Cerita Seks Terlena Dengan Kenikmatan

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Terlena Dengan Kenikmatan – Cintya berdiri di belakang suaminya yg sedang bicara dengan seorang petugas di resepsionis, tangan di belakang menggenggam mesra tangan Cintya.

Semua orang tak hentinya mengucapkan selamat, setiap kali berpapasan dengan pasangan yg baru saja menikah ini. Keduanya begitu jelas terlihat baru menikah karena Cintya masih tetap memakai busana pengantinnya.

Suaminya melepaskan genggaman tangan mereka untuk menandatangani pemesanan kamar.

Cintya melangkah mundur dari meja resepsionis dan menyapukan pandangan ke seputar lobi. Seorang pria negro sedang memandanginya. Pandangan mata mereka bertemu dan Cintya membalasnya dengan senyuman, menganggap mungkin sang pria merasakan kebahagiaan yg terpancar dari pasangan pengantin baru di depannya.

Tapi tatapan matanya tak juga bergeming. Apa ini? Sesuatu tentang raut wajahnya memaksa batin Cintya berbisik. Dia tahu arti dari ekspresinya tersebut, tapi tak mampu untuk menjelaskannya. Intensitasnya menyebarkan atmosfir.

Matanya yg tak berkedip mengisyaratkan kalau dia tengah memikirkan sesuatu…Cintya palingkan pandangnya. Sang pria ingin menyetubuhinya! Telah dia lupakan gairah akan pria lain semenjak berkencan dengan Tom.

Dia tahu dengan cepat bahwa Tom adalah pria spesial untuknya dan segera dia tutup hatinya bagi pria lain. Dia telah lupa, atau tak menyadari, bahwa semua pria suka memandang kecantikannya.

Cerita Seks Terlena Dengan KenikmatanPria itu ingin menyetubuhinya. Tapi apa yg Cintya cemaskan? Dia sudah menikah sekarang! Terlihat jelas telah menikah! Kembali dia menoleh ke arah sang pria, yg tak pernah henti memandangnya.

Dia amati wajahnya sekarang, memang tdk tampan dan berkulit gelap, segelap rambut hitamnya dan matanya yg juga senada, tapi seperti ada daya tarik tersendiri.


Kenapa dia cuma terus menatapnya saja? Kenapa dia tdk tersenyum atau bahkan memberi isyarat yg cabul? Cintya baru sadar kalau dia telah balas menatap sang pria untuk sekian lama setelah Tom menyentuh pundaknya.

Dia tersenyum pada suaminya, kemudian ikut melangkah menuju ke kamar yg mereka pesan. Dia mulai merasa terangsang. Dia menyetubuhi suaminya dengan segenap hasrat.

Pengantin baru ini bercinta dengan penuh gairah, berisik dan liar. Tom menyutubuhinya di atas ranjang, lalu di lantai dan terakhir di dalam bathub. Mereka terlelap ke alam mimpi dengan tubuh telanjang saling dekap.

Cintya merinding setelah air yg membasahi tubuhnya perlahan berubah jadi dingin. Dia berdiri di dalam bathtub, membiarkan payudaranya yg basah menggantung bebas dihadapan suaminya.

Kemudian dia melangkah keluar dari dalam bathub dan menuju ke depan cermin. Dia tertawa saat melihat kulitnya yg mulai berkerut kedinginan di depan cermin. Tawanya terhenti saat dia mainkan kalung rantai yg telah diberikan Tom sebelum mereka menikah.

Dia tak tahu asal usulnya, tapi suaminya mengatakan kalau rantai itu merupakan sebuah simbol ikatan cinta yg kuno. Selama dia memakainya, mereka berdua tak akan dapat terpisahkan.

Dia memegangnya, memantulkannya di atas kekenyalan payudaranya dan kemudian mencoba mengepaskan bulat payudaranya dengan lingkaran rantai tersebut.

Entah bagaimana, dia dapat merasakan Tom tengah menyentuhnya setiap kali rantai tersebut bersentuhan dengan kulitnya.

Dia melangkah masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan jubah sutera berwarna emas yg pendek dari dalam tasnya. Dibungkuskan lembutnya kain tersebut ke tubuh telanjangnya.

Dia duduk di atas ranjang, membuat ujung jubahnya tersingkap hingga atas pahanya dan menampakkan sedikit memeknya yg mengintip.

Dia tersenyum ketika menyadari betapa terbukanya jubah pendek tersebut. Tom akan sangat suka dia memakainya, atau lebih tepatnya lagi, menyetubuhinya dalam balutan jubah sutera tersebut.

