Petualangan Seks – Someday In Bali

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Dewasa Petualangan Seks Someday In Bali – Beberapa bulan yang lalu saya ada urusan bisnis ke Bali. Tadinya saya bermaksud membawa anak-anak ke sana juga sekalian untuk berlibur. Tapi karena ada beberapa alasan maka anak-anak tidak jadi ikut bersama saya.

Bersamaan dengan itu suami juga ada urusan pekerjaan di luar negeri. Karena jadwal suami yang agak longgar kali ini, saya dan suami bermaksud bersama-sama berangkat menuju Bali dan setelah itu suami akan melanjutkan perjalanannya ke luar negeri dari Bali. Suami rencana sehari bersama saya di Bali. Sebenarnya saya ingin suami agak lama berada di Bali untuk bersama menikmati suasana di sana, tapi jadwalnya tidak memungkinkan bagi suami.

Kami berangkat dari bandara Soekarno-Hatta dengan memakai flight malam hari. Pesawat itu sendiri dari Bali akan meneruskan penerbangannya ke luar negeri.

Karena tujuannya ke Bali, kami pun berangkat dengan baju yang santai saja, bahkan sudah seperti akan berlibur saja. Saya sendiri malam itu hanya memakai kaos tangtop dan celana jeans panjang. Karena mungkin di pesawat akan sedikit dingin maka saya membawa blazer.

Ketika masuk ke cabin, terlihat penumpang malam itu penuh dengan turis manca negara, mereka akan berlibur di Bali.

Petualangan SeksPenerbangan ke Bali terasa singkat, hanya sekitar satu setengah jam saja. Tidak terasa kami pun sudah sampai di Bali saja. Ketika keluar dari airport, baru terasa udara Bali yang malam itu tidak terlalu panas tapi sepertinya kelembabannya tinggi, sehingga terasa kulit lengket dan mudah mengeluarkan keringat.

Kendaraan dari hotel sudah menjemput kami, terlihat seseorang membawa papan nama dengan tertulis nama saya. Seperti kebiasaan orang-orang di sana, supir dari hotel terlihat ramah menanyakan ini itu. Awalnya mungkin kami dikira datang untuk berlibur, bahkan supir menanyakan kepada kami apakah dalam rangka honeymoon. Tentu saja saya dan suami yang mendengar itu tertawa.

Rupanya supir itu sejak berangkat dari airport menuju hotel memperhatikan kami berdua, apalagi di dalam kendaraan suami duduk sambil merangkul saya dan kepala saya bersandar di pundak suami. Mungkin terlihat begitu mesra antara saya dan suami. Tapi ketika saya ceritakan bahwa anak kami sudah besar-besar, supir itu hampir tidak percaya karena menurutnya kami terlihat masih muda dan tidak terkesan sudah mempunyai anak yang sudah besar-besar.

Sampai di hotel, sementara barang-barang kami diturunkan dari mobil, suami segera menuju front hotel untuk mengurus kamar. Suasana hotelnya cukup menyenangkan dan terasa begitu dekat dengan alam. Suasananya memang sesuai dengan taraf bintang lima dari hotel itu. Sementara itu saya menunggu dan sedikit istirahat di kursi lobby yang tidak begitu jauh dari front Hotel. Tidak lama, salah satu pegawai hotel membawakan minuman dingin semacam fruits punch yang ditata dengan begitu menarik. Kebetulan sekali saya sendiri sudah haus karena memang udara yang terasa agak panas di lobby itu. Terasa begitu menyegarkan ketika meminumnya sambil menghabiskan sebatang rokok.

Saya masih ingat suasana ketika itu, karena ketika saya duduk di lobby itu melintas dua orang pria yang mungkin kurang lebih seumuran dengan saya. Sepertinya mereka menginap di hotel itu bukan untuk liburan, tapi untuk bisinis. Terlihat dari cara mereka berpakaian. Kedua pria ini begitu memperhatikan saya, entah kenapa. Padahal dari tadi sudah ada beberapa turis asing melintas dengan tidak terlalu memperhatikan saya. Sepertinya mereka memperhatikan penampilan saya malam itu yang memakai tangtop dan duduk seorang diri.

Seperti pada umumnya hotel hotel berbintang di Bali, kamar kamarnya berupa bungalow atau kumpulan vila-vila. Sejak peristiwa bom, memang suasana Bali terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Padahal peristiwa itu sudah lewat agak lama. Begitu juga dengan hotel dimana saya menginap, sepertinya tidak sepenuh dahulu.

Tidak lama kemudian suami menghampiri saya dan mengajak untuk menuju kamar hotel. Kami mengikuti pegawai hotel menuju kamar. Bangunan kamar hotel kami terdiri dari bangunan bungalow bertingkat dua. Kamar kami di tingkat dua bungalow itu. Kamarnya cukup bagus, tempat tidurnya berupa double bed yang berukuran luas. Saya memang menyenangi tempat tidur yang luas, sehingga terasa nyaman untuk tidur. Kamar mandinya pun cukup bagus. Pokoknya susananya sudah seperti honeymoon saja.

Setelah selesai barang-barang masuk dan pegawai hotel meninggalkan ruangan, saya segera membuka koper, karena ingin segera mandi agar terasa segar. Begitu pegawai hotel meninggalkan ruangan, suami segera dengan gaya bebasnya menghempaskan badannya ke tempat tidur, mungkin sejak tadi dia sudah terasa capek selama perjalanan.

Saya segera membuka baju di dekat tempat tidur, sudah tidak sabar karena terasa panas di luar. Baju tangtop dan celana jeans segera saya buka dan membiarkan berserakan di tempat tidur dekat suami berbaring. Suami memperhatikan apa yang saya lakukan. Malam itu saya memakai bra yang tanpa tali di bahu dan seperti yang sejak dulu saya sukai, yaitu bra dengan bahan yang lembut tanpa busa. Celana dalam yang saya kenakan malam itu cukup mini walau tidak sampai seperti G-string, bagian depan cukup hanya menutup bagian yang seperlunya saja. Saya ingat ini semua karena waktu setelah saya membuka baju dan celana jeans, suami sempat mengomentari pakaian dalam saya malam itu.

Katanya tumben memakai putih-putih. Maksudnya saya memakai bra putih dan panty putih. Biasanya lebih sering memakai yang warna hitam atau gelap. Suami memang dari dulu soal pakaian dalam yang saya pakai selalu dia memperhatikannya.

Saya mengajak suami untuk mandi bersama. Saya senang kalau suami membantu menyabuni badan saya. Pembicaraan waktu itu kira kira seperti ini;

“Mandi sama-sama yuk, sayang…” kata saya.

“Kamu saja dulu, nanti aku nyusul, masih mau buka koper dulu…” jawabnya.

“Cepetan ya, jangan lama-lama.” kembali saya berkata.

Mungkin karena saya merasa malam bersama suami di Bali ingin membuat berkesan dalam perjalanan kali ini. Karena nanti suami akan ke luar negeri agak lama, tentu selama itu pula saya tidak bisa menikmati permainan sex dengan dia. Apalagi biasanya hampir setiap hari kami selalu melakukan itu. Tidak lama setelah saya masuk ke kamar mandi, suami pun masuk. Saya baru saja mulai shower dan baru menyabuni bagian tangan dan kaki.

“Sabuni aku ya..” kata saya dan suami terlihat tersenyum penuh arti. Suami masuk ke ruangan shower dan tentu sudah tidak memakai baju dan memulai menyabuni saya.

“Enak, Rat?” tanya suami sambil benyabuni bagian dada saya, dan berkali- kali dengan tangan dan jari-jarinya memainkan payudara saya dari arah belakang.

Saya memang terasa nikmat ketika itu dan terasa payudara dan niple saya menjadi begitu kencang. Kemudian dia menyabuni punggung saya dan terus menuju bawah. Ketika sampai di selangkangan kaki, dia agak lama dengan tangannya menyabuni bagian itu dan terus menuju ke depan hingga terasa jari-jarinya menyabuni vagina bagian luar. Saya menikmati sekali cara dia menyabuni selangkangan. Terasa beberapa kali jari-jarinya dia masukkan sedikit ke dalam vagina. Tentu saya menjadi terangsang. Sempat terhentak sedikit ketika jarinya masuk, tapi saya tidak terlalu ingat apakah saya mengeluarkan suara atau tidak.

Tidak tahan, tangan saya pun ke belakang dan menggenggam penis suami dan sempat beberapa saat saya mainkan dengan jari-jari. Ukurannya pun terus membesar sampai ukuran maksimal. Kemudian saya tidak tahan lagi dan minta penisnya dia masukkan dari arah belakang. Suami segera menempel ke bagian belakang badan saya, dan saya sedikit membungkuk agar dia mudah untuk memasukkan penisnya. Sementara itu kedua tangannya semakin kencang meremas payudara dan puting saya.

Tidak lama terasa penis yang sudah saya kenal lama itu memasuki vagina, dia memegang pinggul saya dan terus bergerak ke depan dan ke belakang sehingga terasa penisnya keluar masuk vagina, tentu nikmat sekali rasanya.

“Yang agak lama, mas… enak sekali.” kata saya.

“Enak, Rat… sampai dalam ya, aku masukin semua ya,” kata suami.

Saya hanya mengangguk saja, tidak bisa menjawab.

Tidak lama dia berhenti dan menarik diri, tapi kemudian saya minta agak lama lagi. Kemudian suami membalik badan saya sehingg berhadapan dan mengangkat salah satu kaki saya ke atas dan menahannya. Kemudian kembali dia mendekat kembali dan sekarang dari arah depan memasukkan penisnya. Saya benar-benar menikmati apa yang suami lakukan, tentu saya sendiri sudah begitu terangsang, terasa vagina semakin basah.

Tapi kami tidak melakukan sampai selesai. Suami memang sengaja agar saya penasaran, itulah kebiasaan dia, kadang-kadang jadi gemes rasanya. Suami segera menyelesaikan mandinya dan keluar dari shower room, saya masih meneruskan untuk mencuci rambut. Setelah suami keluar dari kamar mandi, saya sedikit sentuh payudara dan puting, terasa begitu keras dan terangsang sekali walau hanya sedikit disentuh saja.

Ketika saya keluar dari kamar mandi, suami sudah di dalam selimut sambil memegang remote menikmati acara TV. Saya hanya mengenakan kimono tidur saja tanpa memakai apa-apa lagi di dalamnya, seperti kebiasaan saya sehari-hari.

Karena ada yang masih harus saya siapkan untuk urusan bisinis saya dan juga belum ngantuk, maka saya bekerja sedikit dengan notebook yang selalu saya bawa kemana-mana untuk pekerjaan. Entah sudah berapa lama, ketika saya menoleh ke tempat tidur, ternyata suami sudah tertidur. Saya kembali meneruskan kerjaan saya. Tapi kemudian saya sudah tidak konsentrasi terhadap apa yang saya kerjakan, menjadi penasaran dengan permainan kami ketika di shower room tadi. Saya sempat keluar ke teras kamar untuk menyegarkan diri sambil menghabiskan sebatang rokok. Ketika kembali ke ruangan ternyata sudah tidak niat untuk meneruskan pekerjaan saya. Notebook saya matikan dan bersiap siap untuk tidur saja.

Ketika saya buka selimut suami dengan maksud tidur di sebelah suami, ternyata membuat hati semakin tergugah untuk meneruskan permainan kami yang terputus di shower room, karena suami tidur tanpa mengenakan apa- apa. Kimono saya buka sehingga saya pun sama seperti suami, tidak mengenakan apa-apa. Agar suami tidak terbangun, perlahan saya mendekati dia dan mencoba mendekati penisnya. Perlahan-lahan saya kecup penis suami dan perlahan-lahan kepala penisnya saya masukan ke mulut dan memainkannya dengan lidah. Terasa di dalam mulut ukuran penis suami sedikit demi sedikit berubah ukuran. Ketika bagian ujung penis saya jilat dengan ujung lidah dengan sedikit tekanan, suami mulai sedikit bergerak.

Saya berhenti sejenak, agar suami jangan sampai terbangun. Kemudian kembali saya kulum penisnya, dan sekarang perlahan-lahan penis itu saya masukkan ke dalam mulut sampai dalam. Beberapa kali saya kulum keluar masuk mulut, penisnya pun sampai dengan ukuran maksimum. Saya tidak meneruskan lebih lama lagi, takut suami terbangun. Perlahan-lahan saya naik di atasnya tanpa memberi beban kepadanya. Setelah itu penis saya pegang dan saya arahkan ke vagina bagian luar.

