendeknya.

Ia sendiri bingung, dalam hatinya berkata apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, karena belum pernah selama ini ada perempuan yang melihat penisnya apalagi dalam keadaan tegang, Rendi pun merasa malu karena nyonyanya sudah melihat penisnya yang tegang itu.

Tangan kanan Wina segera meraih batang kemaluan Rendi, iapun segera mengangkang di atas pangkuan Rendi, sementara tangan kirinya meraih CDnya dan menarik salah satu pinggiran CDnya ke samping, sehingga belahan bibir vaginannya terlihat dengan jelas oleh Rendi, Rendi yang belum pernah melakukan hubungan badanpun dibuat bingung oleh aksi Wina, dan saat Wina mulai mengoles-oleskan kepala penisnya ke bibir vaginanya, Rendi merasakan geli yang aneh saat kepala penisnya bersentuhan dengan bibir vagina Wina, penisnya berdenyut-denyut.

Tanpa membuang waktu Wina segera menyelipkan batang kemaluan tersebut di bibir vaginanya dan ia mulai menekan pantatnya ke bawah dengan perlahan dan batang kemaluan Rendi perlahan-lahan menyeruak masuk di lubang vagina Wina.

Ssleeeepppp….. bleeessss…. bleeesss….. bleesss… Dengan perlahan-lahan penis Rendi mulai melesak masuk di lubang memek Wina dan akhirnya terbenam seluruhnya, Rendi merasakan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia alami selama ini, rasa geli yang aneh menyelimuti dirinya, saat penisnya terjepit dalam lubang vagina Wina, Rendi merasakan penisnya seperti ada yang meremas-remas.

“Ooouuuggghhhh…..,” Wina melenguh saat lubang memeknya diterobos oleh penisnya Rendi.

“Eeeeggghhhh……..,” Rendipun mengerang merasakan jepitan lubang vagina Wina di penisnya. Dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kepala sofa, Wina perlahan-lahan mulai bergerak, menaik turunkan pantatnya, kedua payudaranyapun terguncang naik turun seiring dengan naik turun pantatnya.

Rendi yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa melotot melihat kedua payudara Wina yang terombang-ambing di hadapan matanya.

“Aaagghhh… eenaaakkk… Ren, kaamuuu…jangan melongo.. saaaajjaa… ooogghhh… hisap kedduaaa… tetekku… remaaassss…. remaaasss…,” Wina mendesah keenakan. Rendi yang mendengar perintah Wina mulai melakukannya, kedua tangannya mulai meraih payudara Wina yang sedang terombang-ambing itu, lalu ia meremas kedua payudara tersebut, karena belum pernah ia melakukan hal tersebut, Wina merasakan remasan tangan Rendi di kedua payudaranya agak kasar, tapi sensasi yang ditimbulkan oleh remasan kasar tangan Rendi membuatnya merasakan hal baru, gairah birahinya yang sempat tertunda tadi mulai meningkat lagi.

Mulut Rendipun mulai bergantian menghisap-hisap kedua payudara Wina, hisapan-hisapan mulut Rendipun tidak beraturan, Rendi betul-betul menghisap tetek Wina seperti ia menyedot minuman, akibatnya Wina kembali merasakan sensasi yang berbeda daripada biasanya, hisapan-hisapan kuat Rendi pada kedua teteknya membuat ia menggelinjang, Winapun merasakan geli yang aneh di kedua payudaranya tersebut. Rendi yang belum pernah melakukan seks ini, merasakan kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan yang belum pernah ia alami selama ini, mulutnya mendesah-desah di tengah kesibukannya menghisap-hisap payudara Wina, matanya merem melek menikmati jepitan lubang vagina Wina pada penisnya, Rendi merasakan penisnya bergesekan dengan lubang vagina Wina, ia merasakan geli yang luar biasa, penisnya semakin berdenyut dengan kuat dan semakin menegang, Wina merasakan penis Rendi yang semakin mengeras.

