Friend Or Fiend

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Friend Or Fiend

“Kamu bisa kerja yang bener gak sih? Dasar tolol….”

“M-maaf bos… s-saya….”Di salah satu sudut dapur, terlihat seorang manager restoran sedang memaki seorang gadis pramusaji.

Pria yang mengenakan setelan jas panjang berwarna cokelat senada dengan celana panjangnya, nampak membetulkan letak kacamatanya yang sempat turun beberapa milimeter. Tubuh tambun dengan perut buncit serta kulit wajahnya yang memerah, membuat sang manager sangat pantas disebut babi yang sedang mengamuk.

‘Sstt… kenapa tuh dia?’

‘Ngak tahu gue…. sstt udah diem aja’Bisik-bisik yang meluncur dari bibir mereka yang menyaksikan keributan itu, terdengar pelan namun bersahutan. Mereka mencoba menerka, apa sebenarnya yang menimpa si gadis malang.Gadis itu menundukkan kepala, malu. Ia menyadari bahwa dirinya memang telah melakukan sebuah kesalahan yang mampu mencoreng nama baik restoran ternama sekelas RichTaste. Sang manager menoleh sesaat ke jendela bundar yang merekat kuat pada bingkai metal pintu dapur.

Dengan mata memerah karena menahan amarah, ia mengintip sedikit ke ruang makan tempat para konglomerat berdompet tebal menyantap makanan yang dihidangkan, lalu kembali menatap gadis pramusaji dengan tatapan tajam.Friend or fiend

“Kamu tahu seperti apa reputasi restoran ini?” tanya sang manager dengan nada rendah yang berkesan mengintimidasi. Ia mendekatkan wajah dan menatap tajam ke arah sang pramusaji yang gugup diterpa berbagai pertanyaan.

“T-tahu bos…” sang pramusaji tak kuasa memandang wajah sang manager saat itu. Didera caci maki dan kata-kata kotor menusuk hati, ia hanya bisa diam meratapi nasib yang terlanjur terjadi sambil menundukkan wajah menahan tangis.

“Tahu apa? TAHU APA??” suara sang manager melengking tinggi, ia menggebrak meja hingga membuat seluruh jajaran helper dan koki serta pramusaji lain menoleh ke arahnya.

“kamu jelas ngak tahu apa-apa…”

“M-maaf bos…” sang gadis sempat terperanjat mendengar suara gebrakan meja yang begitu keras, tekanan psikologis yang saat ini ia alami benar-benar membunuh nyali dalam dirinya.

“MAAF…MAAF… heh, dengar ya… saya tidak akan mentolerir keteledoran KAMU, walaupun kamu menangis dan memohon belas kasihan. Mulai detik ini…” sang manager mengacungkan jari telunjuknya dengan tatapan angkuh

“Kamu bukan lagi karyawan RichTaste”

“T-tapi bos…..” sang gadis kini mengangkat wajahnya, berusaha memohon sebuah pengampunan kepada sang manager.

“NGAK ADA TAPI-TAPIANNN… KELUAR….” Pria itu menghardik seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu keluar dapur yang mengarah pada sebuah lorong gelap, di mana sebuah tempat sampah besar berada. Pintu itu, adalah pintu keluar kedua dari sebuah dapur pengap yang menjadi mesin uang bagi restoran RIchTaste.
Teringat bahwa ia memiliki sejumlah uang di saku jasnya, manager itu merogohkan tangannya ke dalam jas dan meraih sebuah amplop.

“Bereskan barang-barang kamu….. ini upah untuk hasil tidak berguna yang telah kamu kerjakan selama tiga minggu ini…” ia meletakkan sebuah amplop cokelat dengan ekspresi wajah geram di atas meja yang bersebelahan dengan mereka. Puas melampiaskan amarahnya, pria itu melenggang pergi dengan langkah kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan. Sebelum keluar dari ruangan dapur, ia merapikan jas yang ia kenakan, menghela napas sejenak, dan berusaha membuat senyum manis sebelum melangkah keluar.

Satu kesalahan.

Ya, hanya satu kesalahan namun fatal, yang telah mengirim nasibnya hingga berada di lembah keterpurukan, jurang kehancuran, dan belenggu nasib yang senantiasa mencabik siapa yang tidak mampu bertahan.

Mata sang gadis pramusaji terlihat berkaca-kaca.

