Cerita Dewasa Proyek Seks

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Dewasa Proyek Seks – Nama saya Wawan, saya berumur 28 tahun, baru 3 bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Ricky Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berusia 40 tahun.

Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yg sama yaitu bermain golf.

Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yg bergerak dalam bidang advertising.

Menurut cerita-cerita teman-teman istri Ricky, yg berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood.

Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Ricky, hanya melihat fotonya yg terletak di meja kerja Ricky.

Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yg berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya.

Pada waktu Ricky melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Ricky sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Ricky mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

“Wan, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Cerita Dewasa Proyek SeksSesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Ricky dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yg mau didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.


Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yg padat kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Ricky yg terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera.

Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yg berada di depan pintu.

Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yg sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yg dengan suara medok menegur kami.

“Oh Wawan dan Nina yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Ricky”.

Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Ricky. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Nina istriku”. Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Ricky mengajakku ke teras balkon apartemennya.

“Gini lho Wan.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”. Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Ricky segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Wan.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha.., ya.., jelas dong”.

“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Ricky melanjutkan,

“Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membaygkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih?

Paling-paling selama ini hanya bisa membaygkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membaygkan Nina dikerjain si bule ini, yg pasti punya senjata yg besar, rasanya kok tdk tega juga.

  Cerita Persetubuhan Dokter Miranti

Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Ricky telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi,

“Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan,

“Dia tdk suka style yg aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Ricky.

“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yg jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membaygkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

Kemudian lanjut Ricky meyakinkanku,

“Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yg atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Ricky akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tdk rela aku.

Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga.

Melihat mimik mukaku yg ragu-ragu itu, Ricky cepat-cepat menambahkan,

“Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya,

“Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Ricky. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi.

Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tdk tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat tanda-tanda itu, Ricky mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina,

“Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nina, Ricky segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yg terletak di ruang tengah.

Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku.

“Wan, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Ricky mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Ricky yg berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yg terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yg terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut.

Terlihat tindakan Ricky semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir.

BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga,

“Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Ricky?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Ricky?”.

Nina tampaknya pasrah seakan-akan tdk menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Ricky dikulitnya dan ciuman nafsu Rickypun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yg tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tdk mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Ricky yg sedang duduk di sampingku.

Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yg mungil itu,

“aahh.., aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Ricky telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Ricky dan terbaring lunglai di sofa.

Badan Nina yg ramping mulus dengan buah dadanya tdk terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yg rata dan kedua bongkahan pantatnya yg terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yg membukit yg ditutupi oleh rambut-rambut halus yg terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Ricky.

  Cerita Seks Anugerah Tak Terduga

Kemudian Ricky menarik Nina berdiri, dengan Ricky tetap di belakangnya, kedua tangan Ricky menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu.

Aku sempat melihat ekspresi wajah Nina, yg dengan matanya yg setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yg melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yg mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Ricky terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Ricky berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Ricky meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yg bersandar lemas pada badan Ricky, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri.

Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yg berwarna coklat muda telah mengeras, yg terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang.

Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Ricky, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tdk akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yg lain dari lain.

Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yg rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yg telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya.

Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras,

” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”.

Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya.

Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah,

“Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak.

Tak tahu apa yg diperbuat Ricky pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Ricky sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yg sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yg mulus.

Bisa kubaygkan mulut dan lidah Ricky sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yg mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Ricky dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yg badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,

“Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yg semakin menegangkan otot-otot penisku.

“Aahh.., Wan.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yg merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme.

Tubuhnya yg telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yg juga penuh keringat, dengan tatapan yg sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Ricky dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yg sedang menjadi sasaran tembak Ricky.

Ricky mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yg telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Ricky yg terletak diantara kedua pahanya yg berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yg kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Ricky memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yg sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yg terbelalak melihat ke arah senjata Ricky yg dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Ricky dan badan Nina terlihat agak melengkung.

  Cerita Seks Mbak RS, Istri Orang Yang Lucu

pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Ricky pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Ricky berkata perlahan.

“Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yg mau dikatakannya, dengan pandangannya yg sayu menatap ke arah kemaluannya yg sedang didesak oleh penis raksasa Ricky itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Ricky, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yg telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Ricky.

Mungkin, entah karena tusukan penis Ricky yg terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yg over size, langsung saja Nina berteriak kecil,

“Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yg agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yg mengangkang itu terlihat menggelinjang.

Kepala penis Ricky yg besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Ricky, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Ricky itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Ricky.

Ricky menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman,

“Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”. Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Ricky.

“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nina masih merasa sakit”, sahut Ricky dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Ricky melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yg tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tdk terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Ricky bertanya lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa?”, Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Ricky dan Ricky segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina.


Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya.

Ketika penis Ricky telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tdk lagi menolak badan Ricky, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa.

Ricky menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tdk mengeluh maka Ricky meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja,

“Blees”, Ricky menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yg bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina,

“Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Ricky di dalam kemaluannya.

Ricky mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tdk menambah sakit Nina sambil bertanya lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang,

“aagghh.., kit!”, lalu Ricky mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas.

Terlihat pantat Ricky bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang,

“Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Ricky, Nina mengalami orgasme yg hebat dan berkepanjangan.

Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Ricky yg masih tetap berayun-ayun itu. aah, suatu pemandangan yg sangat erotis sekali, suatu pertarungan yg diam-diam yg diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

Lanjut ke halaman berikutnya…

Table of contents:
seksualitas

Komentar