Lesbian Penjelajahan Seksualitas

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Lesbian Penjelajahan Seksualitas – Linda menghempaskan pantatnya di sofa lalu duduk bersila sambil menenggak air putih dari gelasnya.

“Udah selesai belum?” tanyanya pada Nani yang duduk di lantai mengerjakan soal-soal latihan matematika di meja ruang tamu rumah Linda.

“Dikit lagi kok,” jawab Nani tanpa mengangkat wajah dari buku-buku di depannya.

Linda mengamati wajah Nani yang serius menyelesaikan tugasnya. Walaupun berambut pendek cepak seperti lelaki, namun Nani tetap tak bisa menyembunyikan kecantikan wajahnya, yang ditunjang oleh tubuhnya yang langsing seksi dengan buah dada yang cukup besar, berkembang lebih cepat daripada para gadis kelas 1 SMP sebayanya.

Linda memang punya alasan tersendiri bersedia mengajari Nani matematika di rumahnya menjelang ulangan umum ini. Walaupun menjadi incaran banyak cowok di sekolahnya, tak satu pun mendapat respon dari Linda. Pasalnya gadis cantik berambut panjang yang baru saja berkembang remaja dan mulai mempunyai hasrat seksual ini ternyata tak tertarik kepada lawan jenis, ia lebih menyukai berdekatan dan bersentuhan dengan sesama jenisnya.

Penjelajahan SeksualSaat Nani, adik kelas yang memang sudah lama ia sukai ini meminta Linda yang memang terkenal paling pintar di antara murid-murid kelas 2 untuk mengajarinya matematika, Linda tak menyia-nyiakan kesempatan Nanis ini.

“Udah nih!” tukas Nani mendadak, menyentakkan Linda dari lamunannya. Linda menatap Nani yang mengacungkan buku di depannya sambil tersenyum, lesung pipitnya tercetak begitu dalam di pipinya yang putih mulus itu, membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan. Sambil menyambar buku itu, Linda membuang jauh-jauh pikirannya yang melayang ke mana-mana,

“Sini gue periksa!” tukasnya.

Hampir selesai Linda memeriksa pekerjaan “muridnya” ini ketika mendadak ibunya muncul di ruang tamu menjelaskan bahwa ia akan menyusul ayah Linda ke kantor sambil membawa adik Linda yang masih kecil, lalu dari sana langsung pergi ke Sukabumi karena ada saudara mereka yang sakit keras.

Linda diminta menjaga rumah baik-baik bersama Iroh, sang pembantu rumah tangga. Telah terdidik mandiri sejak kecil, Linda tak merasa berat dengan keadaan ini. Tak lama, ibu dan adiknya pergi naik taksi dan Linda pun menyelesaikan memeriksa latihan Nani.

“Lumayan, cuma satu yang salah. Lu cepet ngerti juga ya, Em?” kata Linda.

Nani tersenyum malu-malu mendengar pujian ini, lalu pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam.

“Eh, jangan dulu dong! Naning yang salah ini nggak mau dikoreksi dulu? Sekalian deh gue jelasin kesalahannya, biar lu ngerti,” kata Linda.

“Tapi entar gue pulang kemaleman, Lin,” jawab Nani bingung.

“Gini aja. Lu telepon aja nyokap lu. Bilang lu nginep di sini malem ini. Sekalian nemenin gue,” balas Linda.

Walaupun nada bicaranya biasa saja, dalam hati Linda sangat berharap Nani menyambut usulnya ini.

“Kalo dikasih, ye?” jawab Nani membuat Linda girang.

Nani yang mengagumi kakak kelasnya yang cantik dan pintar ini sebenarnya memang senang diajak menginap. Maka ia pun menelepon ke rumahnya dan ternyata diizinkan untuk menginap. Dengan gembira, Linda merangkul leher Nani, dan mengajaknya ke meja makan untuk makan malam. Lengannya jatuh dengan santai di dada Nani selagi mereka berjalan.