Bibirnya bergetar, ia mencoba mengucapkan sebuah kalimat untuk meyakinkan sang manager. Namun, air mata yang sudah membasahi pipi membuat gadis itu terhenyak. Ia kembali menundukkan wajah, membiarkan air mata itu jatuh ke lantai. Hari ini, tepat tiga minggu sejak ia mulai bekerja, ia mengakhiri karir sebagai seorang pramusaji restoran berbintang.

Gundah

Mungkin perasaan itulah yang sedang merantai sebuah senyum hingga tak dapat menghiasi wajahnya.

Hidup memang tidak adil, terlebih untuknya.

Di saat ia benar-benar memerlukan sebuah pekerjaan untuk bertahan hidup, ia harus menelan pil pahit.

Pikiran sang gadis pramusaji kini dipenuhi dengan segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Diusir dari kamar kontrakan, dimaki karena tidak bisa melunasi hutang, dan kelaparan karena tidak mempunyai penghasilan.

Berbagai simpati yang ia dengar dari rekan-rekan seprofesi tak mampu menyeret kegundahan itu pergi. Ia melepaskan aprons hitam dengan logo RichTaste, melipatnya, dan meninggalkannya di dalam lemari loker bertuliskan sebuah nama, Naya Evaliani. Di dalam loker itu ia mengambil seluruh barang-barang miliknya. Sebuah tas berisi dompet dan handphone, baju ganti, dan sebuah foto yang tersemat di pintu allumunium yang di cat abu-abu.

Foto itu teramat berharga, hanya foto itulah yang mengobati sedikit kerinduannya pada sosok seorang ibu.

Tahu tidak, mengapa aku bisa menceritakan semua ini?

Aku bisa menceritakan semua ini, karena pramusaji itu adalah aku.

~***~

Mungkin memang salahku yang terlalu ceroboh.

Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa atas insiden yang kualami tadi sore.

Insiden itu berawal saat aku ditugaskan mengantar pesanan untuk meja bernomor 12A.

Saat itu, aku dengan percaya diri membawa sebuah nampan berwarna cokelat dengan dua buah piring datar berwarna putih mengkilap dan dua buah gelas berada di atasnya.

Dengan langkah santai, aku mendekati meja itu.

Di sana, aku melihat seorang pria muda bersama kekasihnya. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah gelas lilin bercahaya temaram berada di antara tangan mereka yang saling bertaut mesra.

Ahh, sialnya pria itu sangat tampan.

Mungkin lelaki tertampan yang pernah bertatapan muka secara langsung denganku.

Maklumlah jika aku sedikit salah tingkah saat berhadapan dengan pria.

Mendiang ibuku selalu melarangku untuk berpacaran, ia begitu membatasi pergaulanku. Beliau yang selalu memegang teguh norma-norma agama dan kesopanan selalu berkata ’Lelaki itu semuanya brengsek, seperti ayah kamu. Ibu gak mau kalau kamu sampai disakiti sama mereka’.

Aku mulai gugup memandang wajahnya yang rupawan, senyumnya yang menawan, dan mendengar tutur katanya yang sopan. Tak salah jika pria setampan dia mendapatkan wanita yang nyaris sempurna.

Wajah kekasihnya sungguh cantik dengan kulit kuning langsat tanpa noda berbalut gaun putih panjang sebatas mata kaki. Wajahnya sangat bersahaja dengan lesung pipi menghiasi salah satu sisinya. Rambutnya yang dicat kecokelatan begitu menawan saat tergerai anggun dengan ujung yang sedikit melingkar. Di bagian bawah, sebuah stileto dengan hak runcing menjadi penghias kakinya yang jenjang.

“Mmh… akhirnya datang” sang pria menggumam saat aku berjalan mendekati mereka.

“Selamat malam bapak, silahkan….” sapaku pada mereka dan mulai menurunkan pesanan “dua blackpepper steak wagyu dan dua orange juice…”

Kutatap wajah pria itu dengan sorot mata lembut saat aku menurunkan gelas pertama. Ia membalas tatapanku sejenak dan tersenyum. Sang kekasih sepertinya cukup cemburu karena sang pria memalingkan wajah darinya, dan tiba-tiba…

“PRAAAANKKKK……….”

Satu gelas orange juice yang masih berada di atas nampanku jatuh secara tidak sengaja dan mengenai piring yang baru saja kuletakkan.

Jus jeruk kental itu memercik, dan menodai gaun putih yang dikenakan oleh kekasih pria itu. Sang wanita sempat tertegun sejenak, ia terdiam hanyut dalam insiden yang membuat seluruh pengunjung menoleh ke arah kami.

