Cerita Seks Desahan Nikmat Janda Sombong

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Desahan Nikmat Janda Sombong – Udara pagi ini trasa sejuk skali, seakan mnyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Lastri yg tengah brcengkrama dengan bunga bunga ditaman.

Meskipun nampak angkuh, namun kcantikan wajahnya tak dapat disembunyikan. Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar.

Akan tetapi mataku melihat tante Lastri tengah asyik menikmati keindahhan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Lastri nampak serius memperhatikan tanaman itu.

”Pagi tan” sapaku.

”Hmm…” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga.

”Mau aku buatin minum nda tan?” tanyaku lagi setengah menawarkan jasa.

”Nda usah!!” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak melihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini

”Ach, pada lari pagi kali?” fikirku dalam hati.

Cerita Seks Desahan Nikmat Janda SombongAku kembali memperhatikan tante Lastri yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus meskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun terbalut celana pendek, namun terlihat jelas lekukannya.

”Coba dia bisa aku tiduri seperti tante Rita ya?” gumamku dalam hati. Belum habis lamunanku, tiba tiba kulihat tubuh tante Lastri terhuyung lemah ingin tersungkur. \

Dengan cepat aku meloncat dan memegangi tubuhnya yang nyaris tersungkur itu, meninggalkan sisa lamunan cabulku. Kurangkul tubuhnya yang mulus dan terlihat lemas sekali.

“Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya memapah tubuh tante Lastri.

“Kepalaku trasa pusing Fad” jawab tante Lastri lemah.

“Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah.

“Akhirnya aku bisa merangkulmu Lastri” ucapku dalam hati. Ada sejuta kebahagian dihatiku karena mampu merangkul tubuh si angkuh tersebut.

Setelah berada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Lastri disofa ruang tamu. Dengan menarik nafas tante Lastri duduk dan bersandar pada sandaran sofa. Setelah itu aku melangkah meninggalkannya sendiri.

Tak brapa lama aku kembali dengan segelas air hangat dan menghampiri tante Lastri yang tengah bersandar disandaran sofa.

“Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil menyerahkan gelas berisi air hangat yang kubawa. Tante Lastri pun meminum air hangat yang kuberikan.

“Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil meletakkan gelas di meja yang ada didepannya.

“Kepalanya masih pusing gak tan!?” tanyaku. Tante Lastri hanya menganggukan kepalanya.

“Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi.

“E, em” jawab tante Lastri perlahan seakan tengah menahan sakit. Aku pun segera memijat mulai dari kepalanya dengan perlahan lahan, kemudian dahinya yang dia bilang merupakan pusat rasa sakitnya.

“Wah, kenapa tante Fad!?” tanya Nita yang baru saja pulang.

“Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Nit!” jawabku.

”Trlalu capek kali!?” ujar Nita sambil melangkah ke dapur.

“Dah agak mendingan Fad” jelas tante Lastri dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku.

Terasa hangat dahinya bersamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Lastri trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai.

“Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh.

“Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya.

“Memang kamu bisa!?” tante Lastri balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan.

“Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante Lastri brubah fikiran lagi.

“Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Lastri. Mmbuat hatiku brdebar makin cepat.

Dengan perlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Lastri pun mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yg dibawanya.

Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Lastri. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Lastri yg tengah menanti.

Dengan membranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya.

Shingga tante Lastri kini hanya mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Lastri mmbuka bajunya.

Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.

Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap … ..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali.

“Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku.

“Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan.

Setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Lastri.

Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat.

Smentara tante Lastri hanya trdiam sraya mmejamkan matanya yg bulat dan indah.

” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu.

“Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku.

“Iya Nit… ” balas tante Lastri tanpa brpaling kearahnya.

Kemudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi. Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg ditutupinya.

Tapi tangan tante Lastri terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya.

“Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Lastri stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu.

“Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Lastri malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi.

Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut.

“Sekarang bisa kamu plototin sampe puas dech!!” ujar tante Lastri tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku.

Kontolku perlahan tapi pasti mulai berdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Lastri mngingatkanku. Mmbuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat.

Hampir seluruh bagian belakang tubuh tante Lastri telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna terhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya.

Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.

Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Lastri mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya.

“Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku. Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku.

” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Lastri skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam kamar trsebut.

Stelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Lastri yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn keadaan sparuh bugil.

Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu.

“Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”.

“Aku juga mau kok!?” ucap tante Lastri sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku.

Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu.

Membuat kontolku kian brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku. Akupun tak menunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang.

Tante Lastri brgelinjang saat tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya.

” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi. Jariku juga memainkan putingnya yg mulai mngeras.

” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Lastri dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya.

“Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Lastri sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan.

Smentara tante Lastri smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Lastri.

Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya.

Tante Lastri membuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya.

“Aowww…” jerit kecil tante Lastri saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu.

Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari bahan yg mnutupinya. Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Lastri, hingga lobang itu mulai trasa basah dan lembab.

Sampai akhirnya tangan tante Lastri menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya.

“Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Lastri. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Lastri sraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg baru saja ku obok obok.

Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya. Dengan senyum manis kearahku, tante Lastri mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku.

“Aouw, gede banget..!!” seru tante Lastri sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg telah brdiri dan keras.

Dengan tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat.

Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku.

“Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku.

Aku hanya dapat memegangi kpala tante Lastri, mremas serta mngusap usap rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Lastri smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku.

Ternyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang hingga lobang kencing dikpalanya.

” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu. Entah brapa lama tante Lastri mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg jelas hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan hampir kejang.

” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Lastri mandi dngn air maniku.

Tante Lastri sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya.

Kedua kaki tante Lastri trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu.

“Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Lastri saat lidahku brmain mnjilati lobang memeknya.

“Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi.

“Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Lastri tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Lastri sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya.

“Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Lastri lirih.

” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Lastri sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.

Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Lastri dan bangkit brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Lastri agar bangkit dari duduknya.

Kini aku yg mnggantikan posisinya duduk dikursi. Tante Lastri naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Lastri mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya.

” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Lastri ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik.

” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “.

” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Lastri tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya.

” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Lastri sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat.

Akupun membalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .

”Aaaaaawhhh……..”erang tante Lastri sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Lastri.

“Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa saat dngn brcampur peluh masing masing.

Stelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dngn malas, enggan branjak dari suasana yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yg basah dngn peluh syurga.

Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Lastri Gienarsih.

Tamat

seksualitas

Komentar