Wina merasakan penis itu begitu tegang dan keras, dinding lubang vaginanya merasakan kekerasan penisnya Rendi tersebut, cairan birahinya semakin banyak bercampur dengan cairan birahi Rendi, akibatnya suara berdecak dari pertemuan dua kemaluan merekapun terdengar, menambah semangat Wina untuk menaik-turunkan pantatnya. Wina sudah lupa akan kemungkinan suaminya pulang cepat, yang ada sekarang ini Wina betul menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Rendi di vaginanya.

Tak lama berselang Rendi melenguh keras, penisnya berdenyut dengan keras, penisnya mulai menembakkan air maninya. Crreeeettt…. creeettt…. creeett……. air mani Rendi berhamburan keluar membasahi lubang vagina Wina.

“Ouuuuggghhh…. hhhmmmmmhhh…. sssllrrppppp… ssslrrrpppp…. hhhmmm…..,” Rendi melenguh merasakan letupan-letupan lahar kenikmatannya yang sedang mengalir dari penisnya membasahi vagina Wina sambil mulutnya tetap menghisap-hisap payudaranya.

Wina merasakan letupan-letupan air mani Rendi di dinding vaginanya, ia tahu Rendi sudah meraih puncak kenikmatannya, Winapun semakin gencar menaik turunkan pantatnya, ia merasa takut akan tidak berhasil meraih puncak kenikmatannya, karena penisnya Rendi sudah menyemburkan lahar kenikmatan, ia merasa takut bahwa sebentar lagi batang kemaluan Rendi akan melemas setelah menyemburkan cairan kenikmatan itu.

“Oouuugghh… aaagghhh…. ssshhhh.. aaagghhh… sssshhhh… aaaaghhhh….. ,” Wina mendesah keenakan merasakan lesakan batang kemaluan Rendi di vaginanya dan merasakan hangat di dinding vaginanya akibat semburan air mani Rendi.

Rendi merasa lemas saat penisnya menyemburkan tetes terakhir cairan kenikmatannya di lubang vagina Wina, tapi mulutnya masih tetap menghisap-hisap payudara Wina, penisnya masih berdenyut-denyut. Wina yang merasakan batang kemaluan Rendi tidak menyemburkan cairan kenikmatannya lagi, merasa kaget karena penisnya Rendi tidak mengalami perubahan, Wina merasakan penisnya Rendi masih keras dan tegang, biasanya batang kemaluan lelaki perlahan-lahan akan menciut setelah melepaskan cairan kenikmatannya, tapi tidak untuk penisnya Rendi, penisnya Rendi sudah berhenti mengeluarkan cairan kenikmatan tapi Wina masih merasakan keras dan tegang.

Rendi yang berhasil meraih puncak kenikmatannya, dalam sekejap sudah kembali pulih, perlahan-lahan gairah birahinya kembali bangkit, dengan semangat 45 hisapan dan remasan di payudara Wina semakin gencar, ia hanya merasakan sedikit ngilu di kepala penisnya, tapi lama-lama rasa ngilu itu hilang berganti dengan rasa nikmat.

Rendi memang belum berpengalaman dalam hal bersetubuh, tapi stamina tubuhnya terutama penisnya, betul-betul membuat takjub Wina. Winapun semakin gencar menaik-turunkan pantatnya, dari lubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan putih yang bercampur dengan cairan bening, cairan itu keluar seiring dengan keluar masuknya batang kemaluan Rendi di lubang vaginanya, lenguhan-lenguhan nikmat semakin sering terdengar dari mulut Wina, sementara dari mulut Rendi hanya terdengar dengusan-dengusan keenakan karena mulutnya masih sibuk dengan kedua payudara Wina.

Kedua manusia berlainan jenis ini sudah lupa dengan keadaan sekitarnya, yang mereka tahu hanyalah nikmatnya persetubuhan mereka ini, Winapun sudah tidak perduli akan kemungkinan suaminya pulang lebih cepat, yang ia perdulikan hanyalah meraih puncak kenikmatannya, yang ia perdulikan hanyalah penisnya Rendi yang sedang keluar masuk dalam lubang vaginanya.