Saya tidak langsung memasukkannya, saya coba tekan sedikit dan dengan mudah kepala penisnya masuk ke dalam vagina, mungkin karena saya sendiri sudah basah. Perlahan-lahan badan saya turunkan dan perlahan-lahan penis suami tertelan sampai terasa masuk semua ke dalam vagina. Tentu saja rasanya begitu nikmat ketika pertama kali masuk, tapi saya berusaha menahan mulut saya untuk tidak mengeluarkan suara.

Perlahan-lahan pinggul saya gerakkan ke depan dan ke belakang sehingga terasa penis suami beberapa kali keluar masuk di dalam vagina. Tidak lama suami pun terbangun, tapi tidak begitu kaget, karena dia sudah terbiasa dengan yang seperti ini. Suami membiarkan saya berada di atas dia dan membiarkan apa yang sedang saya lakukan, bahkan dengan kedua tangannya suami memegang pinggul saya sehingga saya semakin bebas untuk bergerak. Dia juga mulai menikmati penisnya yang keluar masuk ke vagina dengan sedikit suara. Saya juga sudah tidak tahan untuk menahan suara, dan sudah tidak peduli dengan suara sendiri, karena begitu nikmat rasanya.

Suamipun. tidak tahan rupanya, dia membangunkan badannya sehingga kami dalam posisi sama sama duduk. Saat dia membangunkan badannya, terasa penisnya semakin menekan ke dalam vagina dan begitu nikmat rasanya. Sulit untuk saya ceritakan dengan kata-kata apa yang sedang saya rasakan malam itu.

Dengan duduk, suami mulai ikut menggerakkan pinggulnya dan menyesuaikan iramanya dengan saya. Kedua tangannya memainkan payudara dan nipple, kadang-kadang juga menciumi dan menjilati payudara saya. Gerakan dia semakin tidak tahan bagi saya dan semakin tidak terkendali lagi suara saya. Yang saya ingat hanya suara suami yang menanyakan perasaan saya beberapa kali. Seingat saya, sebisanya saya menjawab pertanyaannya dengan kata-kata dan mimik. Sampai akhirnya tidak tahan juga untuk duduk terus di pangkuannya.

Ketika suami kembali merebahkan badannya, saya segera merebahkan badan saya juga dan memeluk suami. Seperti ingin merasakan sesuatu yang lebih nikmat lagi, suami segera membalikan saya hingga terbaring diatas tempat tidur. Kemudian suami kembali memasukkan penisnya ke dalam saya, dan menggoyangkan pinggulnya. Semakin lama goyangannya begitu cepat, sehingga irama keluar masuknya penis pun semakin cepat dan disertai dengan suara dikarenakan oleh banyaknya cairan yang keluar dari dalam vagina saya. Beberapa kali suami berbisik di telinga saya sambil mengatakan tentang banyaknya cairan yang keluar dari vagina.

Kira-kira dia berkata seperti ini;

“Banyak sekali yang keluar malam ini, sampai terdengar bunyinya…” kata suami.

“Kamu lagi kepingin ya… ayo keluarin semua itu yang di dalam kamu…” kembali suami berkata seperti itu.

Mendengar kata kata suami seperti itu, perasaan saya semakin tidak terkendali.

“Mau dikeluarkan dimana ini, sayang… di dalam, di luar atau di mulut kamu?” kata suami.

Kata-kata suami itu semakin membuat saya begitu terangsang.

“Aku minta penuhkan semuanya di dalam aku, sayang…” begitulah seingat saya membalasnya. Tapi setelah itu, tidak lama saya yang merasa tidak tahan lagi, berkali-kali saya mengatakan ke suami bahwa saya akan selesai dengan suara yang agak keras dan terputus-putus.

Bersamaan ketika saya mencapai klimaks, suami mengeluarkan suara agak keras. Mungkin secara refleks saya menjepit penisnya yang lagi berada di dalam saya. Perasaan saya ketika itu sesaat blank atau blackout, saya tidak ingat apa yang terjadi, hanya merasakan kenikmatan ketika mencapai klimaks.

Sesaat kemudian dimana saya sendiri belum sepenuhnya sadar kembali dari blackout, suami mengeluarkan suara agak keras dan bersamaan dengan itu saya merasakan ada suatu cairan panas yang menekan ke dalam vagina bagian paling dalam dan terasa tersentak beberapa kali penisnya. Terasa banyak sekali suami membanjiri vagina saya.

Gerakan suami mulai menurun dan akhirnya berhenti dan sebentar sebentar sedikit bergerak dengan perlahan. Sementara itu dia terus menciumi bibir, pipi dan kening saya berkali kali. Ketika penisnya keluar dari vagina, tidak lama terasa dari dalam vagina cairan panas kental milik suami sebagian besar keluar sedikit demi sedikit dan mengalir di selangkangan kaki saya. Membuat sprei tempat tidur malam itu cukup menjadi basah.

Kami berdua sama-sama tidur terlentang dan sepertinya suami sudah lebih dulu tertidur. Sementara itu saya belum juga tidur. Saya bangun dari tempat tidur dan berdiri tanpa mengenakan sehelai kain pun. Tapi bukan untuk pergi ke kamar mandi. Saya mengambil rokok dan setelah dinyalakan, saya melangkah menuju teras yang pemandangannya langsung menghadap laut.

Lampu teras saya matikan dan pintu jendela menuju teras saya buka. Beberapa saat saya berdiri memandangi laut sambil menikmati rokok, terasa angin laut yang lembab itu membuat seluruh badan yang tanpa mengenakan apa apa malam itu menjadi lengket. Saya yakin di malam yang sudah begitu larut, selain gelap juga teras yang menghadap laut itu tidak ada orang yang melihat saya dalam keadaan tanpa memakai sehelai kain apapun.

Saya sempat terbatuk dan bersamaan dengan batuk terasa cairan suami yang masih di dalam vagina keluar sedikit kembali dan mengalir ke paha. Tapi saya biarkan saja sampai turun ke betis. Setelah selesai merokok, barulah saya ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Baru saya tidur memeluk suami yang sudah tidur sejak tadi.


Sinar pagi yang terhalang oleh korden membuat saya terbangun. Suami yang berada di sisi saya masih tertidur nyenyak. Memang waktu masih cukup pagi, tapi saya harus sudah harus bersiap-siap untuk mandi. Karena pagi ini saya akan menghadiri suatu pertemuan dengan partner bisnis saya dan akan mengadakan presentasi untuk mereka. Itulah kira-kira agenda untuk hari ini. Suami sendiri sebenarnya pagi dan siang ini tidak ada acara apa-apa, dia akan berangkat sore ini menuju luar negeri. Sekitar 1 minggu rencana dia berada di luar negeri.

Saya pelan-pelan bangun dari tempat tidur agar suami tidak terbangun dan menuju kamar mandi. Sejenak saya memandangi cermin besar yang ada di kamar mandi, memandangi muka dan tubuh saya yang tanpa sehelai kain. Payudara terasa agak kencang dan nipple terlihat begitu keras menonjol, agak sensitif juga ketika sedikit saya raba dengan jari tangan.

Selesai gosok gigi, saya menuju ruang shower dan menyiram seluruh badan dengan air hangat. Terasa nikmat sekali, seakan badan begitu menjadi segar. Sebelum meneruskan dengan sabunan, saya sempat memeriksa vagina dengan sedikit melebarkan bagian luar dengan jari-jari tangan dan sedikit saya raba ke dalam vagina dengan jari telunjuk. Terasa masih ada sisa-sisa cairan milik suami di dalamnya. Selang shower saya arahkan ke vagina dan membersihkan vagina bagian agak dalam dengan menyemprotkan air dari selang shower. Setelah itu baru menyabuni diri ke seluruh badan.

Karena akan ke pertemuan rapat, maka saya atur pakaian pagi itu serapih dan sesopan mungkin. Blous putih panjang yang tidak terlalu tipis dan rok span mini warna abu-abu. Pakain dalam pun saya pakai serba putih hari itu. Bra putih tanpa tali yang melintang ke pundak dan celana dalam putih dengan jenis yang biasa saya pakai untuk sehari hari, kecuali stocking yang berwarna hitam.

Sebelum keluar kamar saya pamit kepada suami dan saya cium pipinya. Dia hanya terbangun sebentar dan kemudian meneruskan tidurnya. Pertemuan rapat diadakan di ruangan conference kecil di hotel dekat hotel tempat saya menginap. Tapi sebelumnya saya sarapan pagi terlebih dahulu di hotel.

Suasana restaurant sudah cukup ramai dengan para tamu yang menginap di hotel itu, sebagian besar turis asing manca negara. Kalau melihat suasana restaurant, seakan malas sekali untuk berangkat kerja. Para tamu yang menginap di hotel begitu santai menikmati liburannya di Bali, apalagi cara mereka berpakaian yang begitu santai. Mungkin saya saja yang terlihat rapi seakan akan berangkat bekerja.

Sesampai di hotel dimana akan diadakan pertemuan, sudah ada beberapa rekan rapat yang sudah hadir. Saya menyalami mereka terlebih dahulu dan kemudian saya menuju tempat mengambil minuman hangat. Tidak lama kemudian datang rekan saya yang akan menjadi orang yang akan saya beri presentasi hari itu. Dia ternyata baru datang dari Jakarta pagi itu dan terlihat masih membawa koper kecil ke dalam ruang rapat. Setelah berbincang bincang sedikit, ternyata dia belum menentukan hotel mana dia akan bermalam. Dia sempat menanyakan saya dimana menginap. Saya katakan bahwa saya tidak menginap di hotel itu tapi hotel yang tidak jauh dari situ.

Rapat hari itu berjalan dengan lancar dan presentasi yang saya berikan sepertinya memuaskan semua pihak yang hadir dalam rapat itu, termasuk rekan saya ini. Tepat siang harinya kami break dulu untuk makan siang bersama di tempat yang sudah disediakan hotel. Rekan saya ini seorang pria sekitar 35 tahunan dan seorang pengusaha muda. Saya sudah cukup lama mengenal dia walau tidak terlalu dekat dengan dia. Saya melihat dia sebagai mitra bisinis yang cukup baik selama ini.

Setelah makan siang bersama, rapat pun diteruskan dengan pembahasan bisnis yang lebih detail. Sekitar jam 3 sore rapat selesai. Lega rasanya ketika selesai, terasa sudah bebas dari urusan kerjaan dan tinggal menikmati liburan beberapa hari saja. Ketika saya akan meninggalkan ruang conference, mitra bisnis saya menyapa saya dan menanyakan apakah hotel dimana saya menginap masih ada kamar untuk bermalam walau belum membuat reservation. Karena suasana Bali yang relatif masih sepi sejak kejadian bom yang lalu, saya katakan untuk coba ke sana saja menanyakan langsung.

Akhirnya bersama-sama kami menuju hotel dimana saya menginap. Ketika di front hotel ternyata masih ada cukup kamar yang kosong dan saya minta dengan rate khusus yang biasa saya pakai. Dia terlihat senang sekali, karena memang suasana hotelnya cukup enak untuk bersantai. Setelah selesai urusan administrasi, maka kami berpisah di loby hotel.

Ketika saya kembali ke kamar hotel, suami tidak ada di tempat, tapi koper dan tas kerjanya sudah rapih disiapkan untuk keberangkatan malam ini. Saya SMS suami bahwa saya sudah kembali dari pertemuan rapat. Rupanya suami sedang jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk dibawa ke luar negeri nanti malam.

Karena masih sore dan udaranya cukup enak, maka saya menyempatkan diri untuk berenang di kolam renang hotel. Saya memang sudah sejak dari jakarta menyiapkan baju renang. Baju renang saya rata-rata jenis 2 pieces. Sepertinya kalau ke Bali tanpa meluangkan waktu untuk berenang, terasa sia- sia saja dan sangat sayang.

Kolam hotel dimana saya menginap cukup luas dan enak sekali suasananya. Saya menikmati sekali berenang hari itu, serasa badan begitu enak dan terasa begitu santainya dengan suasana di hotel itu. Cukup lama juga saya berenang dan kemudian menyempatkan diri istirahat di bar yang ada di swimming pool sambil menyicipi fruit punch.

Tanpa sadar ada seorang pria dari tepi kolam memanggil saya,

“Tante… tante…” tapi saya tidak sadar kalau orang yang memanggil-manggil itu bermaksud memanggil saya. Baru setelah dia memanggil dengan nama, saya menoleh. Awalnya saya kurang inget siapa gerangan yang memanggil-manggil saya itu.

“Tante, saya Aris… masih inget saya?” kata pria ini.

“Tante Ratna kan? Teman mama… ibu Frida…” kata pria ini kembali berusaha untuk mengingatkan saya.

Baru saya ingat ketika menyebutkan nama Frida. Dia Aris, anaknya Frida ternyata.

“Aduh maaf… tante sampai tidak inget… habis penampilan kamu sudah beda…” jawab saya sambil berenang ke tepi kolam dimana Aris berdiri. Saya minta Aris menarik saya ke atas kolam.