  Cerita Dewasa Fifth Drama - Chapter 12

Suara gemericik shower menyadarkan Cintya dari suasana erotisnya. Dia mempertimbangkan untuk masuk saja ke dalam kamar mandi, menyusul suaminya dalam guyuran air hangat, tapi dia merasa begitu haus. Dia raih dompetnya dan mengeluarkan beberapa recehan.

Dia putuskan untuk membeli sebotol teh dingin, lalu melihat apa suaminya butuh bantuannya apa tdk.

Dia keluar dan melangkah menyusuri lorong, lupa akan jubahnya yg pendek dan tipis. Bergegas dia menuju mesin penjual minum otomatis di lantai terdekat, memasukkan koin recehannya dan membungkuk untuk mengambil minumannya.

Terdengar suara pintu yg dibuka datang dari lorong saat dia ambil kaleng minumannya. Dia tolehkan wajahnya ke arah sumber suara tadi.

Itu sang pria tadi. Dia berjalan mendekatinya, langkahnya menunjukkan keyakinan diri atau ketdkpedulian, Cintya tak tahu yg mana. Tapi sorot matanya membimbing Cintya untuk mempercayai bahwa itu adalah sebuah keyakinan diri yg kuat.

Cintya merasa tak kuat berdiri menahan tubuhnya, dia mulai rubuh. Sang pria semakin dekat, dia raih tangan Cintya untuk membantunya berdiri, memegang kepalanya dan mengarahkan agar tatapan mata Cintya tetap memandangnya.

Ada sesuatu dalam sorot matanya… begitu misterius… begitu memikat… begitu penuh nafsu… tapi sama sekali tak mengancam. Sang pria tersenyum. Cintya terlalu mati rasa untuk merespon.

Sang pria kembali berjalan menyusuri lorong meninggalkannya. Sebuah hembusan hawa dingin menyapu pahanya dan naik menggelitik rambut di selangkangannya.

Sang pria telah melihat pantatnya. Dia sadar kalau jubahnya yg begitu pendek pasti tersingkap naik saat dia membungkuk untuk mengambil minumannya tadi.

Pantat telanjangnya akan terlihat membulat nikmat dalam posisi tersebut – dia mengetahuinya dari beberapa pose yg pernah dia lakukan didepan cermin.

Lalu dia menyadari sesuatu yg jauh lebih penting. Sang pria pasti juga telah melihat memeknya. Telah dia saksikan sendiri lipatan bibir memeknya yg mengintip begitu menggoda dari bawah pantatnya. Sang pria pasti sudah melihatnya.

Cintya bergegas kembali ke kamarnya, kembali pada suaminya. Tom akan dengan senang hati menyetubuhi isterinya yg berpakaian minim lagi.

Cintya muncul di kamar mandi dan memberi suaminya sebuah pertunjukan kecil. Dia membungkuk seperti yg dilakukannya di mesin minuman tadi, bertanya pada suaminya,

“Apa kamu pikir ini terlalu pendek?”

Jelas dia akan berkata

“Tdk.”

Lalu Cintya kembali bertanya,

“Bukankah kalung rantai ini pas di sini?” Dan mulai membuka bagian depan jubahnya, mengekspos kalung rantai dan payudaranya. Dia biarkan pemberian suaminya tersebut menggantung di putingnya.

om menelan jawabannya. Cintya menjatuhkan jubahnya ke atas lantai, lalu melangkah masuk ke dalam siraman air hangat bersama suaminya.

Cintya telah lupa perjumpaan dengan sang pria pada malam sebelumnya. Dia terbangun dari tidurnya, tubuh telanjangnya menempel rapat ke tubuh telanjang suaminya dan pikirannya hanya dipenuhi oleh kebahagiaan dan masa depan yg menanti mereka.

Dia melangkah ke kamar mandi dan melihat jubah berwarna emas yg tergeletak di atas lantai. Pikiran tentang sang pria asing datang kembali.

Dia pasti sudah memberinya sebuah pertunjukan yg cukup menggairahkan! Dia pakai jubah tersebut, mengingat bagaimana cara sang pria memandangnya.

“Apakah…”

Dia membungkuk, posisi yg sama seperti saat dia mengambil minuman kemarin. Dia menoleh ke cermin di belakangnya. Sudah pastilah sekarang, bongkahan pantatnya tersingkap dengan cepat. Memeknya menyusul muncul tepat sesudahnya.

