Cerita Seks Iparku Yang Mengajak

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Iparku Yang Mengajak – Adegan dalam rekman video ini sungguh sangat membuatku shock, mulutku terbuka melongo. Aku merasa seperti orang dungu yg ditendang tepat diselangkangan.

Apa yg terpampang dalam layer TV adalah rekaman isteriku dengan suami adik iparku. Dan mereka tengah bersetubuh.

Aku tak bias mempercayainya! Tdk hanya kenyataan bahwa isteriku yg menghianatiku, tapi juga dia melakukannya dengan Bob, suami dari adiknya sendiri!

Linda, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah.

Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yg tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yg lalu.

Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Linda menerimanya tanpa sepatah katapun.

Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.

Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar.

Setdknya aku masih lebih hebat dibagian itu.

Cerita Seks Iparku Yang MengajakTentu saja, Nina terlihat menikmati apa yg didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Nina akan hal ini.

Isteriku mempunyai bentuk tubuh yg atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu.

Saat melihat adegan video tersebut, aku membaygkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…

Linda melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Linda berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yg lebih montok dibandingkan kakaknya.

Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yg cantik dalam beberapa tahun belakangan.

Dia dan Bob menikah dua tahun yg lalu. Nina dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak.

Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yg ke duapuluh.

“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir.

Nina menggelengkan kepala.

“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.

“Tdk, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Nina berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.

“Kakak kandungku sendiri!” kata Linda dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.

“Apa yg akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.

“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.

“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya.

Aku hanya mengangkat bahu kembali.

“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”

  Menghamili Anak Tante

“Well, aku sudah tahu apa yg akan kulakukan!” potong Linda.

Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.

“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”

“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,

“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”

“Aku rasa tdk,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Apa?”

“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yg suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.

“Kamu pasti bercanda,” tukas Linda. Aku hanya mengangkat bahu.

“Aku tdk tahu apa yg terjadi, tapi aku tak percaya kalau Nina dan Bob sengaja melakukan ini.”

“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Linda.

“Apa ada kelakuan Bob yg aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Nina sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yg ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”

“Itu bukan alasan!”

“Aku tdk bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku.

Linda menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.

“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah,

“Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tdk lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”

“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya.

“Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”

“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya,

Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.

“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku.

“Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”

Linda terlihat tdk puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tdk melakukan suatu tindakan yg bodoh sampai dia merasa tenang.

Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayganku di dalam cermin.

Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yg panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.

Linda dateng ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setdknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.

“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.

Aku mengangkat bahu.

“Apa ini tdk membuat abang marah?” tanyanya gusar.

“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yg sudah terlanjur terjadi.” Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.

  Bunga Sang Gadis Desa

“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Nina!” kata Linda.

Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.

“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Nina dan aku punya 3 orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan,

“Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja.

Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Linda menatapku tajam.

“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya.

Aku mengangguk. Linda menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.


“Linda, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku.

Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.

“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.

Gelas yg pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yg ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat Linda menuangk minuman pada gelas ketiganya.

Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.

“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku.

Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Linda yg pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yg keempat.

Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.

Linda keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yg berubah. Pertama, Linda terlihat sudah mengambil sebuah keputusan.

Yg kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yg atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.

“Linda, apa yg kamu lakukan?” tanyaku bingung.

“Aku akan melakukan sesuatu yg mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya.

Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku.

Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Nina, aku juga sama terlukanya dengan Linda.


Meniduri Linda, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.

Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Linda bahkan lebih besar dari yg pernah kubaygkan.

Ukuran payudara Nina breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yg mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.

Payudara Linda yg jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup.

  Ibu Vivin Tersayang

Putingnya tdk sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yg terpana melihat dadanya.

“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Linda sambil menygga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda.

Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Linda bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.

“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya.

Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.

Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Linda mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya.

Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menygga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Linda menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yg dalam.

Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.

“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Nina diwaktu yg sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan,

“Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.”

Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.

“Aku merasa sangat penuh!”

Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tdk mengijinkanku.

Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat.

Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.

“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya.

Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.

“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yg segera akan aku lakukan.

Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Linda segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat.

Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.

“Linda, aku hamper keluar!” teriakku.

Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.

“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.

“Tapi, kita tdk pakai pelindung!” kataku ragu.

Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya.

Lanjut ke halaman berikutnya…

seksualitas

Komentar