Anak Penjual Papan

Masukkan nama dan alamat email anda untuk dapatkan informasi terbaru tentang artseks dan cerita dewasa secara langsung di email.

Cerita Seks Liah Anak Penjual Papan – Sewaktu aku masih duduk di SMTP di Kota Kecamatanku, selain bertugas mengurus kerbau sehari-hari, aku juga seringkali membantu orangtua dalam menanggulangi keperluan hidup keluarga, seperti bertani, berkebun dan ikut dagang. Bertani dan berkebun sudah menjadi pekerjaan pokok bagi kami sekeluarga, namun berdagang merupakan pekerjaan tambahan yang aku coba geluti saat kecilku yakni ikut-ikut sama Om dan sepupuku yang kebetulan mereka berprofesi selaku pedagang papan.


Waktu itu, aku bersama Om dan sepupuku setiap hari Sabtu Pagi berangkat menunggangi kuda menuju suatu daerah pegunungan pada salah satu daerah kecamatan yang bertetangga dengan wilayah kecamatanku. Kami rata-rata harus menempuh perjalanan sehari penuh baru tiba di daerah pegunungan tersebut untuk membeli papan lalu kami jual kembali ke kampungku dan ke kampung-kampung lain yang membutuhkannya. Karena jarak antara kampung kami dengan tempat produksi papan itu cukup jauh, maka tidak heran jika setiap kami berangkat mesti bermalam di daerah tersebut. Tapi karena sudah menjadi langganan kami sejak lama, maka kami bersama rombongan cukup akrab dengan para penjual papan, termasuk keluarganya.

Suatu hari, tepatnya Minggu pagi, seperti biasanya, kami berangkat ke hutan lewat beberapa gunung bersama penjual papan guna memilih dan memikul papan-papan yang hendak kami bawa pulang dan mengumpulkannya di pinggir jalan yang memudahkan bagi kuda mengangkutnya. Namun, tiba-tiba aku merasa malas jalan menelusuri bukit dan hutan. Apalagi di daerah itu hawanya sangat dingin sampai-sampai aku jarang mandi di daerah itu, karena hampiar seharian penuh terasa dingin. Aku cari alasan agar aku bisa diizinkan pulang ke rumah.

Anak Penjual Papan“Anis, kenapa kamu berhenti” tanya Omku ketika aku mendadak jongkok sambil memijit perut.

“Aduh, sakit sekali Om, aahh, perutku terasa tertusuk jarum,” alasanku sambil mengurut-urut perutku.

Untung Om dan sepupuku tidak terlalu memeriksa kondisi perutku, sehingga mereka tidak terlalu curiga jika sikapku itu hanya alasan semata agar aku tidak dipaksa memikul papan.

  Meniduri Istri Orang

“Kalau begitu, biar kamu diantar saja sepupumu pulang ke rumah, nanti ia menyusul. Lagi pula khan ada Liah yang menemanimu di rumah,” kata penjual papan itu dan menyinggung nama anak satu-satunya perempuan yang tinggal jaga rumah sambil masak.


“Tak usah diantar pulang, biar aku sendiri ke rumah, khan masih dekat” kataku menolak diantar karena memang sakit perutku hanya alasan.

Sesampainya aku di rumah penjual papan itu, aku langsung ke tempat tidur yang memang selalu kami tempati tidur bersama rombongan. Setelah Liah keluar, nampaknya ia sedikit kaget melihatku berbaring dalam keadaan terbungkus sarung di seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala karena cuacanya masih sangat dingin.

“Kok tidak ikut ke lokasi ambil papan kak?” tanya Liah padaku penuh kehati-hatian sambil mendekatiku.

“Ak.. aku sakit peruut dik.. Jadi aku disuruh pulang istirahat” jawabku dengan suara seperti layaknya orang sakit.

“Sakit sekali kak, perlu obat..?” tanya Liah seolah menghawatirkanku.

“Iyah.., apa ada minyak sumbawanya dik?” jawabku lagi.


“Ada kak, tapi bagus jika pakai minyak Etin, kebetulan Mamaku jika sakit perut, ia biasa meminum minyak Etin, lalu menggosokkan sedikit ke bagian perutnya yang sakit,” kata Liah serius.

Ia nampak berlari masuk ke kamar orangtuanya yang terletak di bagian dalam rumah itu. Tak lama kemudian, LiaHPun muncul di samping tempat tidurku sambil berdiri memegang sebotol minyak Etin dengan segelas air putih, lalu menjulurkan padaku.

“Ini Kak minyak Etinnya. Silahkan diminum sedikit, lalu sapukan juga sebagian ke bagian perutmu yang sakit,” katanya dengan suara lembut.

“Terima kasih dik, kamu baik sekali padaku. Untung saja kamu ada di rumah, jika tidak, tentu aku kesulitan cari obat,” kataku merayunya.

“Mamamu kemana dik? Kok tidak kelihatan,” tanyaku pura-pura meskipun sejak subuh tadi aku lihat Mamanya

Liah berangkat ke pasar dengan jalan kaki bersama tetangganya sambil menjunjung gula merah untuk dijualnya.

“Ia ke pasar sejak tadi subuh kak. Maklum pasarnya agak jauh dari sini, sehingga ia terpaksa cepat-cepat berangkatnya untuk jualan gula merah”.