“PLAAAKK…….” sebuah tamparan keras melayang mengenai pipiku.

Wanita dengan gaun putih itu berdiri dan segera berteriak.

“HEH…. PELAYAN TOLOL, LIAT-LIAT DONG……” hardiknya.

Wajahku pucat pasi dengan rona merah berbentuk telapak tangan di pipi. Sebuah bando yang kukenakan untuk menjaga tatanan rambutku terlepas dan jatuh di lantai ruangan.

Saat itu, aku bisa melihat dengan jelas wajah managerku yang duduk di sebuah meja yang berada di pojok ruangan bersama sang pemilik resto. Wajahnya merah padam, sorot matanya tajam seakan ingin mengoyak tubuhku.

Managerku bangkit, berjalan ke arahku, dan menyeretku ke dalam dapur setelah mengucapkan beribu maaf pada pasangan di meja nomor 12A.

Sisanya? Kalian sudah tahu apa yang terjadi.

~***~

Kini, aku duduk di dalam bus dengan tatapan kosong. Meresapi kenangan pahit yang telah terukir di catatan hidupku. Masih terbayang betapa pedih saat telapak tangan itu meluncur ke wajahku. Aku mengusap pipiku sejenak dan menemukan sebuah guratan kecil di sana. Mungkin luka ini disebabkan karena cincin yang dikenakan wanita itu.

Biasanya aku sangat menyukai momen saat bus yang kutumpangi berjalan sehingga aku bisa memandang keluar jendela. Menyaksikan hiruk-pikuk orang pulang kantor, dan kilauan lampu jalan yang temaram menenangkan. Mereka sama lelahnya denganku, berjalan dengan langkah gontai sehabis memeras tetesan keringat. Kau tahu? Itu sangat menenangkanku. Aku bersyukur bahwa bukan hanya aku yang mengalami sesaknya tercekik dalam belenggu kebutuhan hidup.

Namun, hari ini aku benar-benar tidak berselera memandang apapun. Sudah cukup masalah yang ditimbulkan karena aku memandang sesuatu. Terlebih, belakangan ini aku merasakan sebuah perasaan aneh ketika sedang berjalan di kegelapan. Seperti ada seseorang yang mengikuti.

“Tringgg…” handphoneku berbunyi di dalam tas yang kupeluk erat.

Aku meraih harta satu-satunya milikku dari dalam tas, membuka handphone dengan desain clamshell dengan motif hati berwarna pink dan mengecek notifikasi yang muncul. Sebuah SMS.

‘Hai Naya… sedang apa?’ bunyi SMS itu

Ternyata SMS itu dari Tomi. Seorang pria asing yang kukenal dari SMS nyasar.

Aku belum pernah bertemu dengannya, bahkan mengetahui tampangnya saja belum pernah. Aku seperti menjalani sebuah blind date saat ini, walaupun hubungan kami tak lebih dari teman ngobrol semata.

“Aku lagi stress Tom, maaf” jawabku.

Setelah aku menekan tombol hijau yang tersemat di antara keypad, sebuah gambar amplop putih terlihat di layar handphone, menandakan SMS balasan telah kukirim padanya.

Sudah hampir satu bulan aku mengenal nama Tomi.

Kami hanya berkomunikasi melalui SMS tanpa pernah menelepon atau mengajak bertemu. Kumatikan profil suara pada handphoneku yang agaknya sudah ketinggalan jaman, menyisakan profil silent tanpa getaran agar menjaga SMS tetap masuk tanpa harus mengganggu lamunanku.

‘Oh tuhan…. aku harus apa’ batinku. Air mata mulai membuat pandanganku membias. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, namun dadaku justru sesak oleh segala kegundahan yang ingin kutumpahkan dalam tangis.

Entah cobaan apa lagi yang diberikan Tuhan. Aku kini terkurung bersama orang-orang yang sama lelahnya denganku. Semua itu membuatku mengurungkan niat untuk menangis, aku tak tega bila membuat mereka menerka

’ada apa gerangan?’.

Setelah dua bulan berselang sejak ibuku meninggal dunia, hidupku kini terlunta-lunta. Sementara ayahku? Dia mungkin sedang bersenang-senang bersama wanita jalang entah di mana. Pria brengsek itu meninggalkanku bersama ibu saat usiaku baru menginjak lima tahun. Alasannya sederhana, menurut cerita ibu, ayah meninggalkan dirinya karena vagina ibu dirasa sudah tidak nikmat lagi setelah melahirkan aku.