“Habis kamu beda benar sih penampilannya dengan dulu… sudah kuliah ya sekarang?” saya menanya kembali sambil mengelap badan saya yang basah dengan handuk. Dengan Aris dulu saya pernah punya cerita yang cukup manis ketika hujan membuat banjir Jakarta beberapa tahun yang lalu. Dia sudah menjadi pria yang dewasa, badannya tinggi dan cakep. Aris beberapa kali memandangi tubuh saya yang sedang memakai baju renang, terutama bagian dada saya.

“Kamu lagi apa di sini? Menginap di sini? Sama siapa ke Bali?” saya bertanya beberapa kali.

“Aku sama mama ke Bali dan janjian sama teman-teman kuliah untuk ketemu disini.” kata Aris.

“Tapi aku dan mama tidak menginap di hotel ini. Teman aku yang menginap di hotel ini.” dia meneruskan penjelasannya.

“Masih lama kan di Bali kamu dan mama?” saya bertanya,

“Salam ya sama mama, tolong bilang tente ingin ketemu nanti.” Kemudian saya memberi tahu nomer kamar berapa saya menginap, dan tidak lama kemudian kami berpisah di seputar kolam renang.

Langit sudah mulai gelap dan saya kembali ke kamar untuk mandi. Ketika mandi saya teringat kejadian dulu bersama Aris ketika menginap di rumahnya.

Hari itu saya benar-benar tidak menduga Jakarta akan kebanjiran seperti itu dan semua di luar perkiraan. Di hari yang mereporkan itu seperti biasa saya pergi bekerja, hanya saja hari itu saya harus keluar kantor ke tempat lain yang berada agak jauh dari pusat kota. Sebenarnya saya sudah malas untuk pergi karena cuacanya tidak enak, tapi terpaksa harus pergi juga. Dari kantor saya diantar mobil sampai ke tempat tujuan melalui jalan toll arah ke Merak. Sesampai di tujuan, saya di drop saja karena waktu itu saya pikir nanti sore biar mobil saya saja yang menjemput kesini.

Urusan kerjaan di tempat itu lancar tidak ada masalah, bahkan sempat sedikit santai di restoran dekat sana untuk sedikit makan makanan ringan dan minum bersama relasi. Kami berempat dan hanya saya sendiri yang wanita, cerita sedikit soal kerjaan dengan diselingi cerita di luar itu. Cukup enak juga suasananya, entah mengapa mereka begitu antusias mendengarkan cerita saya, tapi kadang agak kikuk juga ya dilihat tiga pria yang matanya semua melihat ke saya. Tapi biasalah namanya pria, kadang-kadang matanya mencuri-curi pandangan melihat sekitar dada saya dan kadang ke arah paha saya yang sedikit terlihat karena rok saya yang mini itu, yang penting kan mereka tetap sopan.

Menjelang sore ketika saya akan pulang, saya telpon ke suami menanyakan apakah supir sudah menuju tempat saya, karena belum juga tiba, tapi menurut suami mobil sudah dari tadi menuju tempat saya. Melihat saya agak kebingungan, salah satu dari mereka menawarkan untuk ikut mobilnya dan mau mengantarkan saya. Tapi saya merasa tidak enak, jadi saya tolak. Karena sudah sore maka kami keluar dari restoran kemudian berpisah disana. Tinggal saya sendiri yang masih disitu. Tidak lama setelah itu handphone saya berbunyi dan itu dari suami dan katanya dia dapat telpon dari supir, mengatakan supir tidak bisa menuju tempat saya karena jalanan yang akan dilewati banyak yang tergenang air dan jalan toll macet hampir tidak bergerak. Suami sendiri pulang pakai mobil dari kantor dan sedang menuju rumah dan katanya dia juga mengalami macet.

Saya jadi semakin khawatir dan bingung. Akhirnya saya beritahukan suami biar saya pulang pakai taksi saja yang kebetulan banyak terlihat di sekitar situ.

Saya lupa nama taksinya tapi yang penting ada kendaraan untuk pulang walaupun pasti mahal nantinya. Hujan mulai turun agak lebat, tapi jalanan lancar-lancar saja dan saya pikir akan tidak ada masalah, paling hanya macet sedikit nanti di pintu keluar toll. Tapi ternyata salah dugaan saya. Mau keluar jalan toll, padahal masih jauh tapi sudah macet dan hampir tidak bergerak. Entah seberapa lama baru bisa keluar dari toll, tapi di luar sudah mulai gelap dan jalanan tetap macet.

Akhirnya taksi yang saya tumpangi keluar juga dari jalan toll, tapi yang jelas memerlukan waktu lebih dari sejam bahkan mungkin lebih, saya sendiri sudah tidak peduli lagi waktu itu. Padahal pada hari biasa mungkin kurang dari setengah jam sudah bisa keluar dari toll yang saya maksud.

Tapi saya belum bisa tenang, karena perjalanan masih jauh dan jalanan begitu macet hingga tidak bergerak sama sekali. Sementara itu hujan di luar semakin lebat dan jalanan yang awalnya hanya tergenang air sedikit, semakin lama semakin tinggi. Sampai selang beberapa waktu supir taksi mengatakan sesuatu yang membuat saya shock. Supir taksi minta saya turun di jalan saja karena taksinya sudah kehabisan bensin dan tidak bisa terus lagi. Tentu saja ini membuat saya sangat bingung karena bagaimana selanjutnya untuk bisa pulang. Saya juga tidak bisa bilang apa-apa lagi ke supir taksi, segera saya bayar dan keluar dari taksi. Di luar hujan masih turun tapi tidak lebat tapi tetap saja baju menjadi basah, apalagi saya tidak membawa payung.

Dengan berjalan kaki menyelusuri trotoar, saya berusaha mencari tempat untuk berteduh. Air sudah dari tadi terasa masuk ke dalam sepatu dan baju pun semakin basah. Sampai akhirnya saya mendapatkan tempat untuk berteduh yang agak luas, tapi itu juga sudah ada beberapa orang yang bertujuan sama dengan saya. Tepatnya itu di depan toko yang sudah tutup dan depannya sedikit luas dan terlindung dari hujan yang sedang turun, selain itu lampu penerangannya cukup terang jadi terasa agak aman.

Ketika saya datang untuk ikut berteduh, pandangan semua orang yang berada disitu yang kebetulan semua pria, tertuju ke saya. Tadinya saya tidak begitu menghiraukan karena mungkin karena melihat seorang wanita yang sedang basah kuyup. Baru saya sadar setelah beberapa menit disitu. Saya melihat baju atasan yang berwarna putih yang saya pakai sudah basah sekali hingga melekat di badan. Karena bahannya tipis maka terlihat benar badan saya mendekati transparan.

Dalam keadaan biasa saja bra yang saya kenakan terlihat dengan jelas, apalagi sekarang. Ditambah lagi hari itu saya memakai bra yang tipis mendekati transparan. Jadi kalau kena air seperti itu sudah pasti dada saya kelihatan dan mengecap, terutama bagian tengahnya. Kalau di luar negeri mungkin saya masih bisa tenang sedikit karena tidak terlalu banyak yang memperhatikan dan peduli dengan penampilan saya. Begitu kikuknya sampai sengaja kedua lengan saya tempelkan ke dada saya, pura-pura seperti orang kedinginan.

Dalam keadaan bingung seperti itu tiba-tiba pria di sebelah saya yang juga sedang berteduh mengajak bicara saya. Sepertinya pria kantoran yang juga hampir senasib dengan saya. Bicaranya cukup sopan walaupun pandangan matanya tetap saja mencuri-curi kesempatan melihat badan saya yang sudah basah itu. Awalnya dia menanyakan mengapa saya bisa sampai basah kuyup begitu. Sayapun mulai menceritakannya secara garis besarnya saja. Ada beberapa pria lain yang ikut juga mendengarkan cerita saya.

Entah karena kasihan dengan saya atau ada maksud tertentu, dia menawarkan sama-sama mencari kendaraan lain yang bisa sampai ke tempat tinggalnya yang relatif tidak begitu jauh dari situ dan kemudian dari sana dengan kendaraan pribadinya dia mau mengantarkan sampai ke rumah. Sesaat saya anggap suatu ide yang bagus, tapi terus setelah lebih lama saya pikir akhirnya saya menolaknya dengan halus dengan mengatakan saya lagi menunggu kenalan untuk menjemputnya di situ. Pada saat itu memang saya terpikir sesuatu yang lain.

Saya teringat dengan teman saya yang rumahnya yang tidak jauh dari tempat itu. Saya coba menelpon rumahnya, setelah agak lama baru ada yang mengangkat, ternyata hanya anaknya saja yang ada, tapi saya diberitahu nomer hp-nya dan segera saya menghubunginya. Dia cukup surprise juga mendapat telpon dari saya karena sudah lama kami tidak berhubungan. Dia sedang dalam perjalanan pulang bersama suaminya juga. Saya ceritakan masalah saya dengan ringkas dan kemudian minta tolong apakah bisa mampir sebentar di rumahnya.

Mendengar itu teman saya segera mempersilahkan untuk mampir ke rumahnya. Tapi karena dia juga dalam perjalanan pulang dan kondisi jalanan juga macet maka dia mau menghubungi anaknya di rumah supaya menjemput saya. Seperti mendadak mendapat suatu jalan keluar, hati menjadi senang dan lega rasanya. Berarti saya tinggal tunggu saja untuk di jemput di tempat saya berteduh.

Mungkin setelah menunggu sekitar setengah jam, baru anak teman saya datang. Ketika datang saya tidak sadar dan tidak begitu memperhatikannya karena tidak disangka anak itu menjemput saya dengan motor trailnya. Saya juga sedikit lupa wajahnya karena sudah lama tidak bertemu. Tadinya dia hanya melambai-lambaikan tangan saja ke arah saya, baru setelah dia memanggil-manggil nama saya,

“Tante! Tante! Tante Ratna!” saya sadar itu adalah anak teman saya.

Namanya Aris. Waktu terakhir ketemu dengannya, dia masih di SMP dan tidak setinggi sekarang. Umurnya beberapa tahun di atas umur anak saya yang paling besar. Dia sekarang terlihat lebih dewasa. Dia minta maaf karena menjemput saya pakai motor karena menurutnya lebih cepat pakai motor dan tidak terkena macet. Saya katakan tidak apa-apa, saya juga dulu waktu muda senang naik motor, dan memang cukup lama juga tidak merasakan naik motor, apalagi ini dibonceng, padahal dulu saya lebih sering membonceng orang termasuk suami saya sendiri ketika masih muda.

Ketika dibonceng saat itu saya tidak begitu merasakan apa apa selama perjalanan ke rumah dia, tapi kalau sekarang saya ingat mungkin telah mengganggu perasaan si Aris, apalagi lagi masa puber. Saya dibonceng dengan duduk seperti tidak memakai rok saja, karena memang tidak biasa dari dulu kalau duduk miring di bonceng. Waktu itu saya tidak sadar memeluk Aris dari belakang dengan erat dan begitu merapat. Saya sendiri mungkin refleks karena kedinginan sehingga begitu hangat rasanya.

Awal perkenalan saya dengan Frida, ibunya Aris, terbilang agak unik. Sebenarnya suaminya lah yang teman suami saya sejak dahulu. Sampai suatu waktu ketika kami bersama-sama berlibur keluar kota, saya mengenal mereka lebih dekat dan akrab, terutama dengan Frida. Sebelum dengan Frida, suaminya sudah pernah menikah dengan wanita lain dan Aris adalah anak dari perkawinan dengan istri sebelum Frida. Istri pertamanya kalau menurut suami saya, sudah tidak ada karena sakit. Saya sendiri tidak pernah menanyakan soal itu ke Frida karena segan untuk menanyakannya. Frida sendiri baru berumur sekitar awal tiga puluhan, agak jauh jaraknya dengan suaminya.

Singkatnya, waktu kami pertama kali berlibur itu dengan ide suami dan suaminya, kami berempat menikmati permainan sex bersama-sama di hotel kami menginap. Di double bed yang lebar itu kami bersama-sama melakukan sex. Awalnya kami mulai pemanasan dengan pasangan masing-masing dan sedikit melakukan oral sex. Tapi kemudian dengan tuntunan suami dan suaminya, saya dan Frida seperti disatukan dan suami kami saling menikmati tubuh kami dengan meraba dan mencium berbagai tempat pada badan saya dan Frida. Saya menikmati permainan kami, ada rasa nikmat yang berbeda kalau dibanding dengan sex berdua saja.