  [Cerita Dewasa] Cinta Tak Pernah memihak - Part 6 (Terbentuknya Sebuah Perasaan)

Kami memang sempat terlibat dalam perbincangan setelah aku meminum dan menggosokkan ke perutku obat yang diberikannya itu. Liah adalah gadis yang kuyakini masih perawan desa karena jarang bergaul di luar rumah, bahkan belum pernah kulihat jalan sama lelaki. Tubuhnya agak langsing, warna kulitnya putih bersih dan mulus karena jarang kena sinar matahari apalagi cuacanya sangat dingin, sehingga keadaan gadisnya mungkin tak jauh beda dengan gadis-gadis Bandung yang konon umumnya cantik-cantik. Liah masih terus berdiri di samping tempat tidurku itu sambil menjawab seluruh pertanyaan basa basiku. Kadang kami bertatapan muka sambil melempar senyum. Kami sering saling memandangi tubuh masing-masing.

Sedikit demi sedikit jantungku mulai berdebar pertanda ada sesuatu yang muncul dan tidak biasa terpikir. Entah apa hal seperti itu juga dialami Liah, tapi aku mulai merasakannya dan memikirkannya. aku diam sejenak memikirkan alasan apa lagi yang harus kutunjukkan sehingga jantungku bisa tenang dan tanda tanya hatiku bisa terjawab.

“Aduh.. Aahh.. Iihh.. Kambuh lagi sakit perutku Liah, tolong aku dik..” sikapku pura-pura kesakitan agar Liah mau menyentuh tubuhku, karena aku mulai merasakan ada gejolak birahi atau cinta dari lubuk hatiku.

“Ada apa kak, apanya yang sakit,” tanya Liah seolah bingung melihatku. Ia seolah jalan di tempat antara mau maju mendekatiku dengan mau lari cari bantuan orang lain atau mungkin cari obat yang lain. Entah apa..

“Toolongngng Dik Liah.. Bantu aakuu.. Ssaakiit sekalii..” teriakku sedikit teriak seolah kesakitan.

“Mau dibantu bagaimana kak? Aku harus berbuat apa kak..?” tanya Liah kebingungan dan ingin sekali menolongku tapi ia nampaknya ragu juga menyentuh tubuhku, apalagi memegangi perutku yang sedikit terbuka.

“Tolong disapukan ini ke perutku Liah. aku sakit sekali,” jeritku sedikit tertahan sambil menyerahkan minyak Etin itu ke Liah.

LiaHPun meraih dengan cepatnya, lalu tanpa pikir dan ragu lagi, ia langsung menyentuh perutku yang masih terbungkus sarung, sehingga sarungku jadi basah akibat minyak Etin. Mungkin ia tidak sadar kalau perutku dilapisi kain sarung atau takut menyentuh langsung karena tidak biasa. Tangan kananku langsung memegang tangan kanannya lalu tangan kiriku menyingkap sarungku ke atas hingga ke dadaku. Terbukalah sedikit perutku, namun Liah nampak malu memandanginya, tapi aku menuntun tangannya yang sudah diolesi minyak Etin ke perutku. artseks.com

Terasa agak gemetar menyentuh kulit perutku, tapi ia tidak menolak merabanya, malah sedikit mulai bergerak menyapukan tangannya itu. Liah tetap saja menoleh ke arah lain, tapi lagi-lagi aku minta agar ia menumpahkan semua minyak Etin itu ke atas perutku. Akhirnya ia terpaksa melihatnya dan mulai menggosoknya.
Sungguh hangat, lembut dan nikmat sekali sentuhan telapak tangan Liah di perutku. Meskipun agak malu-malu, tapi ia tetap menolongku dengan menggosok-gosok terus perutku, lalu aku berkata pelan sekali.

  Adikku Dan Teman-temannya

“Liah, kamu tidak keberatan khan bila kamu terpaksa menyentuh kulitku?”

“Ti.. Tidak kak, sebab Kak khan sakit. Lagi pula aku hanya menolong kak”

“Jadi kamu tidak jijik dan tidak takut padaku Liah?” tanyaku singkat

“Kenapa jijik dan takut kak. Kita khan sudah seperti keluarga. Lagi pula siapa lagi yang mau menolong Kak kalau bukan saya” jawabnya seolah lebih berani dan sudah tidak malu serta tidak gemetar lagi.

“Aku betul-betul beruntung hari ini. aku ditemani oleh seorang gadis cantik yang setia menolongku di kala sakit. Mungkin inilah hikmah dari sakit perutku,” ocehanku merayu Liah yang sedang memegangi terus perutku walaupun tak ada rasa sakit sedikitpun, melainkan hanya rasa rindu, nafsu birahi dan kenikmatan semata yang kurasakan.

“Ih.. Kak Anis.. Gombal ni yeah..” ucapnya sambil memutar sedikit perutku seolah ia mencubitnya.

“Sudah berhenti rasa sakitnya kak?” tanya Liah sambil menarik tangannya

“Masih sedikit sakit dik.. Jangan dihentikan dulu yach.. Nanti tambah sakit lagi. Biar lama-lama kunikmati sentuhan tanganmu yang lembut ini. Lagi pula khan Mama dan papamu masih lama pulangnya” kataku sambil meminta agar Liah tetap menempelkan tangan mulusnya di perutku.

Lanjut ke halaman berikutnya…

Table of contents:
seksualitas

Komentar