Apakah semua pria selalu berpikir layaknya bajingan itu? Mungkin ibu benar.

Andai kata kenyataan berkata seperti itu, maka aku akan memilih menjadi lesbian atau lajang seumur hidup. Tapi aku bukan ibuku. Kendati ia begitu mengekang pergaulanku, aku tetap berprinsip untuk membuka hati bagi para pria. Berharap naif, bahwa seorang pangeran tampan dengan kuda putih akan menjemputku suatu hari nanti.

Kini tinggallah aku sendiri, meratapi nasib di tengah ibukota Jakarta yang kejam.

Pergantian bulan hanya tinggal menghitung hari, sementara restoran tempatku bekerja tidak memberikan pesangon sepeser-pun dengan alasan masa kerjaku yang belum genap satu bulan. Hanya amplop cokelat berisi uang satu juta rupiah yang kudapat sebagai imbalan kerja kerasku selama tiga minggu ini.

Beban uang sewa kontrakan sudah di depan mata. Demikian juga dengan hutangku pada seorang teman sebesar tiga ratus ribu rupiah, di mana aku berjanji akan kulunasi saat awal bulan nanti. Memikirkan semua itu, setitik air mata meluncur tanpa bisa kucegah.

Aku mulai berpikir.

Haruskah aku mengubah pendirianku untuk tetap suci?

Seorang sahabat pernah menawariku untuk menjual keperawanan beberapa hari setelah ibuku tiada. Saat itu ada seorang pria kenalannya yang sangat tertarik dengan kemolekan tubuhku. Sahabatku memang akrab dengan dunia malam, atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa ia menggantungkan hidup di sana.

Tapi, aku menolak tawaran itu dengan halus.

“Sory, gue belom siap untuk itu…” jawabku padanya.

‘Sory Nay… gue ngak bermaksud menilai lu sebagai cewek murahan kayak gue’ ucapnya melalui telepon kala itu. Suaranya sedikit gundah. Aku mengerti maksudnya dengan baik, ia hanya ingin menolong. Tapi mahkota berkilau ini tak mungkin kuberikan begitu saja. Ini adalah kado spesial yang akan kupersembahkan bagi seorang pria yang kelak akan mendampingiku seumur hidup.

Itu adalah telepon terakhir yang kuterima darinya, sejak saat itu ia tak lagi menghubungiku.

Mungkinkah ia marah? Aku tak tahu pasti. Yang jelas, sahabatku itu bukanlah orang yang gampang tersinggung.

Hubunganku dengannya sangatlah dekat, kami sudah seperti saudara kandung.

Ya… aku tahu seperti apa gemerlap dunia malam. Dibandingkan sahabatku itu, aku tidak kalah cantik.

Jika hanya nominal beberapa juta, mungkin aku akan mendapatkannya dengan mudah dalam satu malam. Tapi inilah aku. Saat itu aku hanya seorang remaja naif yang menjunjung tinggi sebuah kesucian. Bermimpi dan berangan, bahwa kehidupan akan selalu berjalan baik.

Biar saja orang berkata apa… Mereka tidak tahu aku siapa…

Karena memang hanya batin ini yang tahu mengapa…

Walau langkah ini tidak tahu harus kemana…

Setidaknya aku percaya, takdir akan memberitahuku harus bagaimana…

~***~

“Ehh nak Naya sudah pulang… Tumben pulangnya cepat?” sapa seorang wanita paruh baya yang kala itu terlihat sedang membawa beberapa bungkus mie instan. Wanita itu bernama Bu Shinta, tetangga yang bersebelahan kamar kontrakan denganku.

“Iya bu… hari ini aku ngak enak badan…” aku berusaha berbohong.

Betapa menyedihkan keadaanku saat ini, tak mempunyai pekerjaan, tak mempunyai uang tabungan, segalanya seperti hancur hingga tak bersisa bahkan serpihannya sekalipun.

Aku mengeluarkan kunci kamar dengan gantungan berbentuk figur hello kitty dari kantung jaketku. Kumasukkan anak kunci itu ke dalam lubang sempit yang terbuat dari logam, dan kuputar beberapa kali hingga pintu dapat kubuka.

Hal pertama yang terpikirkan olehku adalah mandi. Ya, dengan membersihkan diri kuharap bisa membasuh kesialan yang hinggap hari ini.

Aku berjalan menuju bilik kamar mandi di sudut ruangan.