Kedua sosok tubuh mereka sudah basah dengan keringat, nafas keduanya pun terdengar memburu, kedua mata mereka merem-melek menikmati persetubuhan mereka ini, mereka berdua sudah lupa akan status mereka.

“Oouughhh, Rendi…. kontolmu betul-betul enaaak…. kkoontollmu… keras sekali… oougghh… shhhh…. aaahh… sssshh.. aaaahhh…..,” Wina mengerang keenakan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan Rendi di lubang vaginanya, Wina merasakan batang kemaluan Rendi tegang dan keras seperti kayu saja layaknya.

“Hhmmm… ssllrrppp…. hhhmmmm… ssllrpppp….,” Rendi bergumam keenakan sambil mulutnya tetap sibuk menghisap tetek Wina.

Remasan tangan Rendi di payudara Winapun tidak pernah berhenti, tangannya meremas-remas kedua payudara Wina dengan agak kasar.

Winapun menggelinjang akibat hisapan-hisapan kuat mulut Rendi dan remasan-remasan kasar di payudaranya, sensasi yang agak sedikit kasar ini belum pernah dialami oleh Wina, kedua puting payudaranya semakin mencuat keluar dan keras, Wina semakin mengerang keenakan dibuatnya.

“Oouugghhh… aaaaaagghhh… hiisaaapp… Renn, hissaaappp… kuaaatt.. kuatt… yachhh… aaaghh… ssshhsss… oougghh.,” Wina mengerang-ngerang merasakan kerasnya hisapan mulut Rendi.

“Kaaammuuu… pernah melaakukaan ini.. Rennn….” tanya Wina tanpa menghentikan genjotan pantatnya.

“Beeelumm… sssrrrlppp… Bu,… ssslrrpp…,” jawab Rendi sambil asyik menghisap tetek Wina.

Tubuh Winapun berganti posisi dari setengah berjongkok sekarang posisinya duduk di atas pangkuan Rendi, sementara gerakkannya yang naik turun sekarang berganti dengan gerakkan maju mudur, kedua tangannyapun tidak berada di sandaran kepala sofa tetapi sekarang kedua tangannya sedang meremas-remas kepala Rendi yang sedang asyik bermain di kedua payudaranya.

Tali baju Wina pun sudah terlepas dari kedua pundak Wina, akibatnya kedua payudaranya sudah tidak terhalang oleh apapun, sehingga kedua tangan Rendipun bebas meremas-remas kedua payudara tersebut.

Rendi memang baru pertama kali ini melakukan hubungan seks, tapi karena usia Rendi yang masih sangat muda sehingga penisnya yang tadi sudah mengeluarkan sperma masih berdiri dengan gagahnya dan siap untuk bertempur kembali, yang kurang dari Rendi hanya pengalaman saja, tapi untuk Wina itu sudah cukup yang penting penisnya Rendi keras dan tegang dan bisa mengobrak-abrik lubang vaginanya yang haus akan batang kemaluan lelaki.

“Hhhhmmm… ssslrrppp… sssslrrppp… hhmmm….,” Rendi masih asyik dengan aksi hisapannya di payudara Wina, yang satu ia hisap yang satunya ia remas, kedua payudara Wina bergantian dihisap dan diremas.

“Ouuughh… aaaaghhhh… ssshh… eenaaakk… Renn… eennaaakk.. nikmaattt sekali… terus hisaaaapp… reeemaaass…. yaachhh… jangan berhentiiii… ouughhh.. aaaagghh…. kontooolllmuuu…. eenaaakkk… keeraaassss…….,” Wina merintih-rintih menikmati semua ini.

Gerakan maju mundur tubuh Wina semakin cepat, Wina merasakan kelentitnya geli-geli enak bergesekan dengan jembut Rendi, remasan tangannya di kepala Rendi semakin menjadi akibat hisapan dan remasan Rendi di kedua payudaranya.