Walau tampak santai, sebenarnya Linda sangat berdebar-debar merasakan buah dada lembut adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya. Tapi apa lacur, jarak tak jauh membuat Linda terpaksa melepas rangkulannya. Selesai makan, mereka pun melanjutkan pelajaran dengan serius, hingga Linda pun melupakan sensasi gairah singkat yang sempat ia rasakan.

“Udeh dulu ye, Lin?” pinta Nani setelah sekitar 1,5 jam belajar,

“Otak gue udeh butek nih!” lanjutnya setengah memohon.

“Iya deh. Gue juga udah capek,” jawab Linda,

“Yuk ah!” katanya sambil berdiri membereskan buku-buku di meja makan. Mereka beranjak ke kamar Linda dan Nani langsung menghenyakkan tubuhnya di ranjang sementara Linda sendiri duduk di kursi meja belajarnya. Mereka mengobrol tak tentu arah beberapa saat ketika akhirnya arah obrolan entah kenapa mulai menyinggung ke arah yang sensitif.

“Ooh, jadi lu udah mens?” kata Linda, lalu dilanjutkan,

“Jadi udah doyan cowok dong?”

“Tapi gue masih males cari pacar. Cowok-cowok pada kasar sih! Nggak demen gue!” balas Nani.

Linda yang merasa mendapat angin langsung mengarahkan pembicaraan.

“Lha, gue kirain toket lu gede karena sering dipegang-pegang ama pacar lu.”

“Enggak lagi. Ini Naning dari sononya begini,” jawab Nani sambil menatap buah dadanya,

“Kayaknya sih Naning keturunan, keluarga gue yang cewek toketnya Naning gede-gede.”

Linda yang mulai berdebar-debar dengan arah pembicaraan ini merasa mendapat jalan dan terus menekan. Ia membuka kaosnya, menampilkan mini set menutupi buah dadanya yang kecil, walaupun tampak mulai tumbuh.

  Eliza - Horor di Ruang UKS

“Kayaknya toket gue nggak gede-gede deh,” ujarnya sambil meloloskan mini set dari dadanya, menampilkan putingnya yang berwarna coklat muda,

“Gue pengen segede punya lu, Em.” Nani terhenyak melihat kakak kelasnya dengan santai bertelanjang dada di depannya.

Seumur hidup ia belum pernah melihat wanita telanjang, bahkan ibunya sendiri.Linda melanjutkan serangannya.

“Coba deh lihat toket lu.”

Nani semakin terbelalak.

“ah, malu ah gue!”

“Idih, ngapain malu lagi! Kan nggak ada cowok,” tukas Linda,

“ayo buka aja.”

agak bingung namun bangga dengan perhatian sang kakak kelas, Nani pun akhirnya meloloskan kaos dari tubuhnya, menampilkan BH putih yang menyembunyikan buah dadanya. Linda beranjak ke ranjang dan duduk di belakang Nani, langsung meraih dan melepaskan kait BH Nani.


Wajah Nani bersemu merah, apalagi saat Linda melepas BH-nya lalu menarik lengannya, membalikkan badannya hingga kini mereka duduk berhadapan di ranjang, sama-sama bertelanjang dada.

Nani tertunduk sementara Linda merasakan darahnya berdesir menyaksikan pemandangan indah sepasang buah dada berukuran 32 di hadapannya ini. Linda menelan ludah berusaha mengendalikan pengalaman seksual pertamanya ini. Ia melihat wajah Nani yang menghindari kontak mata dengannya.

“Em, lu kok malu sih? Toket lu bagus lagi.”

Nani melirik Linda, “Segini sih kecil, Lin. Kakak gue pake BH nomor 36B.”

“Ya dia kan udah kuliah,” tukas Linda,

“Untuk usia lu, toket lu tuh udah gede.”