Bak mandi di sana telah kosong. Kebocoran pada lubang pembuangan telah menguras air di dalamnya perlahan hingga habis. Kuputar keran air plastik berwarna hijau yang berada di sisi atas bak mandi untuk mengisi kembali air yang akan kugunakan.

“Cuuurrrr………..” suara air mengucur bergema di dalam kamar mandi berlumut yang berada di dalam bilik kamar kontrakanku. Keringat dan peluh sudah memaksaku untuk segera melepas busana yang kukenakan.

‘Apa iya aku cantik?’ tanyaku pada diri sendiri.

Satu persatu, busana yang membalut tubuhku mulai kutanggalkan. Kaus berwarna krem kulemparkan ke atas ranjang bersama dengan celana Jeans belel yang kurobek di bagian lutut dan paha sejak aku membelinya.

Aku memutar badanku sejenak, sambil melirik ke arah cermin.

Bayangan tubuh semampai dengan tinggi 168 sentimeter terpantul di sana. Memperlihatkan pada mataku betapa indah lekuk tubuh ini. Kulitku yang kuning langsat kini tertimpa cahaya lampu neon yang setia bertengger di bawah plafon kamar itu. Jika boleh sedikit narsis, aku akan dengan percaya diri mengatakan bahwa wajahku cukup cantik dengan rambut hitam lurus tergerai sebatas bahu

‘Mmhh… iya juga ya. tubuhku ideal ternyata’ komentarku pada bayangan tubuh tanpa lemak yang terpantul di cermin.

Aku meraih kedua payudaraku dengan tangan, mengangkatnya sejenak sebelum meremas dua gundukan daging lembut berbalut bra 36C yang kukenakan. Dengan cekatan aku melepas dan melemparkan bra berwarna putih yang menyangga payudaraku ke atas ranjang.

Kenyal namun padat. Itulah kesan yang tertangkap pada indera peraba saat aku meremas pelan bukit kembar yang menghiasi dadaku.

Aku memandang sejenak, mencoba meresapi keindahan lekuk tubuhku, perutku yang rata, ukuran payudaraku, dan warna puting susuku yang kemerahan.

Tanpa kusadari puting susuku mulai mengeras.

Aku meraih keduanya dengan jari, lalu memilinnya perlahan.

Lecutan rangsangan pada syarafku membuat kelopak mata ini terpejam.

‘Mmmhh….. Mereka di luar sana pasti ingin mengecup dan menghisapnya’ fantasiku mulai terbang entah kemana.

Aku semakin larut dalam khayalanku sendiri.

Membayangkan betapa mudahnya aku menuai lembaran rupiah dengan menjajakan tubuh suci ini.

‘Ummmmhhh….. nikmati tubuhku wahai para pria…’ gumamku dalam hati.

Kini perhatianku teralih pada celana dalam berenda sedikit transparan yang masih kukenakan. Menerawang sejenak, dapat kulihat siluet hitam dibaliknya.

Aku membungkukkan badan, meraih kedua sisi celana dalam yang melekat pada pinggangku, dan menariknya ke bawah hingga mata sebatas lutut. Tenunan yang membalut segitiga erotis itu jatuh hingga mata kaki. Dengan menginjak celana dalam itu menggunakan sebelah telapak kaki, aku melepaskan lalu membiarkannya berada di lantai.

Bulu kemaluanku yang tipis kini bercengkerama bebas dengan udara kamar yang pengap.

Sedikit keringat yang menempel di sana sama sekali tak mengubah aroma daerah kewanitaanku menjadi tidak sedap.

Seraya tetap memandang ke arah cermin, aku menyibak lipatan vaginaku dengan dua jari, lalu mulai menggigit bibirku sendiri seraya menikmati sensasi yang kurasakan.

Di sana, sebuah liang surgawi seorang gadis masih tersegel oleh selaput dara yang menjadi bukti bahwa aku masih seorang wanita suci.

‘Kalian menginginkan ini? Mmmhhhh?’ batinku.

“Craaazzz….crakk…crakkk…”

Suara itu membuatku menoleh.

Khayalan yang melayang di sekitar kepalaku buyar saat aku mendengar suara air yang meluap keluar dari bak mandi. Rupanya, bak mandi di dalam sana sudah penuh.

Aku segera meraih handuk berwarna biru yang menggantung para seutas tali yang kuikatkan pada tembok dan berjalan melenggak-lenggok bak seorang model menuju kamar mandi dengan tubuh yang tak berbusana. Kamar mandi memang tempat paling pribadi yang kuketahui. Di sana aku bebas melakukan hal-hal yang hanya terbayang dalam khayalanku.