Kepala Wina bergoyang ke kanan dan ke kiri, mulutnya merintih-rintih keenakan, matanya merem melek menikmati sensasi persetubuhan ini.

Tak lama berselang gerakan tubuh Wina mulai tidak beraturan, tubuhnya mulai mengejut-ngejut, nampaknya puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, tiba-tiba Wina menekan pantatnya ke belakang seolah-olah ia ingin penisnya Rendi masuk dengan biji pelernya di lubang vaginanya, dan… Sssrrrrr…… srrrrrrrr….. ssssrrr… Memeknya menyemburkan cairan kenikmatannya, cairan hangat itu menyiram batang kemaluan Rendi, Rendi merasakan penisnya menjadi hangat oleh siraman cairan kenikmatan Wina, Rendi juga merasakan dinding vagina Wina seolah meremas-remas penisnya.

“OOuuuggggghhh…. aakuuu…. keluuuarrr… Rennn, aaaakuuu… aaagghh.. enaakkk nikkmaaat…. aaagghhh….,” erang Wina menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh.

Tubuh Wina mengejang, gerakannya terhenti, tangannya meremas kepala Rendi dengan kuat, nafasnya tersengal-sengal, saat vaginanya meneteskan tetes terakhir dari cairan kenikmatannya, Winapun melenguh panjang, dinding vaginanya masih berkedut-kedut, yang dirasakan oleh Rendi seolah-olah meremas-remas penisnya.

Dengan nafas yang masih memburu, Winapun ambruk di atas pangkuan Rendi, Rendi hanya bisa diam, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, perlahan-lahan Wina membuka matanya lalu berkata,

“Kamu suudah keluar, Pon,” Tanya Wina.

“Belum, Bu,” jawab Rendi polos.

“Hhhmmmm kamu termasuk ayam pejantan juga,” Wina berkata dengan genit.

Dengan perlahan-lahan Wina mulai menggerakkan tubuhnya lagi, pantatnya ia maju mundurkan, sehingga batang kemaluan Rendi mulai kembali keluar masuk vagina Wina.

Sebetulnya Wina sudah merasa puas dengan pencapaian puncak kenikmatannya ini, tapi karena dia tahu bahwa Rendi belum berpengalaman, akhirnya ia mengambil keputusan untuk memuaskan penisnya Rendi sampai mengeluarkan cairan kenikmatannya lagi.

Rendi merasakan kembali penisnya keluar masuk vagina Wina, Wina bergerak dengan cepat, ia ingin cepat-cepat menuntaskan permainan ini, karena hasrat birahinya sudah terpenuhi dia mulai sedikit khawatir akan kedatangan suaminya, tubuhnya maju mundur dengan cepat, penisnya Rendipun akibatnya keluar masuk dengan sangat cepat, Blleeesssss…. sssrrrttt…. bleeeessss… ssrtttttt… blees sss…. sssrtttt….

Wina memaju mundurkan pantatnya dengan cepat, batang kemaluan Rendipun keluar masuk di lubang vagina Wina seiring dengan gerakan maju mundur, dengan gerakan Wina yang cepat ini membuat Rendi agak kesulitan menghisap payudara Wina, sehingga yang bisa ia lakukan hanya meremas-remas payudara tersebut, dan suara erangan Rendipun mulai terdengar jelas.

“Aaaaghhh…. ssshhhh… ooougghh…. sssshhh… enaaakk… Bu… eenaaakkk…,” Rendipun mengerang kenikmatan, merasakan jepitan memek Wina di penisnya.

“Ehhmmm… enaak… Renn… aaayoo… keluaaariinn… ceppaat…,” Winapun mendesah.

Tubuh Wina menghentak-hentak dengan cepat, goyangan pantatnya semakin bertambah cepat, batang kemaluan Rendi semakin mengeras jadinya, Wina merasakan batang kemaluan Rendi seperti batang kayu yang dimasukkan ke dalam vaginanya, seluruh dinding vaginanya merasakan kerasnya batang kemaluan Rendi tersebut, gairah birahinyapun menanjak dengan cepat.