Pada saat itu saya baru mengetahui dan tebakan saya ternyata memang benar, Frida adalah wanita yang memiliki kepribadian bi-sex. Itu terlihat ketika mulut suaminya sedang menikmati mulut vagina dan clitoris saya, Frida dengan semangat dan agresifnya menciumi dan menjilati kedua payudara saya dengan selingan menciumi bibir saya sesekali. Tentu saat itu begitu nikmatnya sehingga saya sendiri sudah tidak begitu memperdulikannya lagi. Padahal saya bukan orang yang suka dengan sejenis, tapi ciuman Frida di sekitar dada dan bibir saya menambah kenikmatan dan benar-benar membuat saya terangsang saat itu. Mungkin karena kami ada prianya di situ dan kami menikmati bersama-sama, kalau itu semua wanita mungkin saya tidak mau.

Pada akhir dari permainan kami itu, para suami saling menikmati klimaksnya dengan pasangan temannya, jadi suami Frida benar benar “in” dan sampai klimaks di dalam vagina saya. Begitu juga dengan suami saya, dia menumpahkan spermanya di dalam vagina Frida.

Sejak pengalaman menarik dengan mereka, setelah itu sempat beberapa kali kami bermain seperti itu di tempat lain. Sudah lama juga saya tidak bertemu dan ngobrol ngobol dengan Frida, mungkin kalau tidak musibah banjir ini saya tidak akan menghubungi dia, masing-masing sibuk.

Ketika sampai di rumah Frida memang tidak ada orang di sana selain Aris dan pembantunya. Rumahnya terasa sepi sekali. Aris mempersilahkan saya masuk dan menawarkan mandi dan ganti baju di tempatnya, karena dia sudah dipeseni oleh orang tuanya.

Dia mengantarkan saya ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya yang agak besar dan dia mengatakan akan kembali lagi untuk mengantarkan handuk dan pakaian sementara yang bisa saya pakai.

Kamarnya seperti umumnya anak pria zaman sekarang, tapi terlihat cukup rapi. Disamping tempat tidurnya yang lebar terlihat meja belajar dan stereo set. Di salah satu sudut kamarnya juga ada TV yang agak besar. Saya segera masuk ke kamar mandi yang hanya disekat oleh kaca buram yang besar, tidak ada pintu. Saya sudah tidak tahan untuk segera membuka baju yang sudah melekat dan basah itu. Celana dalam dan bra saya juga sudah basah dengan air hujan, segera saya cuci supaya besok bisa dipakai lagi. Rasanya begitu nikmat ketika shower yang hangat membasahi badan dari ujung kepala sampai ke kaki. Ketika lagi mandi yang sampai sekarang masih saya ingat adalah terasa payudara terasa kencang dan kedua puting saya keras dan tegang. Terutama ketika saya menyabuni seluruh badan, sempat saya menekan nekan sedikit kedua payudara, seperti ada perasaan yang memanas di dalam hati saat itu.

Ketika sedang asyik shower, tiba tiba terdengar sekat kaca kamar mandi di ketuk dan segera saya menoleh ke arah sekat kaca itu. Ternyata si Aris yang mengetuk dan dia membawakan handuk dan pakaian dan dia letakkan di luar kamar mandi. Saya agak curiga sepertinya dia sudah dari tadi ada di sana, karena tadi sebelum kaca diketuk, seperti ada suara orang yang memanggil- manggil. Mungkin dia sempat mengintip atau melihat saya yang sedang telanjang dari balik kaca buram itu. Maklum anak lagi dalam masa puber.

Sebelum meninggalkan kamarnya, dia berpesan agar setelah selesai mandi saya pergi ke ruang makan. Selesai mandi dan mengeringkan badan dengan handuk yang tadi disediakan Aris, saya memakai baju yang dipinjamkannya. Ternyata dia menyediakan baju model kimono untuk tidur yang seperti biasanya ada di hotel-hotel. Apa boleh buat, terpaksa saya pakai. Sebenarnya agak kurang sreg juga dengan memakai kimono ini tanpa didalamnya memakai celana dalam dan bra. Penutup kimono ini hanya tali pengikat di pinggang, kalau kurang rapi memakainya tentu bagian dada bisa di intip dan juga paha.

Di ruang makan, saya dan Aris makan malam berdua saja, Frida dan suaminya belum juga sampai di rumah. Selesai makan kami pindah ke ruang keluarga dan sambil menonton TV kami pun berbincang-bincang. Beberapa kali sejak di meja makan, Aris mencuri-curi pandang ke arah saya. Memang dia sekarang semakin dewasa dan mukanya cakep mirip bapaknya, perawakannya juga sudah postur orang dewasa. Di ruang tamu ketika bicara, beberapa kali saya membetulkan belahan kimono saya, karena duduk di sofa yang agak rendah. Itu pun selalu setelah saya melirik ke mata Aris yang mulai resah duduknya dengan mata memandang ke bagian kaki saya. Cukup lama juga kami berbincang bincang, sempat menanyakan ke dia soal hobbynya dan masalah pacar dan lain-lain.

Orang tuanya baru tiba di rumah setelah agak malam. Mereka juga terjebak macet karena hujan dan banjir. Karena sudah lama tidak bertemu, membuat suasana menjadi begitu meriah. Ketika bertemu Frida, dia segera merangkul saya dan menciumi kedua pipi saya. Saya juga menyalami suaminya dan dia tersenyum dengan senyuman khasnya sambil mencium kedua pipi saya.

Saya juga membalasnya dengan ciuman di pipinya. Kita berbincang-bincang sebentar di ruang keluarga, terutama cerita soal banjir. Frida segera minta maaf ketika dia melihat kimono yang saya kenakan, dan dia berjanji mau meminjamkan baju yang lainnya. Tidak lama setelah itu saya di antarkan Frida ke ruang tidur tamu dan kunci pintu kamar dia bukakan dan dia serahkan ke saya, tidak lupa saya ucapkan terimakasih karena sudah merepotkan mereka. Kamar tidur Frida dan suaminya terletak di sebelah kamar tamu.

Kamar tamunya terlihat rapi dan memang jarang dipakai selain oleh tamu. Antara kamar tamu dengan kamar Frida ada connecting door yang bisa di kunci dari kedua sisi. Saya sempat rebahan sebentar di tempat tidur dan menelpon suami agar tidak perlu khawatir lagi dan minta besok pagi di jemput.

Tidak lama setelah saya berbaring di tempat tidur, terdengar ketukan dan suara Frida memanggil saya dari balik connecting door. Saya segera membuka kunci pintu dan membuka pintunya. Frida dengan membawa beberapa bajunya masuk ke kamar tamu dan semua baju diletakkan di tempat tidur. Saya diminta mencobanya satu-satu. Dia juga membawa celana dalam baru yang masih dalam plastik, tapi saya menolaknya. Baju atasan dan bawahan saja yang saya pilih-pilih. Frida ukuran badannya sedikit lebih kecil dari saya sehingga saya harus memilih baju yang ukuran free size atau yang dari bahan elastis, seperti bahan kaos. Frida juga sibuk membantu memilih baju.

Sementara dia memilih, saya membuka baju kimono yang saya pakai, Frida sedikit tersenyum ketika saya membuka baju, mungkin karena saya tidak memakai apa-apa lagi di dalamnya. Dua tiga baju dicoba tapi kurang pas di saya, semua bajunya kebanyakan baju yang ngepas di badannya. Ketika saya melepas baju yang dicoba, dia juga membantu melepaskannya dan dengan sedikit memandang ke badan saya dia memuji-muji bentuk postur badan saya. Sempat tangannya menyentuh pinggang dan payudara saya dengan ringan. Ukuran payudara dia sedikit lebih kecil dari saya. Sepertinya dengan basa-basinya dia ingin lebih menyentuh badan saya, tapi saya segera mengalihkan pembicaraan agar dia berhenti menyentuh badan saya. Saya kurang biasa kalau disentuh wanita, apalagi kami hanya berdua saja.

Saat itulah, terdengar suara suami Frida dari ruangan sebelah memanggil Frida, sepertinya baru selesai mandi. Frida memberi tahu bahwa dia ada di kamar sebelah sedang memilih baju untuk saya. Suaminya kemudian mengatakan ke Frida kalau sudah selesai, saya disuruh ke kamar mereka untuk ngobrol-ngobrol kalau belum mau tidur. Kamar tidur mereka cukup besar dan di dalamnya ada ruangan lain kecil untuk duduk duduk dan menonton TV, hanya disekat dengan sederhana. Kamar itu dilapisi permadani yang tebal bulunya seakan kulit binatang buas dan sekelilingnya tersedia bantal bantal duduk, jadi kita bisa duduk di permadani dengan santai sambil menonton TV.

Akhirnya saya memilih baju atasan kaos lengan panjang berwarna cream dengan kancing di depan, bahannya agak tipis tapi bagian dadanya cukup tertutup kalau kancing yang atas ditutup, karena ukurannya tidak pas dengan saya, terkesan sempit dan kancing-kancingnya seperti tertarik ke samping terutama bagian dadanya, sehingga baju sedikit terangkat dan bagian pinggul dan pusar saya sedikit terlihat. Bawahannya hanya dapat celana jeans pendek yang ujungnya berserat serat, sebenarnya kalau bisa mau cari yang lain lagi karena terlalu pendek, hanya sebatas pangkal paha lebih sedikit, tapi ya sudah lah. Tapi baju dan celana itu tidak segera saya pakai, sayang, untuk besok pagi saja setelah mandi, sekarang biar dengan kimono ini saja.

Suasana ruangan duduk di kamar tidur mereka cukup menyenangkan, kami bertiga duduk berderet, Frida duduk di tengah. Sambil menonton TV kami berbincang-bincang dengan santainya dan penuh tawa. Awal pembicaraan suami Frida menanyakan keadaan keluarga saya termasuk suami saya. Suami Frida sangat gembira bisa bertemu saya, apalagi menurutnya sudah lama kami tidak bertemu, mungkin sudah setahun lebih. Sebenarnya saya tahu setelah pertemuan terakhir kami waktu itu, Frida sempat bertemu dengan suami saya dan mereka sempat menikmati tidur bersama, semua itu suami pernah cerita ke saya, tapi karena Frida diam saja soal itu maka saya juga pura-pura tidak tahu dan mungkin Frida memang tidak cerita ke suaminya.

Ada satu hal yang membuat hati saya memanas, suami Frida sempat bicara kalo katanya mereka tidak menyiapkan acara khusus karena saya datang mendadak ke rumah mereka. Dia sempat bicara ke Frida dan saya di ruangan itu bahwa malam ini kita harus ada acara khusus. Frida tersenyum penuh arti dan begitu juga saya.

Fokus pembicaraan kembali soal saya yang kehujanan, suami Frida sampai bertanya soal baju saya yang basah berikut bra dan celana dalam saya dengan penuh humor. Kira-kira pembicaraannya seperti berikut waktu itu;

“Jadi kamu benar-benar basah kuyup sampai ke dalam?”

“Ya iya lah, mas… lihat saja sekarang apa yang dia pakai,” kata Frida.

“Ini di dalam kimononya tidak pakai apa-apa lagi…” Frida meneruskan.

Suami Frida tertawa penuh arti, sedikit ngeres.

“Tuh kan… mulai pikiran kotornya.” kata Frida sambil tertawa, dan kami pun bertiga tertawa.

“Dia ini, Rat, sekarang lagi enggak mood sama aku, padahal aku sudah pakai baju tidur tipis seperti ini…” kata Frida sambil kedua tangannya meremas payudaranya dari luar baju tidurnya.

Memang malam itu Frida pakai baju tidur yang begitu sexy, kelihatan kedua payudaranya membayang bayang di balik bajunya.

“Dia lagi kepingin megang ini kamu…” kata Frida sambil salah satu tangannya memegang dada saya dan menggenggam payudara saya dari atas baju saya. Saya agak kaget, tapi entah kenapa waktu itu, saya hanya diam saja membiarkan tangan Frida menggenggam payudara saya, dan anehnya suasana tetap saja penuh humor.

Suaminya pura-pura tidak mendengar, matanya dialihkan ke TV, Frida juga mulai iseng dengan tangan yang satunya segera menuju ke daerah bawah pusar suaminya yang juga mengenakan baju tidur kimono seperti saya. Tangan Frida menyelinap ke balik kimono suaminya dan sepertinya mengelus-elus penis suaminya.

Klik Halaman Selanjutnya…

“Tuh kan, Rat, lihat ini… dia sudah tegang,” kata Frida sambil meminta saya melihatnya.

Sebenarnya saya juga sudah mulai terangsang ketika Frida meremas dada saya, terasa dari dalam vagina saya cairan sedikit keluar dan terasa basah.

Begitu cepatnya kejadian berlangsung, tangan Frida yang tadi menggenggam payudara juga menyelinap ke balik belahan kimono di dada saya dan telapak tangannya langsung menggenggam payudara saya.