Dia rasakan sebuah hembuasan hawa hangat menyapu tubuhnya karena pemandangan tersebut. Dia bangkit dan mengamati tubuhnya di dalam pantulan cermin. Dia amati putingnya mengeras dari balik jubah suteranya dan dia mulai memainkan jubah tersebut.

  Tukar Suami

Dia singkapkan lebih untuk memperlihatkan daging payudaranya lebih banyak lagi, lalu menutupnya kembali. Dia uji seberapa longgar dia bisa mengikat bagian depan tanpa terlalu banyak memperlihatkan tubuhnya. Dia nikmati belahan dadanya yg terlihat menggiurkan.

Tanpa berpikir, tangan kirinya menyelinap ke balik jubah suteranya dan meremas payudaranya yg sebelah kiri dengan lembut.

Tak mampu dia cegah untuk memikirkan sang pria asing dan betapa senangnya dia jika sang pria melihatnya seperti sekarang ini! Kain sutera tersebut menggantung dengan lembut di pinggir payudara telanjangnya, terlipat seiring gerakan naik turunnya. Dia baygkan mata sang pria menatap tak berkedip padanya… pada dadanya.

“Dia mungkin sudah melihat memekku, tapi dia belum lihat yg ini!”

Tangan kananya merayap menaiki pahanya, menyusup ke dalam jubah. Dia usap memeknya dan memandangi tubuh indahnya yg menggelinjang.

Jubah tersebut tetap dalam keadaan terikat longgar pada bagian depan. Dapat dia lihat pandangan penuh gelora birahi dalam tatapan matanya. Seperti itukah dia membalas tatapan mata penuh nafsu dari sang pria? Dia pejamkan matanya setelah pikiran itu terlintas.

Cintya merasa mata sang pria tengah mengawasinya sekarang. Keberadaannya di dalam benaknya. Dia hayalkan sang pria asing berada di seberang cermin, memandang payudaranya yg terguncang… melihat dia tengah memuaskan dirinya sendiri. Dia selipkan satu jarinya masuk ke dalam celah memeknya. Apakah ini jari sang pria?

“Oooh…” Cintya mendorong jarinya masuk ke dalam lubang memeknya sendiri dengan keras, mengangkat pinggulnya berlawanan arah dengan sodokan jarinya.

Bagaimana jika ini adalah batang penisnya? Cintya berhenti. Dengan cepat dia tutup jubahnya dan melangkah menuju ke dalam kamar.

Tanpa melihat ke arah suaminya, dia kenakan sepotong celana pendek dan menutupi payudara telanjangnya dengan sweater yg ringan.

Dia akan turun untuk mendapatkan secangkir kopi… dia akan turun dan melupakan baygan yg baru saja dia hayalkan. Cintya menerima secangkir kopi dari si gadis di belakang meja konter.

Dia teguk cairan panas itu, berharap dapat meredakan gemetar tubuhnya. Tapi malah semakin menambah merah kulitnya yg telah merona. Dia berbalik dan melangkah menuju ke lift.

“Ya ampun…”

Sang pria asing berdiri di pintu. Lift itu mengarah turun, tapi dia tdk keluar. Cintya melangkah masuk, merasa aman karena ada sepasang orang berumur lebih tua masuk bersamanya.

Dia menolak memandang ke arah sang pria, tapi dia tahu kalau mata sang pria memandanginya. Dia MERASAKAN mata sang pria di tubuhnya.

Jantungnya berdegup kencang dibalik sweaternya. Dia teguk kopinya dengan tangan yg gemetar. Dia gigit bibir bawahnya saat merasakan denyutan diantara pahanya.

Perasaan itu tumbuh makin besar, seakan ada jari yg menggosok bibir memeknya, mengirimkan getaran menggelora ke sekujur tubuhnya.

Memeknya bereaksi sendiri, seakan tahu kalau pernah dilihat dan ingin untuk kembali dipandang. Kembali dia teguk kopinya, tak menyadari kalau lift telah berhenti. Pasangan tua tersebut melangkah keluar. Tak ada seorangpun yg masuk lagi.

Lift kembali naik. Cintya sadar kalau setdknya dia melirik ke arah sang pria. Jika tdk, sang pria akan mendekatinya. Dia bersiap untuk memberikan sedikit senyuman.

Dia paksakan kepalanya bergerak sedikit ke arah sang pria, menunggu sang pria menatapnya dengan seringai serta mengucapkan sesuatu yg kasar.