Wajah Nani semakin memerah dengan perasaan malu bercampur bangga akan pujian kakak kelasnya yang cantik ini. Sementara di lain pihak, Linda sendiri semakin berdebar-debar dan memberanikan diri melanjutkan eksperimen seksualnya. artseks.com

“Gue pegang, ya?” pinta Linda sambil menatap Nani. Gadis manis berambut cepak ini ternyata masih belum berani menatap Linda dan tak memberi jawaban apa-apa. Linda menganggap Nani tak menolak dan segera meraih dada adik kelasnya ini. Nani menggigit bibir.

“Hi hi hi hi hi..” Nani terkikik saat Linda mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar-debar,

“Geli, Lin!” lanjut Nani lagi.

“Gue mau ngerasain juga dong!” tukas Linda sambil meraih tangan Nani dan menuntunnya ke arah dadanya. Nani kembali menggigit bibir, namun tak memberikan perlawanan. Tangannya menyentuh puting Linda dan ia pun menggerakkan tangannya berputar-putar meraba buah dada Linda.

Nani terpesona saat ia melirik wajah kakak kelasnya ini dan tampak Linda memejamkan mata sambil menggigit bibir. Tampak sekali bahwa Linda sangat menikmati sentuhannya.

“Enak ya, Lin?” tanya Nani setengah bingung, Linda hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mata,

“Coba lu raba gue lagi dong,” pinta Nani penasaran. Kedua gadis itu pun saling meraba buah dada masing-masing beberapa saat. Tampak Linda sangat menikmati sensasi seksual pertamanya ini. Kulit telanjang mereka sama-sama tampak merinding.
Linda melepaskan tangannya dari dada Nani, lalu menghela napas panjang, menikmati dengan sepenuh hati rangsangan gairah pertamanya ini, sementara Nani kembali terkikik geli.

Linda bangkit dan menarik lengan Nani agar mengikutinya berdiri.

“Lu mau tahu nggak rasanya kalo pacaran ama cowok?” tanya Linda yang membuat Nani bingung tak mengerti. Linda melanjutkan,

“Gue juga belom pernah. Kita cobain yuk?!” Nani semakin tak paham maksud Linda, namun diam saja saat Linda membungkukkan badannya dan langsung mengulum puting Nani dengan lembut.


Nani tersentak dan sontak mundur sambil mendorong kepala Linda,

“Gila lu, Lin! Geli lagi! Lihat tuh gue sampe merinding!” tukas Nani menunjukkan seluruh kulit tubuhnya yang memang berbintik-bintik merinding. Tetap dalam posisi membungkuk, Linda melirik sang adik kelas sambil berkata,

“Namanya juga baru nyobain. Lu rasain aja dulu. Kata orang-orang enak.”

Linda merengkuh pinggang Nani dan menariknya mendekat, sementara Nani yang kebingungan dengan pengalaman pertama yang baginya sangat aneh ini tak kuasa melawan. Dengan jantung berdebar penuh perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata,

Linda kembali menempelkan bibir mungilnya yang basah itu pada puting Nani dan dengan lembut memasukkan puting berwarna gelap itu ke dalam mulutnya.

Ia mengulum puting Nani dengan lembut sementara Nani menggigit bibir menahan rasa geli hebat yang kembali membuat seluruh tubuhnya merinding. Tak lama hingga Nani merasakan rasa geli berubah menjadi perasaan berdesir yang tak ia pahami dan tak bisa ia jelaskan. Setiap hisapan Linda memberikan semacam perasaan tersetrum ringan yang nikmat dan lenguhan kecil terlepas dari bibirnya tanpa terkendali,

“Uhh..”

Terkesiap mendengar ini, Linda menghentikan hisapannya dan bangkit menatap Nani,

“Enak ya, Em?” tanyanya dengan polos dan tulus. Nani tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.

“Terus terang, gue juga suka banget ngisepin pentil lu,” lanjut Linda lagi,

“Gue nggak bisa jelasin perasaan gue, tapi pokoknya enak banget deh, terangsang banget.” Nani kembali hanya mengangguk tanpa bisa bicara. Kini Linda menarik lengan Nani dan mendudukkannya di pinggir ranjang, sementara ia sendiri berlutut di lantai,

  Cerita Seks 3 in 1

“Gue terusin ya?” katanya lembut.