“Rat, kamu juga sudah keras begini…” Frida berbisik di kuping saya.

Saya sama sekali tidak bereaksi, malah membiarkan tangan Frida memainkan payudara saya. Pada saat itu saya masih ingat, suami Frida menoleh ke kami berdua dan pandangan matanya bertemu dengan mata saya, saling memandang.

Setelah itu saya sudah tidak ingat lagi kejadian selanjutnya dan tidak ingat lagi urut-urutannya. Pokoknya waktu itu terus kami saling memulai permainan yang mengasyikan. Yang masih ingat dan terkesan ketika Frida dan saya berposisi 69, dia terlentang di bawah dan saya di atas seperti anak bayi merangkak, dan suaminya berlutut tepat dia depan saya, penisnya diberikan ke saya dan saya melakukan oral, terasa begitu keras dan tegang di dalam mulut.

Sementara itu kedua tangan suami Frida terus meremas-remas dan mempermainkan payudara dan puting saya. Terasa mulut Frida dan lidahnya menjilat-jilat mulut vagina dan clitoris saya dan Madang-kadang terasa lidahnya memasuki vagina saya. Rasanya ketika itu susah untuk diceritakan, pokoknya saya begitu terangsang, semakin lama semakin basah mulut vagina saya, banyak mengeluarkan cairan, tapi Frida terus tidak henti-hentinya menjilatnya, terdengar suara lidahnya.

Penis suami Frida juga terus saya mainkan, sepertinya dia juga begitu terangsang, dari ujung penisnya terasa cairannya keluar sedikit-sedikit setiap sedikit saya hisap, rasanya asin dan agak lengket dan setiap itu juga tangannya semakin keras memainkan payudara saya.

Suami Frida dengan baiknya memperlakukan Frida dan saya, bergantian kami dipeluk, begitu juga ketika kami memasuki permainan utamanya, secara bergantian suami Frida memasuki saya dan Frida. Kami bertiga seakan bersatu menjadi satu saling merangsang dengan permainan sex itu. Pada saat-saat terakhir suami Frida mencapai klimaks, Frida menyuruh suaminya menyelesaikannya dengan saya, tapi walupun begitu suami Frida tetap minta izin ke saya dengan berbicara dekat kuping saya untuk menyelesaikannya di dalam saya.

Saya menyetujuinya dengan aba-aba kepala saya, pada saat itu mulut saya sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, yang keluar dari mulut hanya suara yang sedang menikmati sex. Sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yang panas menekan masuk di dalam vagina, suami Frida mencapai klimaks di dalam vagina saya. Saya juga sudah tidak ingat persis kejadiannya waktu itu, hanya terkesan waktu itu begitu nikmat dan mengesankan walaupun sebenarnya saya belum mencapai klimaks. Setelah selesai pun suami Frida menciumi Frida dan saya dan kami berdua dipeluknya. Kami sempat terdiam tidak bergerak disana.

Setelah selang waktu beberapa saat kemudian, saya kembali ke kamar saya dan connecting door saya kunci kembali. Begitu capek dan ngantuknya, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur dan tidak sadar saya sudah tertidur dengan lelapnya sampai tidak sempat memakai kimono tidur saya, saya biarkan tergeletak di sudut tempat tidur.

Pagi hari saya terbangun dengan sedikit kaget karena pintu kamar ada yang mengetuk dan saya lihat jam, ternyata saya sudah tertidur begitu lelap sampai hari sudah agak siangan.

Ternyata yang mengetuk adalah Aris. Begitu tergesa-gesa mau membukakan pintu, saya tidak sempat memakai rapih kimono tidur saya. Tanpa mengikat tali kimono dan hanya dirapatkan dengan tangan kemudian pintu saya buka. Aris tidak langsung bicara tapi dia sempat memandang saya yang agak kacau penampilannya, dia tersenyum dan menanyakan ke saya apakah tidurnya nyenyak, saya pun membalasnya dengan senyum. Kemudian saya tanya tentang orangtuanya. Ternyata mereka sudah pergi kerja dan sengaja tidak membangunkan saya. Aris hanya dipesani oleh ibunya untuk nanti mengajak sarapan pagi saya dan menemani saya sampai supir saya menjemput.

Karena ingin mandi, saya minta izin ke Aris untuk pinjam kamar mandinya, selain itu saya masih menjemur celana dalam dan bra saya di kamar mandinya Aris. Mungkin karena selama ini Aris saya anggap masih kecil jadi tidak terlalu peduli menjemur pakaian dalam saya di kamar mandinya.

Saya sendiri masuk ke kamar Aris dan menuju kamar mandinya. Ternyata celana dalam dan bra saya belum kering, saya pun terus mandi saja di situ. Ketika mandi dan menyabuni badan, saya masih merasakan payudara saya kencang dan puting saya terus mengeras seperti kemarin.

Selesai mandi dan mengeringkan badan, saya memakai baju Frida yang tadi malam di pinjamkan ke saya, baju kaos lengan panjang dengan kancing baju di depan yang agak kekecilan sedikit dan celana jeans pendek. Waktu memilih baju tadi malam karena lampu kamar tidak begitu terang maka tidak terlalu perhatikan benar, ternyata di kamar Aris yang terang ini ketika saya pakai baju itu, saya pun langsung sedikit tersenyum. Karena bahannya agak tipis, kalau tidak pakai bra terlihat payudara agak membayang sedikit walaupun tidak begitu kentara. Tapi yang agak membuat menantang dan menjadi perhatian adalah puting saya terlihat jelas mengecap di baju, dan karena agak sempit kancing-kancingnya sedikit tertarik dan terlihat celah celah diantara kancing. Begitu juga bagian bawah baju, karena terangkat di bagian dada sehingga pusar dan pinggul sedikit terlihat, tapi kalau kedua tangan ke atas, perut terlihat jelas. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati.

Kalau celana lumayan cukup, hanya saja paha jadinya kelihatan kemana-mana. Tapi sudahlah, waktu itu saya pikir hanya baju sementara untuk pulang ke rumah, tidak untuk dipakai kemana-mana. Setelah beres semua, saya menuju ruang keluarga dan menemui Aris dan minta kantong plastik kecil untuk menyimpan pakaian dalam saya yang masih basah itu. Aris sempat bertanya untuk apa, saya pun tanpa ada perasaan apa apa dengan polosnya saya katakan untuk menyimpan pakaian dalam yang masih basah sambil menunjukkan ke Aris. Di segera ke kamarnya dan kembali dengan kantong plastik yang bagus, saya surprise juga begitu perhatiannya ke saya.

Ketika saya memasukkan bra dan celana dalam ke dalam plastik, sepertinya Aris dengan teliti memandang saya dari ujung rambut sampai kaki, terutama bagian dada saya, berkali kali dia melirik mencuri pandang kesana. Begitu juga ketika kami berdua sarapan duduk berhadap hadapan. Ketika sarapan itu saya baru sadar anak ini sudah dewasa, sudah mengenal wanita walaupun tidak tahu sejauh mana. Perasaan selama ini menganggap masih kecil dan memang saya kenal waktu dia di SMP.

Ketika sedang makan saya baru merasakan kepala agak pusing dan badan seperti mau flu, mungkin karena kehujanan kemarin, tapi saya tahan dan meneruskan sarapan pagi. Setelah selesai, kami kembali ke kamar keluarga dan Aris menyalakan TV untuk saya. Kemudian dia minta izin mau ke garasi untuk mengerjakan sesuatu, dan kalau ada perlu minta dipanggil saja. Sepertinya dia sedang asyik dengan hobynya mengotrak-atik mobilnya. Saya duduk sebentar di ruang keluarga dan sempat membaca koran dan majalah yang ada di dekat situ. Acara TV tidak ada yg bagus, berita di TV banyak membahas masalah banjir. Saya sempat menelpon ke rumah untuk menanyakan jam berapa saya akan di jemput, ternyata menurut pembantu, suami saya pagi itu tidak mengantor.

Ternyata pusing saya tidak hilang, malah sepertinya bertambah saja dan mulai bersin-bersin. Karena takut keterusan, segera saya menuju garasi untuk bertemu Aris untuk minta obat pusing dan flu. Di garasi saya temui Aris yang sedang mengerjakan sesuatu di bawah dashboard tempat duduk kanan. Saya masuk ke mobil dari pintu kiri dan memanggil Aris, dia sedikit kaget dan terjedut dashboard. Melihat itu saya jadi ketawa dan dia pun ikut ketawa dan katanya kaget. Kemudian saya bilang bahwa saya agak pusing dan minta obat pusing atau flu. Aris minta waktu sebentar karena sedang tanggung kerjaannya. Selagi menunggu saya duduk di kursi kiri sambil memperhatikan dia bekerja, tapi tidak lama dia berhenti dan meninggalkan kerjaannya, sepertinya tidak konsentrasi di lihat oleh saya.

Setelah mencuci tangan, dia terus menuju meja bar yang ada di salah satu sudut ruangan keluarga dan saya mengikutinya dari belakang. Di dekat meja bar itu ada rak tempat obat, tapi sepertinya dia tidak menemukan obat sakit kepala. Sementara menunggu, saya duduk di kursi bulat untuk meja bar, meja dan kursinya persis seperti yang ada di bar bar itu. Kemudian Aris melihat ke atas meja bar persis di atas saya duduk, ada laci kecil disana. Dia minta tolong saya membuka laci itu. Karena agak tinggi terpaksa saya harus jinjit dan membuka laci itu. Di dalamnya ada kotak kecil dan Aris minta itu diturunkan. Karena agak tinggi saya tidak bisa memegang dengan benar kotak itu dan kepeleset. Kotak itu hampir jatuh menimpa saya. Untung Aris segera menolong meraup kotak itu hingga tidak jadi menjatuhi saya. Tapi ketika dia mau menolong itu, badannya menubruk saya dan saya juga refleks takut tertimpa, dengan cepat memeluk Aris.

Setelah kotak itu ditaruh Aris di meja bar, saya dan dia sedikit terdiam, dia minta maaf karena kejadian itu, tapi saya hanya senyum saja. Ternyata obat pusing ada di kotak itu.

Ketika dia mau memberikan obat itu ,tiba-tiba dia bicara yang agak lucu. Dia minta izin mau mencium saya. Tentu saja saya tidak ada perasaan apa-apa dan langsung memiringkan pipi saya untuk dicium. Tapi kemudian dia bilang bahwa dia masih ingat dahulu waktu pesta ulang tahunnya, saya memberi selamat dan mencium bibirnya. Kemudian saya jadi teringat waktu itu, memang saya cium dia dengan ringan bibirnya. Rupanya dia masih teringat terus ketika itu dan sekarang dia ingin membalasnya rupanya, tapi tentu dia sekarang bukan Aris yang dulu kecil itu. Tapi sudahlah, saya izinkan dia mencium saya, soalnya dia begitu lucu sekali cara bicaranya.

Dia mencium bibir saya dengan lembut awalnya, tapi semakin lama dia semakin berani dan memang pintar dia cara mencium saya. Secara refleks ciuman dia saya balas dengan mesra, tapi ini malah membuat perasaan dan suasananya menjadi aneh, karena terus terang menjadi terangsang ciuman Aris ini. Takut keterusan, segera saya lepas bibir saya dari bibir Aris, tapi sepertinya dia seakan tidak mau berhenti. Saya bilang ke Aris dengan pelan dan halus untuk menyudahinya karena saya terus terang bilang nanti keterusan dan itu tidak baik karena saya ini kan seperti tantenya saja, bukan temannya.

Seperti tidak mau berhenti disana, dia minta sekali lagi saja dan entah kenapa waktu itu saya membolehkannya, seakan tindakan saya tidak sesuai dengan ucapan saya ke dia. Aris kembali mencium saya dan sayapun menyambutnya, tapi kali ini dia lebih berani lagi, lidahnya berusaha mau membuka mulut saya dan inginmelakukan french kiss sepertinya. Karena memang pintarnya, sayapun kalah dengan kemauan Aris. Saya memerimanya dengan membuka mulut saya dan lidahnya dengan cepat masuk ke mulut saya. Sayapun menyambutnya dengan lidah saya sampai akhirnya kami melakukan deep kiss. Terus terang saya waktu itu jadi terangsang.