“Ouughh… Renn.. Koontooollmmmu….. keeraasssss… seekaal liii… sssshhh… aaaggh nikmaaat betuulll… aaarrggghhh…. aaakkuuu… ingin teruuusss… merasakannyaaaa oooohhhhh…..” Wina merintih-rintih keenakan.

“Aaahhh… iiyaaaahh…. mmmmmm…. eeennaakkk…. ooohhh… punyaa…. ibuuu.. juga enaaaak….,” Rendi mengerang nikmat.

Wina sibuk dengan goyangan dan maju mundur pantatnya sementara Rendi sibuk dengan kedua belah tangannya yang meremas-remas kuat payudara Wina. Nafas mereka berduapun terdengar memburu, puncak pendakian kenikmatan mereka sudah mulai di ambang pintu.

Gerakan Winapun semakin menggila dan liar, rintihan-rintihannya semakin terdengar, erangan Rendipun semakin sering terdengar, suara rintihan dan erangan mereka terdengar bergantian, diselingi dengan suara decakan akibat beradunya kedua kemaluan mereka, lubang vagina Wina semakin banjir, batang kemaluan Rendipun semakin leluasa keluar masuk di lubang vagina Wina, tanpa hentinya Wina melenguh-lenguh keenakan.

Tubuh Winapun mulai bergerak tidak beraturan, tubuh Rendi mulai terlihat mengejang, otot-otot di tangannya terlihat, puncak pendakian kenikmatan mereka akhirnya berhasil mereka rengkuh, dengan sekali hentak Wina menekan dalam-dalam pantatnya.

Ccrreeeeetttt…. sssssrrrrrrr… ccreeetttt… creeeettttt… ssssrrrrrr….. Kemaluan mereka berdua secara bersamaan menyemprotkan lahar kenikmatan mereka.

“Ooouugghhh… akuuu.. keluaarrr.. lagiiii… aaaagghhh… enaakkk… nikmaattt…. kamuuu betul… betullll… perkaaassaaa…. Renn,” erang Wina menikmati puncak pendakian kenikmatannya yang kedua kalinya.

“Hhhhhmmm… aaaaahh.. ssshh… aaakuuu… jugaa…. keluaarrr… Buuu,” Rendipun melenguh keenakan.

Tubuh Winapun ambruk kembali di pangkuan Rendi, nafas keduanya terdengar memburu, perlahan-lahan batang kemaluan Rendi mulai mengecil dan terlepas dari jepitan memek Wina.

Seiring terlepasnya batang kemaluan Rendi dari lubang vagina Wina kemudian mengalir cairan putih bercampur dengan cairan bening dan jatuh ke paha Rendi.

Setelah nafas mereka kembali normal, Wina mengingatkan kembali ke Rendi untuk tidak menceritakan kejadian barusan kepada siapapun dan ia juga mengingatkan Rendi untuk kapanpun jika ia sedang ingin melakukan hubungan badan, Rendi harus siap.

Wina juga menambahkan agar Rendi bertingkah seperti biasanya saja, Rendi hanya mengiakan kehendak nyonyanya tersebut, Rendi berpikir alangkah bodohnya ia bila menceritakan hal tersebut ke orang lain yang bisa berakibat ia tidak dapat menikmati tubuh mulus nyonyanya lagi dan tidak bisa merasakan surga dunia.

Rendipun beranjak setelah mengenakan celananya menuju ke kamarnya, sementara Winapun merapikan pakaian dan CDnya beranjak ke kamarnya, Wina membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai mandi Wina mengambil daster satu tali yang mini, dalamannya ia hanya mengenakan CD saja tanpa BH, dan beranjak keluar kamarnya menuju ke ruangan keluarga dan menonton TV sambil menunggu kedatangan suaminya.

Tamat

seksualitas

Komentar