“Byuurrr……. byurr………”

Air dingin yang membasahi tubuhku sedikit meredakan gundah. Membawa segala kepedihan mengalir menuju sebuah lubang yang tersemat di lantai kamar mandi.

Kuputar keran air itu ke arah kanan untuk menghentikan aliran airnya, setelah itu aku menyibukkan diri dengan sebatang sabun beraroma mawar.

Selagi bersenandung dalam gundah, aku mengusapkan sabun itu ke seluruh tubuh.

Aroma mawar kini merebak pada ruangan kecil berlumut yang berukuran 1.5 x 1.5 meter.

Tubuhku yang licin membuat jemariku meluncur dengan mudah saat mengusapnya.

‘Mmmhhhhh……’ aku menggumam dalam hati saat sentuhan-sentuhan tanganku merayap di atas kedua payudara ini. Putingku yang mengeras semakin menantang jemari ini untuk memilinnya.

“Sssshhhh..mmmhh….” aku mendesis nikmat. Dalam khayalku, aku membayangkan ada seorang pria yang sedang mengulum kedua putingku.

Pikiranku yang teramat gundah semakin mendorong niatku untuk bermasturbasi.

Dengan sebelah telapak tangan yang kurentangkan, aku menyentuh kedua putingku dengan jari tengah dan ibu jari lalu mulai menggetarkan kedua puting susuku.

Sementara itu, tanganku yang lain mulai meraba daerah selangkangan, menyibak lipatan vagina dan memainkan klitorisku dengan jari tengah. Badai rangsangan yang kulancarkan membuat mataku memejam erat. Seluruh otot yang merekatkan tubuh ini bergetar, bagai diterpa gelombang maha dahsyat yang datang bertubi-tubi.

“Mmmhh…. aahh…..”

Dalam pandangan mata terpejam, bayangan pria tampan di restoran sore tadi kembali hinggap dalam khayalan.

‘Kau suka ini sayang…..mmmhhhhhhh………….’ aku kembali meracau dalam hati.

Jari tengahku yang bercengkerama dengan klitoris di bawah sana kugerakkan dengan cepat.

Pikiran jahat mulai merasuki kepalaku. Ingin sekali aku membalaskan dendam kepada kekasihnya yang telah meninggalkan rona merah di pipiku. Kupikir tak akan sulit, pria itu laksana seekor kucing yang selalu mendelikkan mata saat ia melihat seekor ikan. Terlebih jika sang ikan menggodanya dengan berkata ’aku lezat…’.

“Mmh…ahh..ahh….”

Melakukan masturbasi sungguh nikmat, setelah bertahun-tahun melakukan hal ini, aku mulai terobsesi untuk melepaskan keperawananku. Aku ingin merasakan penis menancap di sana, mengisi rongga kenikmatan ini hingga penuh sesak oleh batang kejantanan pria tampan itu.

“Aaahhhh….aahhh……” racauanku semakin menjadi-jadi.

“Kau lihat wanita tak tahu diri….. kekasihmu sedang menikmati tubuhku….aaaakkkhhh”

Nikmat sekali sensasi yang kurasakan saat ini, untuk pertama kalinya kuberanikan diri untuk menusuk liang vaginaku dengan jari.

“Aauuuww….” aku memekik tertahan. Mataku yang terpejam erat seketika terbelalak.

Sepertinya jemariku menyentuh selaput dara saat masuk beberapa sentimeter ke dalam.

Aku segera menariknya kembali. Aku tak ingin kehilangan keperawanan tanpa mendapatkan apa-apa selain kepuasan. Pada saatnya nanti, aku akan menjual keperawananku dengan harga tinggi.

“Aaaaakkkkhhhhh……” aku melenguh panjang.

Harus kuterima kenyataan, bahwa aku harus puas mendapat orgasme ringan dengan mencumbui klitorisku sendiri.

Malam semakin larut, aku tak ingin berlama-lama kedinginan di sini.

Segera kubasuh sisa-sisa sabun yang hampir mengering, lalu melilitkan handuk dan keluar dari kamar mandi.


[Cerita Dewasa] Friend Or Fiend, Porn, Cerita Sex 18+, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Dewasa, Cerita Sek, Cerita xxx, Cerita 18+, Cerita ngesex

seksualitas

Komentar