Tapi Aris ternyata tidak berhenti sampai disitu. Tangannya mendadak memegang dada saya, kaget saya karena sangat terasa sekali tangannya menyentuh payudara saya yang hanya ditutupi baju kaos tipis. Saya pegang tangannya dan saya coba menariknya dari dada saya, tapi seperti tidak mau menyerah, dia semakin kuat bertahan. Tapi kemudian dia melepas ciumannya dan mengatakan ke saya sejak tadi malam dia terbayang terus tentang saya dan mengganggu pikiran dia. Dia bilang mulai merasakan sesuatu ketika saya dibonceng dengan motornya, ketika saya mandi malam itu dia sempat mengintip lama, baru setelah itu dia mengetuk kaca kamar mandi. Begitu juga ketika sarapan pagi, dia terus berusaha memandang dada saya dan puting yang mengecap di baju, begitu juga paha saya. Dia sengaja tidak mememani saya di ruang keluarga pagi ini karena kalau tidak katanya semakin kacau pikirannya.

Sementara dia bercerita begitu, tangannya sudah membuka hampir semua kancing baju saya. Akhirnya saya kalah dengan alasan dia dan membiarkan tangannya terus bergerak. Saya hanya bisa memejamkan mata saja dan sayapun tidak sadar sudah terangsang. Dengan tangannya dia memainkan payudara dan puting saya dan kemudian mukanya pun membenamkan ke dada saya dan menciumi payudara saya yang sebelah kanan. Entah kenapa hari itu terasa begitu tinggi naluri sex saya, padahal semalam baru saja saya bermain dengan Frida dan suaminya bertiga.

Terasa bagian vagina saya mulai basah. Sayapun akhirnya berusaha membuka celana Aris dan dengan mudah bisa terbuka dan bersama celana dalamnya saya tarik ke bawah hingga penisnya tampak jelas. Perlahan-lahan saya mainkan penisnya, dia sudah seperti bapaknya saja. Penisnya keras sekali terasa. Kemudian Aris saya dorong dia duduk di kursi bar dan saya berlutut. Saya mulai mainkan penis Aris dengan mulut.

Ketika pertama kali masuk ke mulut, terasa penisnya bergetar dan sepertinya Aris begitu menikmati seakan belum pernah mengalami hal yang demikian. Ketika saya hisap beberapa kali, dia sdikit mengeluarkan suara dan menggenggam pudak saya. Dari ujung penisnya terasa banyak sekali keluar cairan asin terus menerus. Saya tahu dia tidak bisa lama-lama. Ketika sedang menikmati oral itu tiba-tiba pembantu rumah Frida masuk ke ruang keluarga dan dari jarak agak jauh dia mengatakan ke Aris bahwa supir saya sudah datang menjemput. Dari balik meja bar saya yang sedang berlutut tidak terlihat sehingga pembantu menyangka hanya ada Aris yang sedang duduk di sana. Pembantunya tadinya sudah mau ke kamar tamu mau memanggil saya, tapi segera Aris memotongnya dan dia bilang biar dia yang memanggilnya dan dengan nada agak maksa pembantunya disuruh keluar dari ruangan keluarga.

Setelah didengar pembantu sudah tidak di ruangan keluarga kemudian saya berhenti mencium penis Aris dan berdiri. Saya pandang mata Aris dan saya bilang,

”Sudah ya…”

Kelihatan muka Aris sedikit kecewa. Saya terus meninggalkan dia dan menuju kamar tamu tempat tadi malam saya tidur untuk mengambil tas yang masih di ruangan itu. Di kamar tamu itu saya sedikit merapikan pakaian yang sedikit kusut dan menyisir rambut. Sebenarnya saya ada rasa tidak enak juga karena harus mendadak berhenti, perasaan hati ini tidak tenang, seakan tensi darah masih tinggi.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, saya menjawabnya dan ternyata Aris yang mengetuk. Dia membuka pintu pelan-pelan dan sedikit agak ragu, terus saya suruh masuk dia ke kamar. Aris masuk dan hanya berdiri di dekat pintu. Dia minta maaf atas kejadian tadi karena merasa tidak sopan dan minta jangan dilaporkan ke orang tuanya, dia mengaku sudah tidak tahan dan tidak sabar lagi ketika di meja bar bersentuhan untuk mengambil kotak obat. Terlihat mukanya agak pucat dan sedikit ketakutan. Saya jadi kasihan dan iba dengannya.

Saya suruh Aris menutup pintu kamar rapat-rapat dan dikunci. Kemudian dia saya suruh mendekat dan saya berdiri dari tempat tidur. Di depan saya Aris hanya menunduk saja, mungkin takut akan dimarahi oleh saya. Kemudian saya peluk dia dan dengan suara pelan saya bilang bahwa saya tidak akan laporkan ke orang tuanya. Ketika berpelukan, saya merasakan penisnya masih tegang di balik celananya. Dengan suara pelan mendekati berbisik, saya minta dia membuka kancing celana jeans yang saya pakai dan resletingnya.

Dengan agak ragu-ragu dia melepaskan kancing celana saya berikut resletingnya. Saya merasakan bagian bawah sudah basah dari tadi. Kemudian saya berbaring terlentang di atas tempat tidur dan menunggu Aris menghampiri saya. Seperti sudah diberi lampu hijau, Aris dengan tergesa-gesa melepas celananya, dam memang ketika celananya dilepas terlihat penisnya sudah begitu tegang. Dia segera naik ke tempat tidur dan seakan mau menerjang saya. Tetapi ketika dia memeluk saya dan berusaha membuka kancing baju saya, saya katakan agar pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa.

Dia begitu nafsunya menciumi payudara saya, dan terasanya pinggulnya bergerak ke kiri dan ke kanan seakan mencari posisi yang tepat untuk masuk ke saya. Penisnya segera saya pegang dan saya tunjukkan ke mulut vagina. Seperti sudah mengetahuinya saja, Aris segera mendorong pinggulnya dan secepat itu pula penisnya masuk ke dalam vagina. Saya sempat mengelurkan suara ketika penisnya masuk, karena begitu merangsang.

Sepertinya Aris sudah pernah melakukan hubungan sex, terasa gerakan pinggulnya begitu membuat saya nikmat, awalnya saya masih bisa mengontrol diri. Saya biarkan dia yang aktif bergerak, hanya kadang kadang saja saya jepit penisnya. Begitu menggebu-gebu dia, tapi itupun tidak bisa bertahan lama. Akhirnya dia mengeluarkan suara agak keras dan bersamaan dengan itu terasa penisnya bergetar berkali-kali, terasa dari penisnya keluar cairan yang panas berkali-kali, menekan ke dalam vagina. Banyak sekali dia mengeluarkan spermanya dan begitu kental. Terasa setelah selesai ketika penisnya keluar dari vagina, cairannya banyak keluar kembali. Begitu perhatiannya dengan saya, Aris segera membuka baju kaosnya dan membersihkan punyanya yang keluar dari vagina saya, sementara itu saya masih terbaring dan nafas agak sesak seperti orang habis lari-lari.

Ketika saya masuk mobil, terasa nafas saya masih cepat dan supir sempat menanyakannya, saya bilang tadi lari-lari waktu mau masuk mobil. Di mobil saya cepat tertidur dan terasa nyenyak sekali tidurnya, ketika sampai rumah supir membangunkan saya.

Waktu masuk ke kamar, saya lihat suami lagi tidur terlentang dengan pulasnya. Saya dekati dia dan kening dan bibirnya saya cium dengan ringan. Dia kaget terbangun dan segera tersenyum sambil mengelus-elus pipi saya. Dia tersenyum melihat baju yang saya pakai dan dia tanyakan baju yang sempit itu. Tidak lama saya bediri menuju kamar mandi untuk mandi. Ketika membersihkan vagina, sisa sperma Aris masih ada di dalamnya.

Setelah mengeringkan badan, saya langsung menuju tempat tidur dan rebahan di atas suami saya. Dia tersenyum dan menciumi saya. Saya sengaja menggoda dia supaya penisnya mengeras, kemudian sambil saya bercerita tentang banjir, di rumah Frida dan tentang Aris, penis suami saya masukkan ke dalam vagina dan sedikit pinggul saya gerakkan. Kami tidak melakukan sex sampai selesai. Setelah selesai cerita, saya rebahan di samping suami dan kami tertidur.

Tidak terasa saya menjadi begitu terangsang di kamar mandi mengingat kejadian itu. Terasa ketika membersihkan badan bagian bawah, jari-jari saya sempat menyentuh berkali-kali sedikit agak dalam di vagina, terasa cairan vagina mulai keluar sedikit. Saya tidak bisa berbohong dengan perasaan sendiri, sangat menginginkan sex sore itu.

Ketika hampir selesai mandi, terdengar pintu kamar dibuka. Suami baru saja kembali dari luar rupanya dan tidak lama dia masuk ke kamar mandi. Sempat terjadi pembicaraan ringan antara saya dengan suami. Saya katakan untuk dia segera mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat. Tidak lupa saya menawarkan makan malam dahulu bersama di restoran hotel sebelum berangkat dan saya katakan sekalian mau mengajak rekan bisinis saya juga untuk makan bersama kami. Suami setuju dengan rencana saya.

Sekarang giliran suami yang mandi, sementara itu saya di depan meja rias mulai mengeringkan rambut dengan hanya mengenakan sehelai bath robe. Setelah selesai mengeringkan rambut, sesaat saya masih duduk di depan meja rias sambil memandang cermin. Saya memandang nipple sendiri yang terlihat agak menonjol dan keras, beberapa kali saya sentuh dengan jari-jari tangan. Sepertinya saya sudah tidak tahan lagi untuk melakukan sex, saya sangat menginginkannya.

Kemudian bath robe saya buka dan seluruh badan saya rebahkan di tempat tidur. Saya sedikit memejamkan mata dan kedua kaki saya tekuk dengan membuka selangkangan kaki agak lebar. Tidak sadar saya sempat tertidur sejenak, mungkin karena kelelahan juga dan ditambah sejenak berenang sore tadi. Entah berapa lama saya tertidur, tapi menurut perkiraan tidak begitu lama.

Saya sadar mulai terbangun ketika merasakan sesuatu di sekitar selangkangan dan vagina. Mata sedikit saya buka, terlihat kepala suami persis berada di selangkangan kaki, lidahnya berkali-kali menyentuh vagina bagian luar, bahkan kadang-kadang dia menekankan ujung lidahnya untuk masuk ke dalam vagina. Terasa setengah dari lidahnya masuk ke dalam vagina dan bergerak dengan liarnya. Gerakannya seakan ada suatu makhluk hidup yang bergerak masuk ke dalam vagina. Saya biarkan suami melakukannya, bahkan kepalanya dengan kedua tangan saya tekan dengan agak kuat, sehingga kepala suami semakin terbenam saja di selangkangan saya.

Cairan vagina yang baru saja saya bersihkan ketika mandi, kembali terasa mulai membanjiri vagina, dan tidak henti-hentinya suami pun menjilati dan menelan cairan vagina. Tanpa disadari suara desahan saya semakin keras dan ketika itu saya sudah tidak begitu ingat lagi sebesar apa suara yang keluar dari mulut saya, tak tahan menerima rangsangan lidah suami.

Tiba tiba telephone di kamar berdering dan kami berdua sempat kaget sesaat, suami berhenti menjilati vagina. Ada rasa kesal juga dengan deringan telephone itu, ingin rasanya membiarkan terus berdering. Telephone saya angkat, dan disana terdengar suara mitra kerja saya, mengatakan bahwa dia sudah berada di loby dan memang saya janji bertemu di loby untuk makan malam bersama dia. Selama saya berbincang bincang pendek dengan rekan bisnis saya, suami kembali menjilati vagina saya, hingga pembicaraan di telphone menjadi sedikit aneh bagi yang mendengarkannya, karena saya menahan agar suara tidak keluar, padahal rasanya ingin sekali berteriak. Terbukti ketika rekan bisinis saya menanyakan apakah saya sedang tidur, karena suaranya yang agak serak terdengar olehnya. Saya segera mengelak, dan mengatakan ke dia, mungkin suara saya habis, kebanyakan bicara di pertemuan tadi pagi.

Saya minta waktu sekitar sepuluh menit untuk bersiap-siap dan telphone pun saya tutup. Bersamaan dengan itu, suami menghentikan apa yang sedang dia lakukan terhadap saya dan berdiri untuk berganti pakaian. Bahkan suami menyarankan untuk segera saya berpakaian. Tidak sempat lagi saya untuk bersih-bersih ke kamar mandi. Terasa cairan vagina masih membasahi sampai keluar, walau tidak lagi bertambah banyak.

Karena hanya untuk makan malam saja dan suasananya juga suasana berlibur, jadi cepat saja saya berpakaian yang santai. Saya memakai atasan T-shirt yang agak longgar dengan lebar kerah yang agak besar, sehingga kadang-kadang kedua bahu saya terlihat terbuka karena T-shirt yang menurun kerahnya, tapi tentu tidak seperti memakai tang-top. Begitu juga bawahan memakai cukup dengan jeans pendek, walau memang terkesan terlalu pendek. Tapi biarlah, saya pikir toh ini di Bali, banyak tamu-tamu asing yang berpakaian lebih santai dari saya ini, tidak akan membuat perhatian orang.