Sang pria menatapnya. Seakan matanya tak pernah berpaling, terus menatap Cintya. Seakan mata itu tak memiliki arah tujuan lainnya, mereka terus menatapnya.

  Cerita Seks Mengintip Mama

Cintya merasakan hantaman sensasi dari kepala hingga ujung kakinya. Dia akan tersenyum lalu segera berpaling.

Tapi dia tdk tersenyum. Dia sama sekali tak berpaling. Cintya memandang tepat di matanya dan dia sadar dirinya telanjang baginya. Tanpa memakai pakaian dan sang pria telah melihat ketelanjangannya untuk memperkuat imajinasi terlemahnya.

Belum pernah Cintya menyaksikan pernyataan nafsu yg begitu berani dari seorang pria kepadanya, bahkan sang pria belum mengucapkan sepatah katapun. Dan Cintya belum juga memalingkan muka. Lift berhenti di lantainya Cintya.

Pintunya terbuka. Seharusnya dia bergerak. Sang pria yg bergerak. Dia mendekati Cintya hingga hanya berjarak 1 inchi darinya. Pintu lift menutup kembali.

Cintya merasakan memeknya berdenyut. Dia rasakan putingnya terbakar. Sang pria menciumnya. Sang pria tdk beraksi dengan serangan nafsu buta. Dia hanya menekankan lidahnya ke bibir Cintya dan menciumnya.

Cintya balas mencium. Dia rasakan bibir basahnya bertemu dengan bibir basah sang pria dan meluncur lembut di atasnya. Pintu lift terbuka.

Lantai berikutnya. Seorang pria dengan anaknya masuk. Sang pria asing hentikan ciumannya seiring terbukanya pintu lift dan bersama Cintya menoleh ke arah para pengganggu. Keabadian seakan berjalan lambat.

Cintya menatap pintu lift yg terbuka. Setiap denyut kesadarannya mengatakan agar melangkah keluar melewati pintu tersebut.

Dia melangkah ke depan, tapi terhalangi oleh tubuh sang pria. Tangan sang pria berada di dada Cintya. Cintya melihat penguasaannya pada tekanannya yg lembut.

Dia mulai menyadari kalau tangan tersebut telah berada di dadanya selama ini. Dia memaksa melewati sang pria asing, keluar menuju ke lorong.

Dia begegas ke arah tangga, berharap sang pria tdk mengikutinya. Dia sampai ke ujung lorong, nafasnya memburu cepat.

“Dasar wanita bodoh, kamu wanita – yg bodoh!”

Dia terus merutuk dirinya sendiri saat menuruni tangga. Begitu menyesal karena tak membiarkan sang pria menganggap bahwa dia telah berhasil menaklukannya. Begitu menyesal karena bersikap tenang dan seakan isteri yg penurut dan setia.

Tom terbangunkan oleh isterinya, yg sedang menggesekkan memeknya ke batang penisnya agar ereksi. Dia lepaskan sweater dari tubuh isterinya dan kalung rantai yg menggantung dipayudara Cintya menghantam wajahnya.

Cintya luncurkan memeknya pada batang penis Tom yg sudah keras sekarang dan dan dia tarik kalung rantainya terlepas dari leher saat dia mulai bergerak menyetubuhi suaminya.

Sekali lagi dia berusaha keluarkan pertemuan dengan sang pria asing dari dalam benaknya saat dia dan suaminya tengah bersiap untuk perjalanan bulan madu.


Mereka sedikit terlambat untuk berkemas, terima kasih pada gelora birahi Cintya. Dia butuh Penis suaminya dalam tubuhnya, itu akan mengingatkan dia akan cinta yg dia rasa pada suaminya dan komitmennya pada pernikahan mereka yg suci. Selama Tom bercinta dengannya, dunia akan jadi sempurna.

Namun hasrat Cintya yg terus berkobar sepanjang hari sungguh membuat Tom kelelahan dan akhirnya Cintya menyerah untuk membiarkan suaminya rehat.

Mereka nikmati keindahan panorama, pergi makan malam yg romantis dan kembali ke kamar pengantin mereka setelah merasa segar dan siap untuk malam panjang penuh gairah.

Mereka berdiri di depan pintu utama, menunggu kendaraan datang. Mata terus fokus mengamati jalanan dari bukit yg berliku panjang. Berharap taksi yg mereka pesan segera datang dan Cintya tak perlu lagi merasa cemas melihat sang pria asing di sekitarnya.

Lanjut ke halaman berikutnya…

seksualitas

Komentar