Tanpa menunggu jawaban dari Nani, Linda langsung kembali mendaratkan bibirnya di puting adik kelasnya yang kebingungan itu dan kembali mengulumnya, kali ini dengan gairah yang semakin bergelora dalam dadanya sendiri. Dengan refleks, Linda mulai memainkan lidahnya pada puting Nani, membuat Nani terpekik tertahan sambil mendadak kedua tangannya mencengkeram kepala Linda.

Namun kali ini Nani tak mendorong Linda. Sebaliknya ia malah seperti menarik kepala Linda agar menghisap dan menjilati putingnya semakin keras. Linda sendiri sangat menikmati gairah yang semakin meledak-ledak dalam dirinya, ditambah reaksi Nani yang membuatnya semakin terangsang, hingga lidah dan bibirnya semakin liar menjilati dan menghisapi puting Nani.

“Ohh..” Nani mendesah tanpa ia sadari.

Linda pun melepas mulutnya dari buah dada Nani, membuat kekecewaan dan rasa terkejut terbersit di wajah Nani. “Gantian dong, Em,” kata Linda,

“Kayaknya lu nikmatin banget. Gue kan juga mau ngerasain,” lanjutnya dengan perasaan penuh pengharapan dan antisipasi. Nani tentunya memahami ini walaupun merasa sangat aneh harus menghisap buah dada sesama wanita, namun setelah ia merasakan kenikmatan dan rangsangan gairah yang baru kali ini ia rasakan, ia tahu Linda pasti akan merasakan kenikmatan yang sama. Maka kini Linda duduk di pinggir ranjang dan Nani, masih tetap duduk di pinggir ranjang, membungkukkan badan dan mulai mengulum dan menghisap puting Linda.

“Ngghh..” lenguhan Linda langsung meledak begitu bibir basah Nani menghisap putingnya yang kecil dan segar itu. Mata Linda terpejam rapat sementara darahnya menggelegak oleh rangsangan dan kenikmatan hebat yang baru kali ini ia rasakan. Tahu kakak kelasnya menikmati ini, Nani semakin rileks dan melanjutkan hisapan dan jilatannya pada puting Linda, bahkan semakin lama semakin liar dan ganas, membuat Linda terpaksa mencengkeram kepala Nani dan merintih-rintih menahan gairah,

“aaahh.. ahh.. Emm.. Enak Emm..”

Nani sendiri tak menyangka akan menikmati pengalaman ini, memeluk tubuh Linda dan semakin menjadi-jadi menghisapi puting Linda.

“Ohh.. ohh.. ohh.. stop.. stop.. stop dulu Em.. ohh.. Emm..” desah Linda. Bingung dan takut tindakannya salah hingga Linda tak lagi menikmati ini, Nani berhenti menjilati puting Linda dan menatap kakak kelasnya yang terengah-engah dengan wajah merah padam penuh birahi ini,

“Kenapa, Lin? Nggak enak, ya?” tanya Nani bingung.

“Gila lu! Nikmat banget lagi,” balas Linda,

“Cuma gue berasa aneh nih, Em. Kayaknya celana dalem gue makin basah deh.” Nani terbeliak semakin bingung mendengar itu.

“Mungkin saking nikmatnya gue kencing dikit di celana kali,” lanjut Linda sama-sama tak mengerti.

Linda langsung bangkit berdiri dan melepas celana pendeknya, lalu meraba celana dalamnya,

“Tuh kan! Bener basah!” tukasnya lalu ia mencium tangannya yang baru ia pakai meraba selangkangannya itu,

“Tapi bukan kencing nih, Em. Nggak pesing tuh!” ujar Linda yang dilanjutkannya dengan meloloskan celana dalamnya hingga kini ia benar-benar telanjang bulat berdiri di depan Nani. Linda memeriksa celana dalamnya dan mendapatkan sedikit lendir bening melekat di celana dalamnya.