Tidak lama bell boy mengetuk pintu kamar dan datang untuk mengambil koper dan barang-barang lain milik suami yang akan berangkat malam ini. Saya dan suami bertemu rekan bisinis saya di loby hotel, dan saling memperkenalkan diri dengan suami, dan langsung kita menuju restoran Jepang yang ada di hotel. Sambil menikmati makanan yang di pesan, kami bercerita berbagai topik, dari soal kerjaan masing-masing sampai tentang masalah sehari-hari, juga tidak ketinggalan cerita seputar bali dan terkadang kami tertawa karena hal-hal yang lucu pada cerita kami.

Suasananya pun semakin akrab, terlihat rekan bisnis saya sudah bisa santai bicara dengan saya dan tidak seformil seperti siang hari. Terlihat dia pintar untuk beradaptasi dan menyesuaikan dengan pembicaraan saya maupun suami. Pengalamannya pun sepertinya cukup luas selama ini sebagai pebisnis muda, dan tidak malu-malu atau segan bertanya kepada suami tentang hal-hal yang belum dia alami dalam dunia bisnisnya. Apalagi suami adalah orang yang selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin bertanya kepadanya.

Tidak terasa kami sampai pada makanan penutupan, tapi sepertinya waktu untuk suami sudah tidak ada, dia harus berangkat meninggalkan kami. Suami minta izin untuk pergi duluan meninggalkan restoran dan meminta saya dan rekan bisinis saya untuk meneruskan makan malamnya. Saya izin sejenak mengantarkan suami sampai depan restoran. Rasanya sedih juga akan berpisah dengan suami walau sejenak. Saya peluk suami dan beberapa kali saya beri ciuman yang manis kepadanya. Suami membalasnya dengan ciuman yang cukup mesra.

Sempat-sempatnya suami berbisik menggoda,

“Jangan nakal ya sama dia…” sambil tersenyum penuh arti. Saya pun tersenyum sambil sedikit mencubit lengannya.

Sebenarnya bagi saya, ditinggal suami pergi untuk dinas keluar negeri adalah hal yang biasa dan memang sejak dulu demikianlah kehidupan kami, tapi tetap saja setiap suami akan berangkat, ada saja rasa sedih dan kangen. Malam itupun sebenarnya ingin sekali saya bercengkrama dengannya, apalagi tadi kami terputus begitu saja karena telphone dari rekan bisinis saya.

Saya kembali ke meja makan dan kini hanya ada saya dan rekan bisinis saya saja di situ. Dia sempat memuji saya dan suami yang menurutnya kami terlihat tetap mesra walau sudah menginjak masa pernikahan yang lama. Dengan nada bercanda saya mengatakannya bahwa saya sedih ditinggal dinas suami dan harus bermalam sendiri di hotel, disertai dengan mimik yang sedikit nakal dengan penuh arti. Rekan bisinis saya pun tertawa dan kami meneruskan malan malam.

Sejak saya bertemu di loby dan makan malam ini, terlihat rekan saya ini lebih memperhatikan saya dibanding tadi siang. Semua itu terucap sendiri dari mulutnya. Menurutnya penampilan saya malam ini yang begitu relaks berbeda sekali dengan tadi siang yang serba formil dalam berpakaian dan juga dalam berbincang-bincang. Sebagai laki-laki, beberapa kali rekan saya ini memperhatikan bagian-bagian dari tubuh saya yang terlihat menarik bagi kaum pria, saya menyadari akan hal itu tapi sengaja saya biarkan saja tanpa terlalu ambil pusing. Sebaliknya setelah saya dan dia saja yang berada di meja makan itu, ketika berbicara memandang rekan saya ini, terkadang terlintas pikiran nakal saya. Membayangkan bagaimana kalau saya tidur bersamanya. Yang jelas malam itu entah kenapa, pikiran saya menerawang ke arah sana.

Selesai makan malam, saya tidak mempunyai acara apapun. Sempat sejenak kami merencanakan jalan bersama esok hari. Kami sepakat untuk bertemu esok siang di loby hotel dan setelah itu kami merencanakan untuk jalan jalan seputar bali. Ketika akan pulang ke kamar hotel, rekan saya mengantarkan sampai depan bungalow dimana saya menginap, dan kamipun berpisah di depan kamar saya.

Sempat rekan saya setengah bercanda mengatakan bahwa tentu saya malam ini kesepian tidak ada teman tidur di kamar, dengan sedikit senyum yang nakal seorang pria kepada saya.

Ketika kembali ke kamar, ternyata memang terasa ada rasa sepi di hati saya, ada sedikit rasa menyesal mengapa tidak mengajak rekan saya masuk dulu ke kamar untuk sedikit menghilangkan rasa sepi ini.

Saya segera mandi dan ingin cepat segera tidur saja rasanya, agar pikiran tidak kemana-mana lagi. Ketika shower yang hangat membasahi badan, terasa semua badan begitu sensitif. Kedua payudara saya terasa kencang dan ngilu rasnya dan begitu sensitif. Nipple terasa begitu keras dan kencang.

Ketika mengeringkan sedang badan, tiba tiba terdengar pintu kamar ada yang mengetuk. Cepat-cepat saya mengenakan bathrobe dan keluar dari kamar mandi dan menuju pintu masuk. Sebelum membuka pintu, saya mengintip terlebih dahulu. Ternyata Aris ada di depan pintu masuk. Saya agak surprise juga, tidak menyangka dia akan datang. Karena waktu pun sudah sedikit larut, walau tidak terlalu malam sekali, dan saya tidak ada janji kalau dia mau bertemu saya.

Pintu saya buka dan mempersilahkan dia masuk. Refleks saya mencium kedua pipinya. Tapi kemudia saya katakan agar duduk saja dulu, karena saya belum selesai urusan di kamar mandi. Pintu kamar mandi sengaja hanya saya tutup setengah, agar saya bisa sambil bicara dengan Aris yang duduk di sofa kamar.

“Dari mana kamu, Ris?” tanya saya.

“Tidak dari mana-mana, dari hotel langsung ke sini, tante.” jawab Aris.

“Mama mana, kok tidak diajak ke sini sekalian?” saya kembali bertanya.

“Mama lagi agak pusing, dan ini juga aku ada acara janjian sama teman-teman. Ini karena sudah melintas di dekat bungalow ini, jadi sekalian sebentar mampir ke tempat tante…” kata Aris.

“Oh begitu… jadi mama-mu tidak tahu kamu mau ke sini?” kata saya.

Aris hanya tersenum penuh arti kepada saya.

“Ris, aku mau telpon mama-mu dong. Tolong sambungkan ya…” saya meminta tolong.

Aris berpindah tempat, duduk di samping saya dan menyerahkan pesawat telpon ke dia. Tidak lama segera dia menyerahkan kembali pesawat telpon yang sudah tersambung dengan mamanya.

Ketika Frida, mamanya Aris, mengetahui kalau itu aku yang menelpon, terdengar begitu senang sekali. Kami sedikit berkangen-kangenan dan saling menjelaskan keberadaan masing-masing mengapa berada di Bali. Cerita pun mengalir begitu serunya.

“Iya, ini ada Aris di sini, dia mampir ke sini dulu katanya sebelum ke tempat temannya, kangen sama aku katanya…” saya katakan seperti itu sambil tertawa dan melirik ke Aris. Terlihat Aris mendadak mengalihkan pandangannya ke wajah saya. Sepertinya dia dari tadi memperhatikan saya di bagian lain.

Saya meneruskan pembicaraan dengan topik lain dengan Frida, sambil mengambil rokok yang ada di dekat telpon. Tanpa saya minta Aris sudah menyalakan koreknya. Kemudian dia sibuk memainkan remote TV dan duduk di sebelah saya. Ketika berbicara dengan Frida, secara refleks sesekali saya membelai rambut Aris yang berombak dan agak panjang. Seperti sedang membelai seorang anak kecil saja. Mungkin saya merasa Aris masih seperti dirinya yang waktu masih kecil, apalagi saya tahu sejak dia kecil.

Sesekali dia menoleh ke saya, tapi bukan melihat wajah saya, tapi ke sekitar dada, seakan ingin mengintip payudara saya yang hanya ditutupi oleh bath robe yang memang tidak begitu rapat saya tutup. Sejujurnya saya membiarkan dia melihat ke arah dada saya. Mungkin saja dia sudah melihat sampai ke dalam. Seakan saya sengaja memperlihatkan dada saya kepada Aris.

Saking asyik bicara dengan Frida, saya lupa untuk mencari asbak, abu rokok sudah memanjang dan akan segera jatuh. Saya memberi aba-aba ke Aris untuk mengambilkan asbak yang ada di dekat TV. Dia segera mengambilkannya. Tapi belum sempat asbak ke tangan saya, abu rokok jatuh persis ke salah satu paha saya yang tidak tertutup oleh bath robe, dan Aris menyaksikan kejadian itu. Dia segera bermaksud akan membersihkan abu yang jatuh ke salah satu paha saya dengan mengusap abu yang ada di paha saya dengan tangannya.

Sempat saya mengucapkan terima kasih ke Aris dan kemudian meneruskan pembicaraan saya dengan Frida di telpon dan membiarkan tangan Aris yang masih terus mengusap paha saya dari abu rokok. Tanpa sadar tangan Aris terus bergerak ke atas perlahan-lahan dengan sentuhan yang lembut. Saya baru sadar terasa ketika tangannya sudah mendekati selangkangan saya dan tentunya sudah menyelinap di balik bath robe yang saya kenakan. Baru saya mengalihkan pandangan saya ke bagian bawah yang dari tadi asyik bicara dengan Frida.

Dibalik bath robe, saya belum mengenakan apa-apa lagi sejak keluar dari kamar mandi tadi. Saya membiarkan tangan Aris bergerak lebih jauh dari selangkangan. Sentuhan tangannya begitu lembut, sayapun sedikit merenggangkan kaki. Dengan masih tetap berbicara di telpon, tangan saya pun dengan ringan mengelus lengan tangannya yang sedang terus bergerak itu. Terasa salah satu jari tangannya menyentuh vagina bagian luar. Aris hanya mengelus-elus ringan bibir vagina saya dengan beberapa jarinya. Saya semakin merasakan sesuatu yang nikmat dan semakin melebarkan selangkangan kaki. Selanjutnya saya hanya memejamkan mata saja dan tetap berbicara dengan Frida di telpon.

Terasa jari-jarinya membuka bibir vagina saya dan menyentuh bagian yang lebih dalam lagi. Tentu saja saya sudah basah sejak tangan Aris mulai bergerak di sekitar selangkangan kaki. Sempat ketika itu Frida di telpon menanyakan anaknya sedang apa sekarang. Saya pun terpaksa berbohong ke Frida dengan mengatakan bahwa Aris sedang menonton TV. Padahal sebagian dari ujung jarinya sudah mulai memasuki vagina saya sedikit. Tak tahan juga kadang-kadang dengan sentuhan jarinya, lengannya sedikit saya cengkram tanpa sadar. Sempat terasa dia bermaksud akan menarik tangannya dari selangkangan saya, tapi dengan menggenggam lengannya, saya tahan dan saya tarik ke arah saya, sehingga jari-jarinya semakin dalam masuk ke vagina.

Tidak lama setelah itu tangan satunya mulai bergerak mendekati pinggang saya dan melepas tali bath robe saya. Semuanya saya biarkan ia lakukan. Bahkan setelah tali bath robe terlepas, saya sengaja memperbaiki duduk saya agar Aris lebih leluasa bergerak. Bath robe yang saya kenakan, bagian depannya sudah terbuka dan bagian dada saya semakin lebar terbuka.

Aris kemudian bergerak dari duduknya yang sejak tadi duduk di samping saya. Dia berlutut di lantai dan persis menghadap saya yang masih duduk di sofa. Sekarang giliran kepalanya mulai mendekati selangkangan saya, dan selangkangan semakin saya buka lebar. Wajahnya mulai memendamkan diri ke selangkangan saya. Akhirnya terasa lidahnya mulai bergerak-gerak di seputar bibir vagina dan dengan lidahnya mulai dia tekankan ke dalam vagina hingga sebagian dari lidahnya masuk ke dalam vagina saya. Tentu saja saya sempat tersentak karena begitu terangsang, tapi tidak sempat sampai mengeluarkan suara, takut jangan sampai terdengar oleh Frida di telpon.

Cairan dari dalam tubuh saya terasa semakin banyak keluar, dan semua yang keluar itu segera dijilat oleh Aris dan ditelannya. Sementara kedua tangannya sudah mulai bergerak ke sekitar dada saya. Kedua payudara saya dia mainkan dengan kedua tangan dan jari-jarinya. Saya semakin berdebar-debar rasanya, semakin begitu terangsang.

Tidak tahan untuk tetap berbicara di telpon, segera saya berbasa basi kepada Frida untuk menyudahi pembicaraan dengan dia. Tidak lama telpon saya tutup, dan kemudian saya berpindah konsentrasi dengan apa yang sedang dilakukan Aris.

Setelah telpon ditutup, Aris mulai berani mengeluarkan suaranya ketika sedang menggerayangi badan saya bagian depan. Saya tidak ingat persis apa yang saya ucapkan dalam pembicaraan dengan Aris, tapi kira kira kami berbicara seperti ini;

“Tante, buka lebih lebar lagi kakinya, aku mau lebih dalam jilat punya tante…” kata Aris meminta.

“Kamu nakal ah… menjilati punya tante seperti ini…”

“Tante semakin banyak keluar dari dalam…” kata Aris sambil semakin menekankan lidahnya masuk ke dalam vagina saya. Gerakan lidahnya semakin nakal, seakan ada sesuatu benda hidup masuk ke vagina saya dan bergerak-gerak menjilati dindingnya. Tidak tahan lagi, suara saya semakin keras keluar.

Tidak terbayang dengan Aris yang dulu, pintar sekali dia menjilati sekarang. Saya jadi tidak tahan untuk segera dimasukinya.

“Ris, pindah ke sana yuk, sayang…” saya mengajak Aris untuk berpindah dari sofa ke tempat tidur, supaya lebih bebas lagi saya bergerak.

Saya berdiri dan jalan menuju tempat tidur sambil menarik tangan Aris. Dia pun mengikuti. Saya duduk di tepi tempat tidur, sementara Aris berdiri di depan saya. Dia segera melepas bajunya, saya membantu melepaskan celananya. Aris hanya mengenakan celana pendek dengan ikatan karet saja, sehingga dengan mudah bagi saya untuk saya tarik ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya.

Segera terlihat penisnya yang sudah berbentuk begitu sempurna, saya jadi semakin tidak tahan untuk segera merasakannya. Saya mulai mengoral penis Aris, terasa ujungnya sudah basah merembes, setiap saya oral dengan menekan ujung lidah ke ujung penis yang ada belahannya dan sedikit menghisap, maka terasa sedikit demi sedikit cairan Aris merembes keluar, terasa asin. Penisnya terlihat begitu gagah dibanding dulu ketika pertama kali bermain dengan saya.

Tidak lama setelah itu, Aris meminta saya untuk bergeser ke tengah tempat tidur. Ketika bergeser sekalian saya melepas bath robe, sehingga tidak ada apapun yang melekat di badan. Selanjutnya saya sudah tidak begitu ingat lagi yang terjadi, menikmati permainan Aris. Dia begitu pintar menghandle saya sampai saya yang hanyut dalam pelukan dia. Kita melakukan permainan sex dengan begitu bergairah, melakukan dengan berbagai posisi. Bahkan dengan posisi dia dari belakang, atau istilah yang sering orang bilang, doggy style, Aris begitu pintar gerakannya dan kuat bertahan lama. Saya menyukai juga style ini, hanya biasanya tidak bisa terlalu lama, karena yang pria justru tidak bisa terlalu lama. Sentuhan penis di dalam vagina sedikit berbeda rasanya dengan style yang normal.

Ketika Aris mendekati klimaks, saya juga sudah merasakan akan mencapai klimaks juga. Dia memberi aba-aba akan mengeluarkan penisnya. Tapi segera saya bisikkan ke kupingnya agar dia terus menyelesaikannya di dalam saya. Selain untuk menyenangkan Aris, juga saya malam itu ingin merasakan klimaks dimana ketika pria mencapai klimaks di dalam vagina. Denyutan penis ketika mengeluarkan cairan panas itu, begitu merangsang saya untuk memulai awal klimaks.

Ketika Aris mencapai klimaks, saya merasakan begitu banyak cairan Aris masuk ke dalam saya, apalagi cairannya bersatu dengan cairan saya yang juga cukup banyak sejak awal. Saat mencapai klimaks, saya tidak ingat lagi apa yang terjadi, seakan kepala saya blackout sejenak dan entah seberapa keras saya mengeluarkan suara. Sepertinya saya begitu keras memeluk Aris yang masih tetap bergerak, penisnya beberapa kali berdenyut bersamaan dengan vagina saya berirama. Ketika mulai mereda dan saya sedikit mulai bisa mengontrol diri, sempat vagina saya gerakkan dengan menjepit penis Aris yang masih bergerak di dalam, dan saat itu dia mengeluarkan suara agak keras dengan disusul dengan denyutan ringan penisnya.

Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata bagaimana nikmatnya saat saat saya dan Aris menikmati klimaks itu. Kita bersamaan terkulai lemas. Aris memutar balik badannya sehingga saya menjadi berada di atas, dia sekarang terlentang. Aris membiarkan saya yang lemas berada di atas dadanya. Penisnya masih berada di dalam vagina dan saya biarkan tetap berada di dalam sana. Dengan gerakan yang pelan, kadang-kadang pinggul saya gerakkan, sehingga masih bisa merasakan penis Aris yang berada di dalam saya.

“Tante, boleh saya malam ini tidur disini?” mendadak Aris bertanya, memecahkan kesunyian.

“Kamu tidak jadi ke tempat temanmu?” saya bertanya ke Aris.

“Saya masih kangen, ingin bersama tante malam ini, boleh kan?” jawab Aris.

Saya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kamu pintar ya sekarang… tante sampai begitu terangsang dengan permainan kamu.” saya memujinya dengan nafas yang masih terputus-putus. Sejenak saya menciumi bibir Aris dan dia membelai-belai rambut saya.

“Aku lepas ya…” kataku sambil bermaksud turun dari badan Aris dan tiduran di sampingnya.

Ketika tiduran, terasa cairan Aris banyak keluar kembali dan mengalir di selangkangan kaki. Tanpa sadar saya pun tertidur sejenak.

Entah sudah tertidur berapa lama saya tidak tahu lagi, tapi ketika sadar lampu utama kamar sudah mati dan hanya lampu di samping tempat tidur saja menyala redup. Saya tertidur miring ke samping dan Aris tidur memeluk di punggung saya, kedua tangannya berada di kedua payudara saya. Karena saya beberapa kali sedikit bergerak maka Aris pun terbangun.

“Tante…” terdengar Aris bicara dengan suara berbisik.

“Apa, sayang?” saya menjawab.

“Tidak ada apa apa, tante…” jawabnya. Terasa salah satu kakinya bergerak masuk diantara kaki saya, dan tangannya menyentuh payudara saya dengan begitu lembut, yang membuat saya menjadi terangsang kembali. Terasa penisnya berubah ukuran dan menjadi maksimal kembali, ujungnya menempel di bibir vagina saya.

Tidak tahan, saya segera membenarkan posisi penisnya dan sengaja kepala penis saya tekan hingga sedikit masuk ke dalam vagina saya yang masih basah licin berlendir. Aris sadar akan apa yang saya lakukan. Dia pun sedikit membenarkan posisi kakinya yang berada diantara kaki saya, sehingga dia bisa mendorong penisnya untuk lebih masuk ke vagina. Saya biarkan penisnya bergerak keluar masuk di vagina saya walau hanya sedikit saja.

“Kamu capek tidak?” saya sedikit bertanya dengan tetap memunggungi Aris.

“Tidak, tante, kenapa?” Aris balik bertanya kepada saya.

“Tante ingin tiduran diatas kamu.” To the point, saya meminta ke Aris.

“Boleh, tante…” dan Aris pun merubah posisi dengan tidur terlentang.

Segera saya menaiki tubuhnya dan memeluknya. Kepala saya rebahkan di dadanya. Aris sedikit membelai-belai rambut saya. Saya sengaja meminta begitu karena kali ini saya ingin menikmati dia dengan posisi saya di atas.

“Masukin ya…” saya memegang penisnya dan mengarahkan ke lubang vagina.

“Iya, tante… terasa sudah masuk sampai dalam, tante…” Aris menjawab.

Kemudian saya menaikkan badan dan duduk di atas Aris, terasa penisnya semakin masuk ke dalam. Pinggul saya gerakkan ke depan dan ke belakang dengan berirama. Aris sepertinya begitu menikmati, terdengar sedikit suaranya. Kedua tangannya menggenggam kedua payudara saya dan jari-jarinya memainkan nipple saya.

Dengan posisi terlentang, Aris terus memperhatikan saya yang sedang duduk diatas dia. Penisnya terasa nikmat sekali di dalam vagina saya. Seperti tidak tahan untuk berdiam diri, Aris pun akhirnya mengangkat badannya hingga dia pun duduk. Kedua tangannya memegang kedua pinggul saya dan mengatur agar saya tetap bergerak berirama. Beberapa kali Aris menyebut-nyebut nama saya.

“Tante… enak sekali gerakan tante…” entah berapa lama kami seperti itu. Saya juga sudah mulai tidak sadarkan diri, semua hanya naluri saja yang mengendalikan.

“Tante… saya sudah tidak tahan…” Aris memberi aba-aba.

“Sebentar, sayang… tahan sedikit… saya ingin seperti tadi, kita bersamaan ya…” saya meminta.

Ketika akan mencapai puncaknya, saya tidak ingat yang saya katakan waktu itu, tapi ketika itu Aris mengerti apa yang saya ucapkan. Dan dalam selisih waktu yang hampir bersamaan, saya dan Aris mencapai klimaks kembali. Aris maupun saya bergetar begitu hebat, dan seingatnya saya mengeluarkan kata-kata dengan suara yang agak keras tapi saya sendiri tidak ingat apa yang saya ucapkan.

Saya sendiri tidak bisa menjelaskannya, tapi memang malam itu saya dan Aris melakukan sex dengan begitu bergairah. Mungkin ini karena Aris yang begitu menggebu-gebu keinginannya bermain dengan saya. Setelah itu kami sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi, karena kami tertidur dengan cepatnya.

Saya terbangun di pagi hari oleh suara Aris yang berbisik di telinga. Sepertinya kami tanpa sadar tidur dengan saling berpelukan. Karena ketika membuka mata, wajah Aris terlihat begitu dekat ada di depan wajah saya. Aris minta izin untuk pulang. Sempat saya tawarkan untuk mandi dulu, tapi dia mau mandi di rumah saja, katanya.

Saya segera mencari cari bath robe di tempat tidur yang sudah acak-acakan karena permainan kami semalam, ketika Aris di kamar mandi untuk berpakaian. Belum sampai ketemu, Aris sudah keluar dari kamar mandi dan melihat saya yang tanpa mengenakan apa-apa sedang mencari-cari sesuatu. Kemudian dia bertanya apa yang sedang saya cari. Aris segera menemukannya, ternyata terjatuh di lantai dan agak terselip. Saya hanya tersenyum-senyum geli. Segera saya mengenakan Bath robe, tapi tanpa menutup bagian depannya karena talinya entah kemana. Langsung saja saya mengantarkan Aris sampai depan pintu kamar.

“Terima kasih ya, tante, untuk tadi malam, saya bahagia sekali hari ini…” Aris berkata sambil tersenyum dengan agak malu.

Saya hanya tersenyum membalasnya, sambil mengelus-elus kepalanya.

“Kalau sudah di Jakarta, main-main ya ke rumah tante ya… kita jalan-jalan nonton atau makan di luar juga boleh.” kata saya.

“Sekarang kan kamu sudah besar, kalau dulu tante ajak jalan-jalan kan agak kurang enak rasanya.” kata saya sambil sedikit tertawa kecil.

Sebelum keluar kamar, Aris memeluk dan mencium bibir saya. Saya pun membalas ciumannya. Bagian depan saya yang masih terbuka langsung bersentuhan ke baju Aris, dan sempat sejenak dengan ringan dia menyentuh payudara saya. Ketika itu salah satu tangannya entah sengaja atau tidak, menyentuh selangkangan saya dan salah satu jarinya agak menekan ke bibir vagina.

“Tante masih basah…” kata Aris.

“Iya ini… kamu nakal sih tadi malam… semua punya kamu ini sampai menuhin tante, harus lama bersih-bersihnya…” jawab saya sambil bercanda.

Setelah Aris pulang, saya kembali rebahan di tempat tidur dan meneruskan tidur, karena masih terlalu pagi. Janji dengan rekan bisnis saya masih nanti siang. Masih ngantuk rasanya mata, sepertinya tadi malam hanya tidur beberapa jam saja.

END

[Cerita Dewasa] Someday In Bali, Porn, Cerita Sex 18+, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Dewasa, Cerita Sek, Cerita xxx, Cerita 18+, Cerita ngesex

seksualitas

Komentar