“Ih, bener, bukan kencing, Em. Lendir nih!” tukas Linda sambil menengok ke arah Nani dan terkejut melihat Nani tampak duduk dengan gelisah sambil menggerak-gerakkan pahanya dengan mata tampak menerawang.

“Naah, lu juga basah ya, Em?” sentak Linda mengejutkan Nani! Serta merta Linda menarik lengan Nani hingga adik kelasnya ini berdiri di depannya, lalu dengan cepat Linda melorotkan celana pendek sekaligus celana dalam Nani yang masih terlalu kebingungan hingga tak melakukan perlawanan.

Linda menarik celana Nani lepas dari pergelangan kakinya lalu kembali berdiri dan menunjukkan lendir bening yang juga terdapat di bagian dalam celana dalam adik kelasnya yang cantik itu.

“Tuh lihat, lu juga keluar lendirnya, Em…” Nani hanya bengong sementara Linda semakin bergairah pada permainan seksual mereka yang ternyata berkembang jauh melebihi perkiraannya.

Dengan tinggi kurang lebih 160-an cm dan berat sekitar 45 kg, Linda dan Nani benar-benar tampak seperti sepasang gadis cilik, sama-sama telanjang bulat, berdiri berhadapan, menjelajahi pengalaman seksual pertama mereka yang membingungkan, namun menggairahkan sekaligus memberi kenikmatan hebat.

Linda melempar kedua celana dalam ke lantai sambil mengulurkan tangannya ke selangkangan Nani.

“Ngghh..” Nani melenguh panjang selagi setruman gairah hebat meledak dalam dirinya saat jari Linda menyentuh bibir vaginanya yang basah itu. Lututnya sontak terasa lemas dan kepalanya terasa ringan melayang. Melihat temannya limbung, Linda langsung merangkulnya dan menuntunnya kembali duduk di ranjang.

Linda sendiri duduk di samping Nani, merangkul pundak Nani dengan sebelah tangan lalu tangan satunya kembali melanjutkan meraba vagina Nani. Diiringi desah gairah Nani yang begitu merangsang di telinga sang kakak kelas, Linda menggosok-gosokkan jarinya dengan lembut di sepanjang bibir vagina Nani yang semakin lama tampak semakin merekah, menampilkan daging merah muda segar dan basah sang perawan cilik.

  Gairah Ibu Bella

“Hhh.. Lin.. ohh.. ngghh.. mmhh..”Linda semakin terangsang dan semakin berani.

Ujung jari tengahnya ia masukkan ke dalam vagina Nani dan ia gerakkan menggesek daging segar vagina Nani yang semakin lama semakin banyak mengeluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, hingga menyentuh klitoris Nani yang mulai mencuat. artseks.com

“Ngk! ahh..” Nani terpekik menggairahkan saat jari Linda mencapai klitorisnya. Linda terkejut namun semakin terangsang melihat reaksi nikmat sang adik kelas. Wajah menggemaskan Nani tampak semakin menggairahkan dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut Linda.

Mempertahankan kelembutan tekanannya, jari Linda semakin cepat menggesek vagina dan klitoris Nani, membuat Nani mendesah dan merintih tak terkendali.

“Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh..” Sementara vagina Linda sendiri semakin basah oleh lendir gairah, Linda semakin terangsang melihat kenikmatan yang jelas-jelas ditunjukkan Nani di wajahnya, ia pun semakin bergelora dan membungkukkan badannya dan kembali menjilati dan menghisap puting Nani dengan liar dan bernafsu.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Linn.. gillaa.. ohh.. ennak Lin.. mmhh..”

“Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp..”

“Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Linn.. oh.. oh.. oh.. oh..”

Desahan dan rintihan Nani yang dipenuhi kenikmatan semakin terdengar liar dan tak terkendali, sementara Linda yang semakin terangsang menggesekkan jarinya semakin liar di vagina perawan Nani dan lidah dan bibirnya melahap puting Nani dengan semakin bernafsu. Nani sendiri merasa gelombang kenikmatan memuncak dalam dirinya dan suatu perasaan seperti kesemutan merebak perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya.

Dengan nafas tersengal-sengal, Nani mencengkeram erat kepala Linda dan menekannya keras ke buah dadanya, lalu dalam suatu ledakan kenikmatan yang terasa bagaikan tak berujung, Nani memekik tertahan saat perasaan kesemutan dalam tubuhnya meledak menjadi setruman kenikmatan puncak yang membuat cairan kental tumpah deras dari dalam vaginanya, membasahi jari Linda yang masih liar menggesek-gesek vaginanya.

“aaakk!” pekik Nani sambil dengan refleks menjepit tangan Linda dengan kedua pahanya, sementara tangannya mencengkeram kepala Linda semakin keras dan kepalanya terdongak ke belakang dengan bola mata terputar ke belakang penuh kenikmatan. Linda yang berusaha menarik tangannya membuat jarinya kembali menggesek vagina Nani dari bawah ke atas dengan gerakan sangat pelan, membuat Nani kembali menikmati ledakan-ledakan kenikmatan yang terasa tak kunjung habis, memaksanya menggigit bibirnya.

akhirnya tangan Linda lepas dari jepitan paha Nani disertai lenguhan panjang Nani yang mengakhiri kenikmatan puncak orgasme pertamanya,

“Ohh..” Linda menatap penuh rasa terpesona dan bergairah saat Nani ambruk terlentang di kasur dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah. Ia menyusul berbaring di samping Nani dan memeluk tubuh sang adik kelas, langsung dibalas pelukan erat Nani yang sangat menikmati pengalaman seksual indah ini. Keduanya berpelukan erat, saling menikmati kenyamanan kehangatan tubuh yang lain.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling melepas pelukan dan Nani tersenyum menatap mata Linda. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam tersorot jelas dari mata Nani. Linda memahami perasaan ini dan mengecup bibir Nani dengan lembut. Mereka lalu terkikik geli bersama-sama, lalu kembali saling berpelukan erat dan Nani berbisik di telinga Linda,

“Lin, gue nggak ngerti perasaan gue saat ini. Tapi rasanya gue nggak mau pisah dari elu. Gue rasanya sayaang banget ama elu.”

Linda tersenyum dan membalas bisikan sang adik kelas,

“Gue juga sayang banget ama elu, Em. Lu jadi pacar gue aja, ya?” Walaupun tak pernah terpikir akan berpacaran dengan sesama wanita, namun Nani tak bisa memungkiri perasaannya saat ini,

“Iya, Lin. Gue mau jadi pacar elu. Gue cinta ama elu.” Mereka melanjutkan berpelukan erat dan hangat selama beberapa saat, lalu Nani melepas pelukannya dan berkata pada Linda.

“Gila, Lin. Lu bikin gue nikmat banget. Sekarang gantian ya, gue yang raba elu?”

“Iya dong, gue juga mau ngerasain kayak elu. Tapi jari lu jangan dimasukin ya? Kayak gue aja tadi, digesek-gesek aja. Gue takut keperawanan gue sobek,” balas Linda.

Nani hanya mengangguk dan tetap dalam posisi rebahan, ia membuka paha Linda hingga mengangkang lebar, membuka vagina mudanya yang segar merekah, lalu mulai meraba-rabanya dengan jari tengahnya. Tak memakan waktu lama bagi vagina Linda untuk kembali basah penuh lendir gairah, apalagi saat Nani mendaratkan bibir dan lidahnya, mempermainkan puting Linda yang mungil itu. Desahan dan rintihan Linda pun akhirnya meledak menjadi pekikan penuh kenikmatan saat orgasme yang liar dan lama, seperti yang dinikmati Nani, bergejolak dalam tubuh mungil Linda.

Dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, Linda dan Nani berpelukan mesra dan penuh kasih sayang, hingga akhirnya mereka tertidur pulas hingga pagi.

Tamat

seksualitas

Komentar